Sosialisasi Pitter L Berger


Resume Sosialisasi menurut Pitter L Berger

 Wakhidatus Zahro’un Nihlah

          Sosialisasi menurut tokoh Pitter L Berger, adalah suatu proses yang ada pada seorang anak yang sedang belajar menjadi anggota masyarakat. Yang berkaitan dengan sosialisasi ini mempelajari tentang sebuah peranan pola hidup dalam masyarakat yang sesuai dengan norma-norma, nilai-nilai dan kebiasaan yang berlaku dalam lingkungan masyarakat. Sosialisasi yang dilakukan dapat membantu mewujudkan proses belajar yang dilakukan seorang anak dalam menyesuaikan diri di lingkungan masyarakat. Proses sosialisasi yang dilakukan dapat berjalan dengan menggunakan proses sosialisasi yang bertahap dan sejalan dengan perkembangan pergaulan dalam kehidupan manusia, yaitu dari tahap anak-anak, remaja, dewasa, dan tua atau lanjut usia.

          Sosialisasi dapat menumbuhkan rasa keseimbangan pada manusia yang selaras dan sejalan dalam menjalani kehidupan dengan masyarakat disekitarnya. Seorang anak yang berhasil melakukan sosialisasi dapat dilihat dari kemampuan anak tersebut dalam memenuhi kebutuhannya sendiri dan juga kemampuan anak tersebut dalam memperhatikan kepentingan orang lain disekitarnya. Proses sosialisasi ini dapat diwujudkan dalam tahap-tahap sebagai berikut, yang dimulai dari yang paling dasar yaitu keluarga, teman, lingkungan sekolah, media massa, dan lingkungan masyarakat. 

          Sosialisasi dalam masyarakat memiliki tahapan sosialisasi antara lain. Pelaziman atau (conditioning) yaitu sebuah sosialisasi yang sebagian besar perilaku dari anak diperoleh dari cara pelaziman. Seorang anak yang mempertahankan suatu hal dengan perilaku yang mendapatkan imbalan atau manfaat. Sebaliknya, perilaku seorang anak akan berhenti apabila suatu hal atau perilaku yang dilakukan mendapat hukuman dan masalah. Dalam tahap pelaziman ini yang paling penting adalah sebuah peranan dari orang tua karena sebagian besar dari tahap pelaziman diperoleh seorang anak dari perilaku yang positif. Apabila orang tuanya yang mengajarkan perilaku-perilaku yang baik terhadap anaknya otomatis dengan perlahan seorang anak tersebut akan menirukan perilaku yang dilihat dan diajarkan dari orang tuanya.

          Seorang anak sering mengikuti atau bahkan menirukan seorang yang dilihatnya yang disebut dengan istilah Identifikasi. Identifikasi adalah sebuah proses yang dilakukan dalam peniruan terhadap sesuatu secara mendalam. Ketika seorang anak menirukan sesuatu maka anak tersebut akan menirukannya dari aspek yang paling luar sampai sama persis dengan suatu yang ditiru tersebut. Kepribadian pada seorang anak merupakan sebuah keseluruhan dari perilaku individu seseorang dengan cara tertentu dalam berhubungan dengan orang disekitarnya, karena setiap orang memiliki cara dan perilaku yang khusus dan khas dalam berinteraksi dengan orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat semua bersosialisasi dengan kepribadian masing-masing. Adanya kepribadian setiap orang karena semua individu dalam masyarakat berada dalam lingkungan yang sama dan sama-sama melakukan proses sosialisasi. Kepribadian setiap orang terbentuk dari hasil sosialisasi dalam diri setiap individu dan sosialisasi dari masyarakat disekitarnya.

          Dilihat dari jenis sosialisasi terdapat jenis-jenis sosialisasi menurut Pitter L Berger dan Luckman yang menyebutkan ada dua jenis sosialisasi yaitu pertama, sosialisasi primer adalah suatu proses sosialisasi yang dilakukan individu mulai dari masa kecil dengan cara belajar untuk menjadi anggota masyarakat atau keluarga. Sosialisasi primer ini terjadi pada masa kanak-kanak. Kedua, sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi yang dilakukan secara lanjutan dari sosialisasi primer yang memperkenalkan individu kedalam kelompok tertentu yang ada di masyarakat. Kedua proses sosialisasi ini berlangsung dalam institusi yang tepat seperti, tempat tinggal dan tempat kerja. Dalam kedua institusi tersebut terdapat beberapa individu yang sedang dalam kondisi dan situasi yang sama dalam waktu tertentu, dan bersama-sama dalam menjalani sebuah proses kehidupan yang ada di masyarakat.

          Sosialisasi dalam kehidupan masyarakat dapat terjadi apabila memenuhi beberapa persyaratan sosialisasi sebagai berikut. Pertama, memberikan dasar atau kondisi setiap individu untuk terciptanya partisipasi yang efektif dalam lingkungan masyarakat. Kedua, memungkinkan kelestarian suatu masyarakat karena tanpa sosialisasi akan hanya ada satu generasi sehingga kelestarian masyarakat akan sangat berkurang dan terganggu. Dengan ini dapat terwujud suatu sosialisasi dalam kehidupan masyarakat yang selalu berpartisipasi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan menciptakan generasi untuk kelestarian kehidupan selanjutnya.

          Selain itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya sosialisasi dalam kehidupan masyarakat adalah faktor lingkungan yang didalamnya terdapat interaksi sosial. Selain faktor lingkungan ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi terjadinya sosialisasi sebagai berikut. Pertama, apa yang disosialisasikan, merupakan suatu bentuk informasi yang akan diberikan kepada semua masyarakat yang berupa nilai-nilai, norma-norma, dan peran dalam kehidupan masyarakat. Kedua, bagaimana cara mensosialisasikan, sebuah cara yang melibatkan proses pembelajaran. Ketiga, siapa yang mensosialisasikan, sebuah institusi, media massa, individu dan kelompok yang akan mensosialisasikannya.

          Keberhasilan sosialisasi tidak lepas dari agen sosialisasi sebagai peran utama dalam menciptakan dan menumbuhkan nilai-nilai dan norma-norma yang terdapat pada sosialisasi. Keberhasilan ini dapat ditentukan oleh mekanisme yang terencana dalam sebuah proses sosialisasi yang baik. Apabila proses sosialisasi yang dilakukan secara tersusun maka penyebaran informasi mengenai sosialisasi dapat dengan tepat disampaikan kepada sasaran sosialisasi. Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang yang melaksanakan atau melakukan sebuah sosialisasi. Agen sosialisasi yang utama berawal dari keluarga, kelompok atau teman bermain, media massa, dan lembaga pendidikan disekolah, lingkungan kerja.

          Beberapa agen sosialisasi sebagai berikut. Pertama, keluarga, sejak awal manusia mengalami proses sosialisasi dalam keluarga tempat dia dilahirkan. Keluarga sebagai kesatuan yang utuh terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak yang merupakan sebuah kelompok terkecil dalam masyarakat. Namun peran keluarga dalam proses sosialisasi sangat penting, sebagai kelompok sosial keluarga memiliki nilai-nilai dan norma-norma tertentu yang akan diajarkan kepada anaknya. Keluarga sebagai media utama dalam menciptakan sosialisasi memiliki banyak peran antara lain, melatih penguasaan diri dalam jati diri anak, pemahaman mengenai nilai-nilai dan norma-norma yang harus diketahui anak, serta melatih anak dalam sebuah peran sosial dalam kehidupan masyarakat.

          Agen sosialisasi yang kedua, teman bermain atau teman sebaya, teman bermain terdiri dari beberapa anak yang memiliki usia yang hampir sama. Mereka sering melakukan interaksi antara satu teman dengan teman lainnya melalui kegiatan bermain bersama. Interaksi yang dilakukan dengan teman sepermainan untuk mendapatkan kesenangan. Dalam bermain bersama teman disitulah mulai menerapkan prinsip hidup bersama diluar lingkungan keluarga. Mereka dapat berkerja sama dengan teman sebaya dalam berbagai aktivitas bermain. Hubungan antar individu dalam kelompok teman sepermainan sangat kuat, sehingga lahirlah nilai dan norma tertentu yang dijunjung tinggi dalam pergaulan mereka.

          Agen sosialisasi yang ketiga, media massa, yang dapat dimanfaatkan oleh banyak orang (massa). Ada dua macam media massa yaitu media cetak, seperti buku, majalah, surat kabar, dan sebagainya. Media elektronik, peralatan yang menggunakan sumber daya listrik untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat umum. Misalnya, radio, televisi, dan internet. Semua jenis media massa tidak hanya untuk mengajari masyarakat, akan tetapi siaran berita, film, iklan, pertunjukan seni budaya, sampai informasi lainnya juga memiliki dampak yang besar terhadap perilaku masyarakat. Dengan ini penting sekali dalam masyarakat dalam memilih dan menjalankan apa yang seharusnya dilakukan dan jangan mudah terbawa arus informasi yang belum jelas kebenarannya.

          Selanjutnya agen sosialisasi yang keempat, pendidikan di lingkungan sekolah, sekolah yang merupakan lembaga penting dalam sosialisasi memiliki fungsi dan peran sebagai berikut. Sekolah mengajarkan peranan sosial kepada semua Peserta didiknya, sekolah menjadi media transmisi kebudayaan, sekolah melahirkan suatu hal yang bersifat positif untuk semua peserta didik, dan sekolah membentuk kepribadian kepada semua peserta didiknya. Proses sosialisasi pengetahuan dan keterampilan merupakan program yang nyata dalam kurikulum di sekolah, sedangkan nilai dan norma merupakan kurikulum yang tersembunyi. Tetapi pelaksanaannya terintergrasi dalam semua proses pembelajaran dan kegiatan yang ada di lingkungan sekolah.

          Agen sosialisasi yang terakhir lingkungan kerja, sosialisasi yang dilakukan dalam lingkungan kerja diharapkan dalam fokus utama untuk mencapai kesuksesan dan keunggulan dalam bidang pekerjaan. Hubungan antar pekerja satu dengan lainnya membuktikan adanya adaptasi dalam proses sosialisasi di lingkungan kerja. Sosialisasi ini dilakukan sesuai dengan tuntunan dari aturan dan kebiasaan yang berlaku dalam lingkungan kerja.

          Materi sosialisasi merupakan sebuah isi yang akan disampaikan kepada sasaran sosialisasi. Pada dasarnya, materi sosialisasi yang akan diberikan harus sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Nilai adalah sebuah prinsip etika yang dipatuhi dan dilaksanakan oleh masyarakat. Sedangkan norma adalah sebuah perintah atau larangan yang digunakan masyarakat sebagai petunjuk dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu sebuah materi sosialisasi yang akan diberikan harus sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang ada di kehidupan masyarakat.

          Selain itu materi sosialisasi harus mengandung peran. Peran sebagai perangkat harapan dan tuntunan kepada seorang individu untuk mewujudkan suatu perilaku tertentu karena individu tersebut menduduki status sosial tertentu jadi, peran materi sosialisasi harus mengandung peran yang berupa pengetahuan. Pengetahuan dapat mendahului pembentukan nilai-nilai dan sikap dan juga perilaku. Pengetahuan sebagai pendukung untuk nilai khusus atau sikap setelah nilai dan sikap itu terbentuk. Sikap yang berkaitan dengan nilai-nilai dalam makna kepercayaan individu mendapatkan peran yang penting dalam menentukan reaksi khusus terhadap pembentukan sikap atau pendapat yang khusus. Akan tetapi sikap-sikap yang dapat mendahului nilai-nilai khusus yang berlangsung dalam dasar sosialisasi.

          Subjek atau sasaran sosialisasi adalah masyarakat. Agen sosialisasi memiliki tujuan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma yang terdapat dalam materi sosialisasi yang akan diberikan pada masyarakat. Agen sosialisasi dalam masyarakat diharapkan dapat mewujudkan cita-cita bersama dalam kehidupan masyarakat. Peran sosialisasi dalam kehidupan masyarakat sudah tampak nyata dan jelas, dalam kehidupan masyarakat senantiasa harus memperkuat tradisi masyarakat, menetapkan struktur dan terapan dalam kehidupan sehari-hari. Sosialisasi sebagai bagian yang penting dari kegiatan mempelajari peranan yang ada di lingkungan masyarakat. Proses sosialisasi dengan sendirinya akan memberikan pelajaran yang positif terhadap kelompok masyarakat mengenai hubungan interaksi antar kelompok masyarakat disekitar.

          Tahap-tahap terjadinya sosialisasi dalam kehidupan masyarakat meliputi beberapa tahapan sebagai berikut. Pertama tahap persiapan (preparatory stage), tahap persiapan merupakan tahap pemahaman tentang diri sendiri yang terjadi pada saat masa kanak-kanak. Pada tahap ini anak-anak mulai melakukan tindakan meniru meskipun secara tidak sama persis atau sempurna. Kedua tahap meniru (play stage), tahap meniru merupakan tahap sosialisasi yang dilakukan untuk menirukan perilaku orang dewasa secara lebih sempurna. Pada tahap ini seorang anak sudah mampu memahami suatu peran dan menyadari keberadaan dirinya bagi orang-orang yang ada disekitarnya. Yang ketiga tahap siap bertindak (game stage), pada tahap ini seorang anak mulai memahami peran dirinya dalam sebuah keluarga dan perannya dalam masyarakat, seorang anak juga menyadari peraturan yang berlaku dalam kehidupan. Yang terakhir tahap penerimaan norma kolektif (generalized other), pada tahap ini seorang anak sudah mencapai proses menuju kedewasaan dan akan mengetahui kehidupan yang ada dalam lingkungan masyarakat dengan jelas dan menyadari perannya dalam kehidupan masyarakat.

          Dalam kehidupan masyarakat sosialisasi yang dilakukan memiliki tujuan antara lain. Menciptakan integrasi dalam kehidupan masyarakat, mencegah terjadinya perilaku yang menyimpang, menumbuhkan nilai-nilai dan norma-norma untuk generasi penerus, membantu setiap individu dalam beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya, memberikan pengetahuan yang berkaitan dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial sehingga dapat diterapkan dan dijalankan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian adanya sosialisasi dalam kehidupan masyarakat diharapkan dapat mencapai tujuan yang diinginkan dapat memberikan kerukunan dan kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat. Contoh dari sosialisasi dalam kehidupan masyarakat seperti, kerja bakti atau gotong royong bersama dalam membersihkan jalan dan lingkungan disekitar secara rutin, dan ronda malam yang dilakukan secara bergiliran agar keamanan di suatu lingkungan masyarakat tetap aman dan terjaga.

          Kehidupan masyarakat sehari-hari telah memberikan dan memperlihatkan kenyataan, sekaligus pengetahuan yang membimbing dan mengarahkan perilaku masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Kehidupan masyarakat sehari-hari menampilkan realitas objektif yang dilakukan oleh setiap individu atau juga memiliki makna yang subjektif. Disisi lain kehidupan sehari-hari masyarakat merupakan suatu dunia yang berasal dari pikiran individu, dan tindakan-tindakan dari setiap individu dalam kehidupan masyarakat. Pikiran dan tindakan dari setiap individu seperti kejadian yang nyata. Semua ini berkaitan dengan akal sehat setiap individu dalam kegiatan yang rutin dijalankan sehari-hari.

          Menurut Pitter L Berger masyarakat merupakan akumulasi pengalaman individu, akumulasi pengalaman individu ini bukanlah mengenai penjumlahan pengalaman setiap individu, tetapi keseluruhan yang utuh dari semua pengalaman individu. Kekhas an dari pengalaman individu angara lain sebagai berikut. Pembentukan pengalaman bersama tidak melibatkan semua pengalaman individu, tetapi sebagian dari pengalaman individu yang masih teringat jelas dalam ingatan, pengalaman bersama berpotensi menjadi objektif, akumulasi pengalaman bersama tidak lepas dari pengalaman bersama yang telah ada sebelumnya, pengalaman bersama yang awalnya dari pengalaman individu akan menjadi patokan berperilaku bagi anggota masyarakat, masyarakat juga menjadi kenyataan subjektif. Pandangan dari Pitter L Berger ini dianggap berimbang antara individu dan masyarakat. Dengan demikian sudah jelas bahwa setiap individu sangat penting dalam melakukan hubungan sosialisasi dalam kehidupan masyarakat.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendekatan Ma’na Cum Maghza

Pendidikan Generasi Muda

Pemikiran Nurcholish Madjid Terhadap Politik Indonesia