Studi Islam dalam Dinamika Global
Nama: Wakhidatus Zahro’un Nihlah
Resume Ebook Studi Islam Dalam Dinamika Global
BAB II Pertumbuhan Dan Perkembangan Studi Islam
1.)Masa Rasulullah
Tranformasi ilmu dilakukan secara lisan.
Rasul telah mengembangkan bibit pengembangan studi Islam terutama tafsir dan ushul fiqih.
2.)Masa Pasca Rasulullah
Mulai pengumpulan Al Qur’an, pada masa Khulafaur Rasyidin.
Hadits juga di tulis dan dikumpulkan dalam sebuah kitab, pada masa dinasti Abbasiyah.
Perkembangan studi Islam mencapai puncaknya pada masa Abbasiyah.
3.)Studi Islam di Dunia Barat
Kajian barat terhadap Islam memunculkan adanya orientalisme, yaitu kajian tentang ketimuran. Kajian awal yang dilakukan orientalisme yang diselenggarakan di perguruan tinggi di barat memandang umat Islam sebagai bangsa primitive.
Kajian difokuskan pada Al Qur’an dan kepribadian nabi Muhammad Saw secara ilmiah yang hasilnya menyudutkan agama dan umat Islam.
Pendekatan yang digunakan oleh para orientalis bersifat lahiriah (eksternalisasi). Agama Islam hanya dipandang dari sisi luarnya saja menurut sudut pandang barat.
Pada masa selanjutnya muncul karya-karya yang mengoreksi dan merekonstruksi kajian orientalis lama, karena adanya anomali (ketidaktepatan) dalam studi Islam. Adapun tokoh-tokoh yang berperan antara lain: Louis Massingnon w, Montgomery Watt, dan Wilfried Cantwell Smith.
Islamic Studies manjadi salah satunya kajian yang dibuka di universitas barat dengan adanya sarana pendukung yang lengkap. Pendekatan yang digunakan antara lain: Filologi, Antropologi, Sejarah, Sosiologi, Psikologi dan sebagainya.
4.)Studi Islam di Indonesia
A.Masa Klasik (abad 7-15M)
Melalui kontrak informal, saluran perdagangan, perkawinan, dan tasawuf.
Para pedagang yang berasal dari Arab, Persia, dan India beberapa yang sebagiannya merupakan mubalighoh.
Materi pengajaran yang disampaikan antara lain: kalimat syahadat, rukun iman, dan rukun Islam.
Pada abad ke 13 muncul adanya pendidikan langgar dan pesantren.
B.Masa Kemerdekaan
Pada tahun 1909 muncul pendidikan madrasah yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad di Palembang.
Pada tahun 1910, Syekh Tholib Umar mendirikan sebuah madrasah schott di Batu Sangkar 1923 kemudian diganti dengan nama dini’yah school dan pada tahun 1931 diganti menjadi Al Jam’iah al Islamiah.
Pada tahun 1915, Zainuddin Labib Al-Yunusi mendirikan madrasah diniyah di Padang Pandang.
Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912, yang mendirikan HIS, sekolah guru, SD 5 tahun, dan madrasah.
Al-Irsyad berdiri di Jakarta pada tahun 1913, yang mendirikan madrasah awaliyah, madrasah ibtidaiyah, tajhizyah, muallimim, dan takhassus.
Al-Jami’ah Al-Wasliyah berdiri pada tahun 1930 di Medan, yang mendirikan madrasah tajhizyah, ibtidaiyah, tsanawiyah, qismul ali, dan takhassus.
Nahdlatul ulama yang didirikan pada tahun 1926, mendirikan madrasah awaliyah, ibtidaiyah, mu’alimin wstha, dan mu’alimin ulya.
C.Pasca Kemerdekaan
Pada tahun 1952 studi Islam pada tingkat dasar sampai menengah diseragamkan melalui pendidikan MI, MTS, dan MA.
Pada tahun 1951 didirikan perguruan tinggi agama Islam negeri (PTAIN) yang kemudian diganti menjadi institut agama Islam negeri (IAIN) pada tahun 1960.
5.)Studi Islam di Negara Muslim (Dunia Timur)
Studi Islam sekarang ini berkembang hampir keseluruh negara di dunia. Di negara Islam terdapat pusat studi keislaman seperti universitas Al-Azhar di Mesir, dan universitas ulumul Qur’an di Arab Saudi. Di taheran didirikan universitas taheran, dan di Syiria didirikan universitas Damaskus. Universitas studi Islam ini dilakukan dalam kuliyat adu syariah (fakultas syari’ah), yang didalamnya terdapat program studi ushuludin, tasawuf, dan sejenisnya.
6.)Studi Islam di Negara Barat
Secara historis, menurut Jean Jacques Waardenburg, islamic Studies pertama abad ke-20 menjadi bidang studi yang mantap dalam penelitian dan pengajaran di Eropa dan Amerika Utara. Islamic Studies dikombinasikan dengan studi tentang Arab, yang berkembang di Eropa pada abad ke-16 dan tentang studi Persi, Ottoman, dan Turki modern. Menurut Jean Jacques Waardenburg islamic Studies muncul karena faktor ideologi dan politik.
7.)Kajian Islam di Barat
Kajian keislaman tumbuh di kalangan masyarakat akademik Barat, kajian Islam mulai diminati di negara Barat sejak abad ke-19, yaitu ketika para sarjana Barat yang mulai tertarik mempelajari dunia timur, dan khususnya dunia Islam. Tentu kajian Islam pada masa itu sangat berbeda dengan masa modern zaman sekarang ini, zaman dahulu kajian keislaman di Barat lebih terfokus pada bidang filsafat dan ilmu pengetahuan. Karena yang dipelajari oleh para akademik Barat hasil dari karya-karya para filsuf dan saintis muslim.
Ada indikasi, perbedaan yang mendasar tradisi kajian Islam di dunia Timur (Islam) dan di Barat yang terletak pada cara pendekatan yang digunakan. Di negara Timur pendekatan yang digunakan lebih berorientasi pada penguasa substansi materi dan penguasaan atas khazanah keislaman klasik. Sedangkan islamic Studies di Barat, kajian nya lebih berorientasi pada Islam sebagai realitas atau fenomena sosial, yaitu Islam yang telah menyejarah, meruang, dan mewaktu. Pada masa itu Islam dipelajari hanya sebagai ilmu pengetahuan, sedangkan di era modern para akademik Barat lebih terbuka dengan cabang keilmuan yang lain. Tidak hanya terfokus pada filsafat dan sains, tetapi berkembang ke cabang-cabang ilmu keislaman seperti, Al-Qur’an, Hadist, Fiqih, dan sejarah Islam. Hal ini menunjukkan semakin meningkatnya kajian yang dilakukan dengan kajian arkeolois, antropologis, historis, dan sosiologis di Eropa.
Studi tentang keislaman di Barat yang dilakukan oleh para orientalis bermula dari pola fikir bahwa Islam adalah agama yang bisa diteliti dari berbagai sudut pandang dan kebebasan yang serupa. Studi yang mereka lakukan meliputi beberapa aspek ajaran-ajaran Islam antara lain: sejarah, hukum, teologi, qur’an, hadist, tasawuf, bahasa, politik, kebudayaan dan pemikiran. Di antara mereka tokoh Philiph K Hitti, H.A.R Gibb, dan Montgomery Watt memfokuskan kajian dalam aspek sejarah Islam. Sedangkan, Joseph Schact memfokuskan pada kajian hukum Islam, David Power terfokus pada kajian Qur’an, dan A.J Arberry pada kajian tasawuf.
8.)Model Pendekatan Kajian Islam di Barat
Dalam perjalanan dan perkembangan masyarakat Barat dalam penelitian menggunakan empat pendekatan yang digunakan dalam mengkaji tentang keislaman. Pertama, mereka menggunakan metode ilmu-ilmu yang masuk dalam kelompok humaniora (humanities), seperti filsafat, fisiologi, ilmu bahasa, dan sejarah. Kedua, mereka menggunakan metode dalam disiplin teologi, studi Bibel, dan sejarah gereja, dimana pendidikan formalnya diperoleh dari Divinity Schools. Ketiga, menggunakan metode ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, politik, dan psikologi. Mereka menggunakan metode penelitian yang bisanya dipakai dalam penelitian ilmu sosial. Yang keempat, menggunakan pendekatan yang dilakukan di jurusan-jurusan, pusat-pusat, atau commitee, untuk area studies. Area studies ini berlawanan dengan disiplin yang sudah baku, karena area studies lebih menekankan pada suatu hal yang bersifat situasional daripada teoritik.
Dalam perkembangannya, studi Islam di negara Barat dapat dikelompokkan menjadi lima macam sebagai berikut. Pertama, kajian Islam yang menyaratkan kajian intensif tentang bahasa Arab sebagai bahasa. Kedua, studi teks yang hanya dapat dilakukan berdasarkan pada pengetahuan yang erat tentang bahasa Arab dan bahasa Islam lainnya. Ketiga, keahlian yang dilakukan pada kajian teks, pada gilirannya, merupakan pra-syarat dalam kajian sejarah. Keempat, penelitian teks dan sejarah memberikan jalan bagi kajian budaya (culture) dan agama (religion) Islam. Yang kelima, kajian terhadap berbagai wilayah budaya muslim yang lebih luas dan membentuk bagian intregal dari studi Islam.
9.) Studi Islam di Negara Barat
Kajian keislaman di negara Barat sudah ada sejak abad ke-19. Pada waktu itu kajian Islam yang digunakan berbeda dengan kajian Islam pada zaman modern. Kajian keislaman negara Barat lebih terfokus pada bidang filsafat dan ilmu pengetahuan. Studi tentang keislaman di Barat bermula dari pemikiran bahwa agama dapat diteliti dari sudut berbagai sudut pandang. Studi keislaman yang mereka lakukan meliputi beberapa aspek antara lain: sejarah, hukum, teologi, Al Qur’an, Hadist, tasawuf, bahasa, politik, budaya dan pemikiran. Studi Islam di negara Barat dilakukan dibeberapa negara antara lain sebagai berikut:
KANADA, kajian Islam pertama kali di Kanada dilakukan oleh McGill university dengan tokoh utamanya Wilfried Cantwell Smith. Gagasan utama dalam kajian ini karena banyaknya konflik yang ditimbulkan karena isu agama. Di Kanada studi Islam bertujuan untuk menekuni kajian budaya atau peradaban Islam dari zaman nabi Muhammad Saw sampai masa kontemporer, untuk ajaran Islam dan masyarakat muslim di seluruh dunia.
Amerika Serikat, studi Islam pada umumnya menekankan pada studi sejarah Islam, bahasa lain selain bahasa Arab, sastra dan ilmu sosial yang ada di pusat studi Timur Tengah.
Inggris, studi Islam digabungkan dalam school of orientaland African studies (Fakultas Studi Ketimuran dan Afrika). Salah satu program studinya adalah program MA tentang masyarakat dan budaya Islam yang dapat berlanjut di jenjang doktor.
Belanda, studi Islam di Belanda sampai setelah perang dunia II, masih merupakan anggapan bahwa Islam bermusuhan dengan Kristen, dan anggapan Islam sebagai agama yang tidak di anut.
Jerman, studi Islam difokuskan pada kajian tentang bahasa, budaya, dan agama yang biasa dikenal dengan seminar orientalis. Tokoh yang berperan Theodore Noldeke, Julius Wellhausen, dan Ignaz yang masing-masing dikenal dengan penelitiannya tentang Al Qur’an.
Australia, studi Islam dilakukan oleh sebagian orang Indonesia yang bertujuan mengamalkan Islam. Kajian ini dilakukan dikalangan mahasiswa muslim Indonesia yang belajar di berbagai universitas.
10.)Perkembangan Studi Islam di Indonesia
Ada beberapa tahap perkembangan Islam di Indonesia, kedatangan Islam ke Nusantara ini memiliki cara yang bervariasi dari bergantinya waktu ke waktu. Menurut pendekatan historis antara lain sebagai berikut:
Teori Gujarat, Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 M, yang berasal dari Gujarat (Cambay) India. Pendukung dari teori ini antara lain: Pijnappel, Snouck, Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard H.M.Vlekke.
Teori Persia, Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 M, yang berasal dari Persia (Iran), pendukung teori ini adalah Umar Amir Husen dan P.A. Hessein Jayadiningrat. Misalnya adanya peringatan 10 Muharram atas wafatnya Hasan Husein ra.
Teori Arabia atau Makkah Islam datang ke Nusantara abad ke-7 M, yang berasal dari jazirah Arab dari kota Makkah atau Madinah. Pendukung teori ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W Arnold. Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 dengan keimanan orang perorang.
👍👍👍
BalasHapus