UAS Peradaban dan Pemikiran Islam
Tugas Resensi Buku
Mata Kuliah Pemikiran dan Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Bapak Dr. Ngainun Na’im, S.Ag. M.HI.
Nama : Wakhidatuz Zahro’un Nihlah
NIM : 126309201001
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
2021
Judul Buku : Sejarah Islam di Nusantara (terjemahan dari The Makings of Indonesian Islam)
Karya Pengarang : Michael Laffan
Pengantar : Prof. Azyumardi Azra, CBE.
Penerbit : Princeton University Press, 2011
Edisi : September 2015
Penerbit : PT Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2015
Tebal : 349 halaman
ISBN : 978-602-291-058-9
Perjalanan Islam ke Nusantara
Kata Pengantar
Para masyarakat Indonesia telah kehilangan seorang antropolog dan humanis Clifford Geertz yang telah meninggal pada akhir bulan Oktober tahun 2006. Gagasan-gagasan yang dikeluarkan oleh Clifford Geertz tidak pernah gagal untuk menumbuhkan dan membangkitkan rasa semangat dan gairah yang ada. Tokoh yang kedua, Christiaan Snouck Hurgronye (1857-1936), seorang orientalis Belanda. Berbeda dengan Clifford Geertz yang telah disambut dengan baik dan hangat oleh masyarakat Indonesia. Namun, Snouck Hurgronye ini dianggap sebagai penyusup yang berusaha masuk kedalam masyarakat muslim untuk memperoleh informasi mengenai rahasia rakyat Indonesia terhadap pemerintah kolonial Belanda. Oleh karena itu, ini sebab mengapa Snouck Hurgronye tidak di sambut baik oleh masyarakat Indonesia.
Buku ini bukanlah sebuah buku yang mengkritik mengenai Clifford Geertz tetapi, juga bukan sebagai pembelaan terhadap Snouck Hurgronye. Tetapi, beberapa pandangan yang telah diberikan oleh Snouck Hurgronye sebagai hal penting dalam pembentukan kajian Indonesia yang dibahas dalam buku ini. Buku ini dimaksudkan untuk mendorong atau berusaha untuk menunjukkan kontribusi Islam terhadap terbentuknya Islam Indonesia. Islam Indonesia merupakan sebuah proyek nasional yang terus menerus didefinisikan kembali oleh pemeluknya. Namun pada penjelasan yang lebih jelas, judul buku ini menunjukkan bahwa terdapat banyak proses dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Serta penjelasan pemahaman terhadap beberapa perjalanan masuknya Islam di Nusantara.
Buku ini merupakan terjemahan dari (The Makings of Indonesian Islam) karya dari Michael Laffan seorang profesor sejarah di Universitas Princeton. Pengantar dalam buku ini dituliskan oleh Prof. Azyumardi Azra, CBE, yang merupakan Guru Besar Sejarah dan Peradaban UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, guru besar tamu untuk Universitas Oxford, Universitas Harvard, dan Universitas Melbourne. Buku sejarah Islam di Nusantara ini sebuah buku yang penting dalam kontribusi pada renaisans peradaban Islam dan dunia. Buku ini penting bagi setiap orang yang ingin meneguhkan Islam Nusantara yang berkelanjutan.
Pembahasan Resensi
Bagian Satu (1), Dalam buku ini dijelaskan mengenai kepulauan Nusantara yang terbentang dari Teluk Benggala sampai ke Samudera Pasifik. Sejak awal Masehi para penguasa di kawasan barat berbagai budaya yang bercorak India dan mendapatkan banyak keuntungan dari para pedagang asing yang singgah di kawasan tersebut. Hal ini disebabkan karena Asia Tenggara berada di persimpangan dua zona perdagangan kuno yang penting. Disisi lain rute pelayaran dalam mempermudah perjalanan yang dilakukan oleh para penguasa dan para pedagang di mulai dari teluk Persia kemudian ke pelabuhan-pelabuhan di Tiongkok yang berpusat di Selat Malaka. Awal masuk orang-orang muslim yang singgah di kawasan ini. Islam sebagai agama yang terbentuk di Asia Tenggara. Hal ini disebutkan dalam laporan Marco Polo mengenai Sumatra (sekitar 1292) yang menyebutkan bahwa sebuah komunitas muslim baru yang didirikan oleh para pedagang di Moor, Perlak. Dengan bukti adanya batu nisan muslim bertarikh pertama (tahun gregorian 1297) “Malik Al Salih” sebagai penguasa didekat Samudera Pasai. Pada zaman itu islamisasi semakin mendekatkan kekuatan dari berbagai koneksi internasional yang menghubungkan Samudera Hindia dan laut Tiongkok.
Masuk nya Islam di Nusantara yang awalnya berasal dari Tiongkok menuju ke Jawa. Tiongkok tetap menjadi kunci bagi kesuksesan yang terus berlanjut di Asia Tenggara, bangsa Tiongkok dan muslim Jawa juga terlibat dengan berlayar dari berbagai bandar yang baru saja mengalami perubahan seperti Tuban dan Gresik, yang berhasil masuk ke jalur pelayaran Arab. Bandar-bandar seperti Gresik dan Tuban muncul di pesisir utara Jawa di bawah pengaruh orang-orang kuat yang sekarang dikenang sebagai para Wali, yang berasal dari kata bahasa Arab yang menyiratkan dan mengartikan kedekatan kepada Tuhan, yang disebut sebagai wali songo. Membicarakan mengenai sejarah Islam di Jawa tidak lepas dari wali songo. Sering disebut sebagai contoh kelenturan Indonesia, sebagian dari Wali Sanga telah menciptakan berbagai bentuk kesenian untuk menjelaskan Islam dalam lingkup lokal. Dalam penyampaian sebuah syiar agama Sunan Kalijaga telah melakukan syiar agama tersebut dengan menciptakan teater bayangan boneka (wayang), Sunan Drajat bersyiar dengan menggubah sebuah melodi untuk orkestra perkusi tradisional (gamelan), dan Sunan Bonang menciptakan bentuk pengajaran puitis yang dikenal sebagai suluk, sebuah Istilah yang berasal dari kata bahasa Arab yang berarti ‘perjalanan’ seseorang dalam mencari pengetahuan Ilahiah.
Pada abad ketujuh belas Aceh dipandang sebagai salah satu pandangan bagi Islam Indonesia, Terutama selama masa kesultanan Iskandar Muda yang gemar berperang. Para penguasa Aceh membagi-bagikan sumbangan kepada para Cendekiawan Islam, yang dikenal sebagai ulama (sebagian menyebutkan masih memiliki hubungan dengan bandar Pasai), yang melakukan perjalanan di kapal yang sama saat perjalanan itu. Dalam pandangan ini, pengenalan terhadap Tuhan dipertimbangkan dari yang mungkin hingga yang tidak mungkin. Pada inti yang mendalami terdapat wujud Tuhan yang tidak tertembus dan tidak terketahui. Para cendekiawan membagi tujuh tingkatan antara tiga tingkatan yang berhubungan dengan “esensi abadi” (a‘yan tsabitah) Tuhan yang Tidak berubah dan empat “esensi eksternal” (a‘yan kharijah) yang mengitarinya, yang dapat dipersepsi dan dipercayai dengan cara tertentu.
Dapat diketahui bahwa berbagai perjuangan masuknya Islam untuk menyusun sebuah sejarah langsung mengenai perpindahan agama dan Islamisasi masyarakat Indonesia yang sangat beragam sampai abad ke delapan belas. Dapat dipahami bahwasanya sebuah pemahaman mengenai beberapa Istana penting yang berperan sebagai pembela Islam (tanpa memedulikan tindakan mereka terhadap kegiatan-kegiatan kaum muslim pada masa itu).
Bagian Dua (2) dalam buku ini, Dalam mewujudkan praktik tarekat, bukanlah satu-satunya bentuk pembelajaran Islami yang sering diutamakan dari bermacam bentuk yang dapat diajarkan oleh para wali. Para wali juga dianggap sebagai pelopor berdirinya sekolah-sekolah keagamaan, yang dikenal sebagai pesantren secara harfah berarti tempat bagi santri atau para siswa keagamaan. Namun, tidak ada bukti yang mendukung bahwa pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh lembaga-lembaga semacam pesantren pada masa-masa awal penyebaran Islam, pembelajaran pesantren tidak di mana pun selain di beranda-beranda masjid yang direstui istana. Tidak adanya bukti mengenai restu kerajaan yang secara nyata membatalkan kenyataan bahwa sekolah-sekolah Islam independen sudah ada sejak abad kedelapan belas. Hanya saja, persetujuan istana Pasti sangat penting untuk mempertahankan pembelajaran tersebut.
Pada pertengahan abad kesembilan belas terdapat sejumlah kisah mengenai para penguasa Jawa, seperti Pakubuwana II dan Mangkubumi (1749–92), yang menerapkan kebiasaan lama dan menjadikan desa-desa sebagai lokasi pengajaran keagamaan seperti pembelajaran agama di masjid, pembelajaran di pesantren. salah satu sumber yang memperhatikan pesantren masa lalu adalah Serat Centhini dari abad kesembilan belas. Pada abad kesembilan belas. Dengan melihat perkembangan seperti Brunei (yang Mengembangkan minat terhadap Al-Quran Dagistan yang dihiasi gambar-gambar), sebaiknya diputuskan untuk kembali ke kurikulum pondok-pondok atau pesantren seperti pada abad kesembilan belas, yang pada masa ini pastinya sudah ada di seluruh Nusantara, dan mempertimbangkan betapa banyak murid yang belajar melalui jalur pembelajaran muslim. Saat memahami Al-Quran memiliki cara dari pendidikan Islam. Murid Jawi biasanya akan memulainya dari juz terakhir, yaitu juz ketiga puluh. Diajarkan oleh guru dan dibantu oleh teman-teman sebaya, untuk belajar cara melafalkan Al Qur’an menggunakan berbagai cara pengucapannya. Dapat diketahui bahwa pesantren dan tarekat pada awal abad kesembilan belas. Pada bagian kedua buku ini menjelaskan perjalanan islam yang mulai mengenal tarekat dan pesantren sebagai tempat pembelajarannya. Serta penjelasan perjalanan islam yang mulai memberikan keaktifan bagi yang mempelajarinya.
Bagian Tiga (3) dalam buku ini, dengan melihat keadaan pada abad ke sembilan belas meningkatnya penetrasi ekonomi negara-negara penerus Inggris dan Belanda di Nusantara semakin meningkat, dapat kita ketahui sebuah pergeseran terakhir dalam kisah islam Jawi. Islam Indonesia yang dalam beberapa proses tertentu didukung oleh ekonomi pribumi yang berkembang dengan perantara para guru independen. Salah satu contohnya adalah karena adanya perang maupun perdamaian, para guru agama independen ini mampu berjaya, terutama di tempat-tempat yang paling terhubung dengan perdagangan global. Buku ini membahas tentang hubungan yang sering dilakukan antara Sufisme tarekat dan perpindahan agama ke dalam Islam di Asia Tenggara. Setelah memasuki abad kesembilan belas, kita mulai memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai bentuk-bentuk aktivitas tarekat terpelajar tertentu sebelum status para penyokong mereka mengalami penurunan karena bawahan Eropa. Berbagai kontroversi dalam lingkup pembelajaran dan terpelajar ini menjadi sebuah percetakan muslim di seluruh Asia Tenggara. Dengan proses perjalanan ini, Islam menjadi semakin tertanam dalam ruang publik muslim.
Pembahasan dalam buku ini telah menunjukkan bahwa kita perlu mempertimbangkan sejarah panjang mengenai Islam di Nusantara dalam kaitannya dengan proses dan perjalanannya masuk ke Nusantara dalam konteks masuknya kebanyakan dari jalur perdagangan para ahli dan cendekiawan muslim terdahulu. Berbagai pandangan mengenai islam juga diketahui oleh para aktivis tertentu di Jawa. Namun, titik tempat mereka berada berbeda-beda, dan secara mendalam ini dianggap sebagai pengakuan bahwa apa yang ditemukan pertama-tama merupakan Islam yang sebenarnya.
Bagian Empat (4) dalam buku ini membahas tentang Snouck salah satu tokoh yang berpandangan tentang Islam. Snouck berpandangan dalah intervensi seorang cendekiawan skeptis yang aktif dalam berbagai cara agama berkembang di koloni-koloni yang hubungannya dengan metropolis tidak akan terputus dalam masa hidupnya. Snouck merupakan salah satu terpelajar dalam bahasa arab dan agama, dalam mengamati Islam ia selalu mengutamakan pengetahuan sebagai dasar utamanya. Snouck memberi pandangan para pembacanya sebuah gambaran yang nyata mengenai kehidupan orang Jawa seperti pondok-pondok dan pesantren.
Pada masa itu, sebagian santri telah menghilangkan sebuah ritual terdahulu, doa-doa yang diucapkan sering terdengar dalam bahasa arab dari pada bahasa Jawa. Namun dalam pertimbangan yang lebih dalam kebanyakan orang bercita-cita mengirimkan anak-anak mereka ke pondok untuk mendapatkan bimbingan dari guru sebagai orangtua pengganti. Dalam lingkup pondok murid diberikan pembelajaran keagamaan yang intensif, pemahaman tentang Islam yang sudah dijelaskan oleh guru dan mendapatkan ijazahnya untuk melanjutkan ke pesantren.
Sebagian orang ada orang yang berpendapat seolah hendak membuktikan bahwa Snouck sejak semula memang condong terhadap kristen. Saat Snouck menduduki Jabatan sebagai penasihat bagi Jong Java, dia memberikan kuliah pemahaman yang berkaitan dengan agama kristen. Sebagian siswa mengajukan keinginan untuk mendapat lebih banyak kuliah mengenai Islam. Karena keinginan tersebut maka terbentuklah Jong Islamieten Bond (JIB) yang diketuai oleh Agus Salim dari sumatera, Para anggota Jong Islamieten Bond memberitahukan dengan semangat pendirian berbagai surat kabar persaudaraan, seperti Seruan Azhar di Kairo. Agoes Salim menandai kelahiran Nabi pada 1941 dengan sebuah pidato panjang yang berjudul “Riwajat Kedatangan Islam di Indonesia”. Dapat diketahui bahwa Snouck memang dianggap sebagai salah satu seorang orientalis yang sebenarnya tidaklah terlalu disambut baik oleh rakyat, tetapi beberapa pendangan yang telah diutarakan oleh Snouck telah memberikan perhatian dalam pembentukan Islam ini.
KESIMPULAN
Awal dari sejarah masuknya Islam di Nusantara ini dimulai dari langkah pertama ke arah Islamisasi kawasan Nusantara pada tahun 1200-an, dan berlanjut sampai 1880-an, ketika Belanda akan membuat berbagai intervensi de jure yang lebih eksplisit dalam hukum muslim, sampai pada tahun 1900-an. Dan pada akhir dari penutup buku ini membahas tentang hubungan antara para cendekiawan Belanda dan para pembaharu muslim pada abad ke-20. Dijelaskan dalam buku ini perjalanan proses masuknya Islam di Nusantara yang telah melewati banyak perjuangan, pertahanan, dan usaha para cendekiawan muslim sejak awal Masehi sampai abad ke-20.
Dari berbagai kejadian, peristiwa, kontribusi yang terjadi sebelumnya dan pada akhirnya Islam lahir sebagai sesuatu yang jauh lebih besar dan meluas, yang tergabung dalam sebuah populasi yang lembut dan pasif oleh campuran orang-orang Arab, para cendekiawan muslim dan haji yang tak bisa dipilah-pilah. Oleh karena itu, Belanda berusaha menerima Islam dalam cara yang bermanfaat bagi negara kolonial mereka Islam dalam cara yang bermanfaat bagi negara kolonial mereka. Perjuangan dalam proses masuknya Islam di Nusantara tidak lepas dari para cendekiawan muslim, para kolonis Belanda dan juga tokoh pemikir Islam yang reformis. Semua pendapat, pandangan, dan pengamatan yang telah dipertimbangkan dengan pengetahuan disatukan dalam konteks yang lebih baik. Sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan dalam menjelaskan pemahaman terhadap sejarah masuknya Islam di Nusantara.
KELEBIHAN
Dengan membaca buku sejarah masuknya Islam di Nusantara karya Michael Laffan ini banyak didapatkan pemahaman yang lebih luas mengenai perjalanan Islam menuju Nusantara ini. Banyak proses dari beberapa perjalanan yang dijelaskan dalam buku ini dari awal Masehi sampai dengan selesai. Begitu juga dengan pemahaman terhadap Islam yang sebelumnya tidak sampai mengetahui bagaimana sebenarnya Islam masuk di Nusantara, dengan perantaraan buku ini dapat diketahui dengan jelas sejarah masuknya Islam di Nusantara. Dengan begitu sejarah Islam di Nusantara ini membawa banyak pengetahuan yang bermanfaat bagi para pelajar, mahasiswa, peneliti, dan sejarahwan yang ingin lebih mendalami mengenai Islam di Nusantara ini. Dalam buku ini sudah dilengkapi dengan glosarium, catatan buku, dan juga indeks. Dalam penyajian buku sejarah masuknya Islam di Nusantara karya Michael Laffan ini sangat lengkap.
KEKURANGAN
Sejauh ini kekurangan dari buku ini hanya dalam bahasa atau beberapa istilah asing yang kemungkinan dari pembaca kurang mengetahui artinya. Namun dalam glosarium sudah disebutkan secara rinci mengenai beberapa kata dan istilah yang sulit, sehingga dapat membantu pembaca dalam memahaminya.


πππ
BalasHapusππππ
BalasHapusπππππ
BalasHapusπππππ
BalasHapusπππ
BalasHapusπππ
BalasHapusππππsuksess...
BalasHapus