Benturan Peradaban-Samuel Huntington The Clash of Civilizations

 

Nama                          : Wakhidatus Zahro’un Nihlah 

                Hasil Review “Benturan Peradaban Samuel Huntington The Clash of Civilizations

Berdasarkan pemikiran Huntington konflik dalam dunia baru yang dimaksud adalah dunia setelah perang dingin karena pada dasarnya tidak lagi konflik ideologi atau ekonomi, melainkan budaya yang begitu bergejolak. Masa perang dingin adalah konflik antara dua negara super power dengan sama-sama memiliki kekuatan yang besar. Dengan berakhirnya perang dingin yang ditandai dengan runtuhnya ideologi komunisme, wilayah konflik meluas melewati fase Barat, dan yang mewarnainya adalah hubungan antara peradaban Barat. Di sini rakyat dan pemerintah peradaban non-Barat tidak lagi menjadi objek sejarah seperti sasaran kolonialisme Barat, tapi bersama-sama Barat sebagai penggerak dan pembentuk sejarah. Sehingga dengan peradaban tersebut juga bagian dari suatu entitas budaya.  

Huntington juga mendefinisikan lebih rinci lagi bahwa peradaban adalah pengelompokan tertinggi dari orang-orang yang tingkat identitas budaya paling luas. Didalam peradaban tentunya dibatasi oleh unsur-unsur objektif, yaitu, bahasa, sejarah, agama, adat istiadat, lembaga-lembaga. Budaya dalam hal ini diwakili oleh berbagai wilayah, baik desa, daerah, kelompok etnis, kebangsaan, kelompok agama dan lain-lain yang semuanya mempunyai tingkat keragaman budaya yang berbeda-beda. Dari perbedaan inilah akan menuju pada satu persamaan yaitu menjadi sebuah peradaban. Pengertian peradaban yang diambil Huntington, dapat disimpulkan bahwa ia sebenarnya mencampuradukkan berbagai macam ukuran dalam memilah peradaban, antara lain dimensi letak atau posisi wilayah, dimensi ajaran, dimensi etnis, dimensi negara, dimensi agama, dan dimensi benua. 

Terdapat dua paham yang berkaitan dengan peradaban dan kebudayaan yang membedakan antara Cultur (kebudayaan) dan civilisation (peradaban). Istilah peradaban sering digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari istilah “budaya” yang populer dalam kalangan akademis. Setiap manusia dapat berpartisipasi dalam sebuah budaya, yang dapat diartikan sebagai seni, adat istiadat, kebiasaan atau kepercayaan, nilai, perilaku dan kebiasaan dalam tradisi yang merupakan sebuah cara hidup masyarakat”. Dalam artian yang sama, peradaban dapat berarti “perbaikan pemikiran, tata krama, atau rasa” membedakan culture dan Civilization, karena dianggap sebagai satu kesatuan yang melekat sehingga lazimnya istilah Civilization menjadi terjemahan Inggris dari kata kultur. 

Huntington mengemukakan ada enam alasan pokok mengapa benturan peradaban akan menjadi sumber konflik utama di masa pasca perang dingin ini alasan pertama, adalah kenyataan bahwa perbedaan antar peradaban tidak hanya riil, tapi juga mendasar. Peradaban terdiferensiasi oleh sejarah, bahasa, budaya, tradisi, dan yang lebih penting lagi, agama. Perbedaan agama melahirkan perbedaan dalam memandang hukum manusia dengan Tuhan, individu dan kelompok, warga dan negara, hak dan kewajiban, kebebasan dan sebagainya. Perbedaan ini tidak mesti melahirkan konflik, dan konflik bukan berarti munculnya kekerasan. Namun selama berabad-abad dalam catatan sejarah, Perbedaan inilah yang menimbulkan konflik yang paling keras dan berkepanjangan.  

Huntington melihat bahwa sumber utama konflik dalam dunia baru bukanlah ideologi, politik atau ekonomi, tetapi budaya. Budaya dalam manifestasi yang lebih luas adalah peradaban, Suatu unsur yang membentuk pola kohesi, disintegrasi dan konflik. Ia menilai bahwa antarsuku, antaretnik, antaragama dan antarbangsa merupakan suatu fenomena umum. Alasan keduanya ini nampaknya merupakan generalisasi pada tataran konsep. Meski ia menunjukkan bukti tentang budaya satu menolak budaya lain, misalnya kebencian orang Perancis terhadap pendatang Afrika Utara, namun banyak bukti dalam masyarakat dunia yang memiliki kesadaran budaya tinggi. Sebagai contoh komunitas Muslim di Amerika Serikat yang mulai menunjukkan peningkatan baik dalam kuantitas maupun persentuhannya dengan aspek ekonomi dan politik.  

Alasan ketiga, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial dunia yang telah membuat masyarakat tercabut dari identitas lokal dan memperlemah negara bangsa sebagai sumber identitas mereka. Dalam hal ini agama muncul sebagai sumber identitas dan pegangan. Alasan keempat, terjadinya konflik peradaban akibat tumbuhnya kesadaran peradaban akibat benturan dengan dunia Barat. Yang dimaksud adalah Barat yang sedang berada di puncaknya berhadapan dengan non-Barat yang berkeinginan membentuk dunia dengan caracara mereka sendiri (de-westernisasi). Faktor kelima, karateristik dan perbedaan budaya kurang bisa menyatu dibanding dengan karateristik dan perbedaan politikekonomi.  

Dengan demikian, Huntington ingin memperkuat pendapatnya bahwa perbedaan politik ekonomi lebih memiliki dimensi terbuka dibandingkan dengan perbedaan budaya. Namun yang lebih penting diamati untuk saat ini adalah interaksi antarumat akan menimbulkan faktor saling ketergantungan. Begitu juga dalam agama–agama besar dunia, sadar akan tantangan yang dihadapi semakin berat, maka dialog-dialog antarumat beragama atau pola-pola kerukunan antaragama semakin diintensifkan untuk bisa memahami budaya/agama lain agar terhindar dari konflik peradaban. 

Referensi:

Fitria, V. (2009). Konflik Peradaban Samuel P. Huntington (Kebangkitan Islam yang Dirisaukan?). Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum9(1).

Syarifuddin, S. (2014). Agama dan Benturan Peradaban. SUBSTANTIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin16(2), 229-242.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendekatan Ma’na Cum Maghza

Pendidikan Generasi Muda

Pemikiran Nurcholish Madjid Terhadap Politik Indonesia