Charles Kimmbal dan Antonio Gramsci
Nama :
Wakhidatus Zahro’un Nihlah
Hasil Review “Charles Kimball Kala Agama
Menjadi Bencana Dan Teori Hegemoni - Antonio Gramsci”
Agama bisa disebut sebagai perisai dikarenakan
dalam agama tersebut para penganutnya merasa dikendalikan oleh agama. Sehinnga bagian
dalam agama tersebut harus diterima dan dipatuhi oleh penganutnya. Hal tersebut
berdasarkan atas keselamatan di dunia dan akhirat ketika penganut agama
mentaati agama yang dianutnya. Selain itu, agama menjadi pegangan dalam
kehidupan hal tersebut atas dasar cakupan yang berupa ibadah dan akidah. Dalam
segi beribadah dan akidah tersebut disinilah muncul variasi dalam agama-agama
yang ada. Ketika membahas aqidah tentunya ini berkaitan dengan keyakinan setiap
agama dan perbedaan dari pemahaman atas Tuhan. Yang kemudian dalam setiap agama
tersebut akan memberikan sebuah petunjuk untuk bisa mencapai kesejahteraan,
kedamaian, dan kenikmatan dunia dan akhirat.
Namun, dalam pembahasan ini akan membahas
agama dalam tanda kutip, kala agama menjadi bencana. Kemungkinan besar ketika
mendengar ungkapan tersebut mengkagetkan dan memunculkan tanda tanya, sehingga
akan dikupas bahwa maksud Charles Kimball yang dimaksud agama menjadi bencana
adalah agama yang sudah dicampuri dengan kepentingan-kepentingan kekuasaan,
sosial, ekonomi politik dan Iain-Iain. Jika agama didasarkan atas beberapa hal
tersebut bagi Charles Kimball bisa mengemukakan bahwa agama ternoda atas dasar
tindakan korupsi dan kejahatan, namun juga mengakui bahwa agama masih ada yang
baik, agama yang baik bagi Kimball yaitu agama yang autentisitas, yang dipahami
sebagai agama yang asli sebelum agama dinodai oleh kekuasaan dan kepentingan
manusia. Bagi Charles Kimbell, autentisitas juga berarti suatu upaya pemaknaan
agama berdasarkan sumber-sumber untuk mengupas pembusukan dan kekorupan suatu
agama. Sehingga jika agama dapat berdiri sesuai autentik berarti berlawanan
dari agama yang korup.
Contoh lain agama menjadi bencana, ketika
agama mengklaim kebenaran agamanya sebagai kebenaran yang mutlak dan
satu-satunya. Bila hal itu terjadi, agama tersebut akan melakukan banyak hal
untuk membenarkan agamanya dan mendukung klaim kebenarannya. Klaim kebenaran
mutlak suatu agama, biasanya disebabkan, karena pemeluk agama bersangkutan
yakin, bahwa kitab suci mereka memang mengajarkan demikian. Dalam kaitan ini,
tentu dijumpai kitab suci yang berisi klaim akan kebenaran mutlak dan jalan
keselamatan satu-satunya bagi agama yang bersangkutan.
Sebenarnya pola pikir Charles Kimball, dia
seorang penganut pluralisme agama. Intinya, adalah semua agama itu baik dan
benar, sehingga tidak perlu penganut agama mengklaim, bahwa agama yang
dianutnya paling benar dan betul. Karena sejak awal dia berpendapat tidak mungkin
penganut agama bisa lepas atau tanpa penganut agama yang lain. Maka, Charles Kimbail
memperingatkan supaya kita bisa berhati-hati terhadap gerakan agama yang bertentangan
dengan akal sehat, membatasi kebebasan, meniadakan integritas individual para pengikutnya.
Charles Kimball menunjukkan, Islam sendiri
pada hakikatnya adalah agama perdamaian. Islam berarti tunduk kepada Allah dan
damai, muslim adalah mereka yang mau menundukkan dirinya kepada Allah dan menjadi
pembawa perdamaian. Dari sini kelihatan, betapa Islam sesungguhnya adalah agama
perdamaian. Demikian juga, ajaran islam tentang jihad. Dalam Islam mengajarkan,
yang mesti dikerjakan pemeluknya bukanlah jihad terhadap orang luar, melainkan jihad
terhadap dirinya sendiri untuk melawan dan berperang dengan segala hasrat egoisme
dan perbuatan diluar kebajikan.
Berlanjut membahas terkait konsep hegemoni
tokoh Gramchi, awal mula konsep Gramsci tentang hegemoni adalah bahwa suatu
kelas dan anggotanya menjalankan kekuasaan terhadap kelas-kelas di bawahnya
dengan cara kekerasan dan. Hegemoni bukan
hubungan dominasi dengan menggunakan kekuasaan, tetapi hubungan persetujuan dengan mengunakan
kepemimpinan politik dan ideologis. Hegemoni dalam pengertian Gramsci adalah sebuah organisasi konsensus dimana
ketertundukan diperoleh melalui penguasaan ideologi dari kelas yang menghegemoni.
Gramsci mengemukakan tiga tingkatan hegemoni, yaitu hegemoni integral,
hegemoni yang merosot, dan hegemoni yang minimum. Hegemoni total ditandai
dengan afiliasi massa yang mendekati total. Masyarakat menunjukkan tingkat kesatuan moral dan intelektual yang
kokoh, yang tampak dari hubungan pemerintah dan yang diperintah. Hubungan
tersebut tidak diwarnai
kontradiksi dan antagonism baik secara sosial maupun etis. Hegemoni yang merosot ditandai
dengan adanya potensi disintegrasi atau potensi konflik yang tersembunyi di bawah
permukaan, artinya meskipun sistem yang ada telah mencapai kebutuhan dan sasarannya, tetapi mentalitas massa
tidak sungguh-sungguh selaras dengan pemikiran yang dominan dan subyek
hegemoni. Hegemoni minimum yang bersandar pada kesatuan ideologis antara elit ekonomi,
politik dan intelektual, yang berlangsung bersamaan dengan keengganan terhadap setiap
campur tangan massa dalam hidup bernegara.
Membicarakan
hegemoni memberikan tiga batasan konseptualisasi, yaitu ekonomi, masyarakat politik dan masyarakat sipil. Ekonomi sebagai batasan yang
digunakan untuk mengartikan mode of production yang paling
dominan dalam sebuah masyarakat. Cara produksi tersebut terdiri dari tehnik
produksi dan hubungan sosial produksi yang tumbuh karena munculnya perbedaan
kelas-kelas sosial, dalam arti kepemilikan produksi. Masyarakat
politik merupakan tempat berlangsungnya birokrasi negara dan tempat munculnya praktek-praktek kekerasan
negara. Gramsci memakai istilah masyarakat politik untuk menunjuk
hubungan-hubungan koersif yang terwujud dalam berbagai lembaga negara,
angkatan bersenjata, polisi, lembaga hukum, perdagangan, industri,
keamanan sosial, dan sebagainya. Gramsci menyatakan bahwa aktifitas negara tidak
hanya sekedar melakukan tindakan koersif, tetapi juga berperan dalam membangun
konsensus melalui pendidikan dan fungsi kelembagaan.
Dengan begitu, Gramsci menyatakan bahwa di mana ada kekuasaan, di
sana muncul perlawanan terhadapnya. Dalam masyarakat kapitalis yang sudah maju,
dimana masyarakat sipilnya sudah berkembang, diperlukan strategi yang berbeda
untuk melawan kekuasaan dominan. Gramsci menyebut strategi ini dengan istilah
perang posisi. Dalam perang posisi, kelas pekerja harus membongkar system pertahanan
yang mendukung hegemoni kelas borjuis, dengan cara membangun aliansi dengan
semua gerakan sosial yang sedang berusaha mengubah relasi-relasi dalam
masyarakat sipil. Kekuasaan hegemoni kaum borjuis melalui organisasi-organisasi
dalam masyarakat sipil harus terus dilemahkan dengan menghimpun kekuatan balik
di bawah pimpinan kelas pekerja.
Referensi:
Hadjar, I. (2005). Kala Agama Jadi
Bencana. Unisia, (58), 458-461.
Safri, A. N. (2017). Tatkala Agama
Berubah Jadi Bencana. Nizham Journal of Islamic Studies, 3(1),
36-71.
Siswati, E. (2017). Anatomi teori
hegemoni antonio gramsci. Translitera: Jurnal Kajian Komunikasi Dan
Studi Media, 5(1), 11-33.
Komentar
Posting Komentar