Demokrasi dan Resolusi Konflik
Nama : Wakhidatus Zahro’un Nihlah
Mata Kuliah : Sosiologi Politik Hukum dan HAM
“ "Demokrasi dan
Resolusi Konflik” Oleh David Kinsella dan David L. Rousseau
Proses politik demokratis mengatur persaingan di antara
kelompok-kelompok yang saling bertentangan. Sebagian besar persaingan terjadi
secara damai di dalam lembaga politik yang ada, praktik demokrasi juga dapat
memfasilitasi penyelesaian konflik yang intens ketika sistem politik ditantang oleh
kelompok yang melawan. Negara-negara demokratis lebih damai dalam hubungannya
dengan semua negara, tidak peduli bagaimana mereka diatur, dikenal sebagai
versi monadik dari proposisi perdamaian demokratis. Peran demokrasi paling
menonjol dalam teori politik konflik internal. Pemerintah yang demokratis
cenderung tidak membatasi kebebasan individu dan lebih cenderung memberikan
perlindungan yang sama di bawah hukum; tidak adanya hak dan kebebasan seperti
itu sering kali menjadi sumber kebencian kelompok yang kurang beruntung dalam
masyarakat nondemokratis. Jika keluhan memang ada dalam masyarakat demokratis,
keterbukaan sistem politik memungkinkan ketidakpuasan kelompok diekspresikan
tanpa kekerasan.
Penindasan perbedaan pendapat adalah ciri khas sistem politik
tertutup. Oleh karena itu, untuk setiap tingkat keluhan yang berkaitan dengan pemberontakan
bersenjata akan mengharapkan negara-negara otoriter mengalami lebih sedikit
perang saudara daripada negara-negara dengan sistem politik yang lebih terbuka Artinya,
masyarakat yang paling demokratis menghadapi sedikit pemberontakan karena
tingkat keluhan yang diungkapkan umumnya lebih rendah; konflik kelompok lebih
sering diselesaikan tanpa kekerasan, meskipun terkadang dengan perdebatan. Ketika
hak dan kebebasan politik tidak sepenuhnya dihormati, keluhan muncul dalam
kelompok yang kurang beruntung. Meskipun sistem demokrasi parsial, seperti
halnya sistem demokrasi penuh, memungkinkan mobilisasi kelompok yang
kepentingannya bertentangan dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah,
mereka juga lebih cepat menekan protes, pemogokan, dan bentuk pembangkangan
sipil lainnya, sehingga menumbuhkan ketidakpuasan. Melalui pembangunan
ekonomi dan pemerintahan demokratis sebagai mekanisme penyelesaian konflik
domestik yang saling memperkuat. Bukti menunjukkan bahwa perdamaian antara negara-negara
demokratis paling kuat ketika negara-negara tersebut juga berkembang secara ekonomi
dalam setiap negara.
Keputusan demokratis mengharapkan bahwa pilihan oleh para pemimpin
demokratik lainnya juga dibentuk oleh norma-norma penyelesaian konflik secara
damai, ada sedikit risiko dalam upaya untuk menyelesaikan konflik mereka sesuai
dengan norma-norma yang ada. Perdamaian
demokratis berpendapat bahwa meskipun semua pembuat keputusan cenderung untuk langkah
praktik penyelesaian perselisihan domestik ketika berhadapan dengan konflik
antarnegara yang bergantung pada pembuat keputusan yang demokratis. Jika
pemerintahan demokratis menggunakan nilai-nilai dan norma-norma demokrasi untuk
mendefinisikan in-group, tindakan dan kemampuan demokrasi. Identitas bersama
mereka akan mengurangi kemungkinan salah satu pihak akan menggunakan kekerasan
untuk menyelesaikan perselisihan politik. Meskipun kaum realis mengabaikan
pentingnya faktor ideasional dalam politik dunia, kaum liberal dan
konstruktivis telah lama mempertahankan bahwa rasa identitas bersama sebagian
menyumbang tingkat konflik internasional yang lebih rendah.
Norma-norma penyelesaian konflik secara damai. Dalam masyarakat
internasional di mana praktik demokrasi begitu umum dipandang sebagai sah dan
efektif, metode penyelesaian konflik yang digunakan oleh negara-negara
demokratis memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk tercermin dalam perilaku
negara-negara nondemokratis. Keputusan untuk menggunakan kekuatan militer adalah pilihan yang
dibuat oleh para pemimpin yang sebagian besar didasarkan pada perhitungan biaya
dan manfaat politik. Keputusan kebijakan luar negeri dapat memiliki dampak
politik domestik yang mahal. Tahapan dalam perdamaian demokratis diadik.
Pertama, sistem internasional diasumsikan terdiri dari negara-negara hawkish
(para pemimpin tidak kenal kompromi dan cenderung menggunakan kekuatan untuk
menyelesaikan perselisihan) dan negara-negara dovish (para pemimpin cenderung
berkompromi dan menggunakan strategi timbal balik). Kedua, struktur kelembagaan
domestik mengurangi ketidakpastian ini dengan menandakan strategi yang paling
mungkin dilakukan oleh suatu negara. Karena potensi biaya domestik dari
penggunaan kekuatan.
Ketika perselisihan muncul antara dua negara demokratis, lambatnya
proses mobilisasi di kedua negara menciptakan peluang untuk penyelesaian
konflik melalui cara-cara non-koersif. Namun, ketika konflik muncul antara
negara demokrasi proses reformasi demokrasi sebenarnya dapat meningkatkan
kemungkinan perang. Temuan empiris mereka, berdasarkan analisis kualitatif dan
kuantitatif, telah dibaca tidak hanya sebagian menyangkal teori perdamaian
demokratis, tetapi juga mempertanyakan kebijaksanaan upaya untuk mempromosikan
demokrasi di negara lain.
Hubungan antara pemerintahan demokratis dan pecahnya atau resolusi
konflik kekerasan domestik. Peran demokrasi dalam meredakan konflik dalam
negara perlu dipahami dengan latar belakang teori pemberontakan dan perang saudara. Di antara
banyak masyarakat yang merupakan rumah bagi kelompok-kelompok yang sangat
dirugikan, yang membedakan masyarakat yang relatif stabil dari yang mengalami
perang saudara terlibat dalam perselisihan atau perang militer. Mereka umumnya
menyimpulkan bahwa kemungkinan konflik meningkat ketika negara-negara otokratis
membuat transisi demokrasi yang tidak lengkap, tetapi tidak ketika mereka
membuat transisi yang lengkap. Rezim yang sebagian demokratis juga tidak tampak
berbahaya ketika mereka sedang menjalani transisi menuju demokrasi.
Kondisi yang paling kondusif untuk mencegah pecahnya perang saudara
berkaitan dengan kondisi yang paling kondusif bagi penyelesaian damai dan
pembentukan kembali stabilitas politik setelah perang saudara. Kekuasaan
pemerintah pusat harus dikonsolidasikan, legitimasinya harus ditegakkan atau
ditingkatkan dengan mengizinkan kelompok-kelompok yang sebelumnya dikecualikan
mengakses proses pembuatan kebijakan, dan sumber daya ekonomi yang memadai
harus dikumpulkan dan dialokasikan untuk mendukung proses pembangunan
perdamaian. Dalam kasus perang saudara yang sangat merusak, dan khususnya di
mana kebencian kelompok bersifat akut dan kekerasan, perdamaian sejati mungkin
tidak akan mungkin terwujud dalam waktu dekat. Stabilitas politik mungkin
memerlukan pembentukan. Sementara perang saudara sedang berlangsung,
masing-masing mengambil alih kekayaan sebagian warga yang mereka kuasai serta
kekayaan mineral dari wilayah yang mereka tempati.
Mereka yang tidak mendukung tidak menerima perlindungan dan
pengembalian kegiatan ekonomi mereka dapat diambil alih. Keadaan perang yang
berkelanjutan, dengan perampasan kekayaan yang berkelanjutan, mendorong warga
negara yang tidak terafiliasi untuk berinvestasi lebih sedikit, yang mengurangi
pengambilan panglima perang. Di beberapa lingkungan pasca-konflik, ada yang
namanya terlalu banyak demokrasi terlalu cepat. Demokrasi yang stabil
menyediakan mekanisme untuk penyelesaian konflik sosial secara damai, tetapi
pemerintahan yang demokratis pada dasarnya bersifat kompetitif. Sehingga dapat
diartikan bahwa simbol dari proses demokrasi, dengan penyelenggaraan pemilu
setelah perdamaian tercapai seringkali dianggap sebagai indikasi bahwa
pemerintahan yang sebelumnya disfungsional telah berhasil melakukan transisi
politik.
Ø Tugas Analisis Pertanyaan
1.
Bagaimana jika resolusi konflik diterapakan di masyarakat digital?
Jawab: Resolusi konflik dalam kehidupan masyarakat
dijalankan sebagai langkah dalam penyelesaian konflik yang terjadi, sehingga
apabila resolusi konflik tersebut dijalankan dalam masyarakat digital tentunya
perlu melalui beberapa pertimbangan. Ketika konflik terjadi secara nyata dalam
lingkungan masyarakat mampu diselesaikan secara kebersamaan saling bertemu
membicarakan konflik yang terjadi sehingga mampu mendapatkan jalan keluar dari
konflik tersebut. Namun ketika konflik tersebut dilakukan dalam masyarakat
dunia digital dengan keberlangsungan digital yang bisa disebut melalui media
online tentunya dengan langkah yang saling mengemukakan sebuah jalan keluar
dari konflik yang terjadi tersebut. Dengan lebih mengusahakan dari pihak yang
terlibat konflik untuk saling mengutarakan konflik yang terjadi, sehingga mampu
disuarakan dengan keputusan bersama walaupun secara digital tetap bisa di
temukan titik terang agar konflik tersebut dapat terselesaikan.
2.
Cari, sebut, dan analisis terkait dengan konflik yang terjadi di
dunia maya atau di masyarakat digital!
Jawab: Beberapa konflik yang terjadi di
dunia maya atau masyarakat digital sebagai berikut;
·
Konflik yang muncul di dunia maya atau
masyarakat digital antara lain; cyber bullying, yang mana kejatahan seperti ini
mengakibatkan keresahan bagi pengguna media sosial dalam dunia digital yang
dilakukan, cyber bullying ini membuat rasa yang tidak nyaman, resah dengan
perasaan, serta adanya ketersinggungan yang di alami. Cyber bullying bisa
dicontohkan antara dengan suatu foto atau video yang di upload di media sosial,
namun terdapat beberapa oknum yang sengaja memberikan komentar yang tidak
pantas atau hate comment yang membuat orang yang mengupload foto atau video
tersebut merasa tersinggung. Cyber bullying ini jika pihak yang diberikan
komentar negatif tentu tidak terima dengan komentar yang diberikan akan
menimbulkan konflik yang terjadi antara orang yang mengupload foto atau video
dengan orang yang mengomentarinya.
Hal ini tentu terjadi nyata dalam dunia
digital bahwasanya komentar negatif yang dilontarkan menjadi memicu sebuah
konflik yang terjadi. Bisa diketahui dengan semisal orang ternama yang
mendapati komentar negatif dalam postingan yang diupload, ketika orang terdekat
dari orang tersebut tidak terima tentu akan mencari username orang yang
meninggalkan komentar negatif tersebut. Alhasil dengan beberapa ujaran yang
diungkapkan kepada username yang berkomentar negatif, untuk segera menarik
komentar yang tidak pantas tersebut dan menyampaikan permohonan maaf walaupun
dilakukan melalui media online.
·
Selain itu, konflik media digital masyarakat
dapat ditemukan dengan maraknya penipuan online yang mengatasnamakan hadiah,
undian, dan semacam giveaway. Hal tersebut rentan terjadi karena dunia maya
menjadi langkah yang strategis untuk mempromosikan segala bentuk
promosi-promosi yang berhadiah. Hal ini perlu adanya kewaspadaan dalam
menggunakan media sosial, ketika didapati sebuah pesan yang masuk
menginformasikan bahwa dirinya mendapatkan hadiah, giveaway, atau undian
lainnya tentu perlu ditelusuri lebih dalam tentang orang yang menginformasikan
hadiah tersebut. Kewaspadaan ini perlu dilakukan karena mengantisipasi seorang
yang melakukan penipuan online mendapatkan identitas pribadi. Biasanya di
imbuhi dengan kata-kata yang menarik perhatian dengan syarat yang harus
dipenuhi seperti nomor rekening dan identitas lengkap.
·
Konflik dunia digital yang terjadi seperti
yang terjadi dengan negara unkraina dan Rusia yang kedua negara tersebut tidak
hanya saling menyerang dan terjadi konflik dalam dunia darat, namun juga dalam
dunia digital. Hal ini dilakukan oleh negara Rusia yang memiliki teknologi digital
untuk melakukan cyber war dengan negara unkraina. Sehingga mengakibatkan
beberapa kota di unkraina terputus oleh jaringan internet. Kejahatan digital
yang seperti ini mengakibatkan konflik antar negara yang semakin memanas,
tentunya dengan kemajuan teknologi digital yang ada harus sebagai pelengkap
kebutuhan masyarakat untuk mengakses dan mendapatkan informasi yang bermanfaat,
agar tidak terjadi konflik media digital yang merugikan. Kejahatan digital
seperti ini juga terjadi dengan negara Rusia yang di blokir oleh Swift karena
pengaruh kekuatan teknologi Amerika Serikat. Hal ini sangat merugikan karena
tentunya secara digital memberhentikan ekonomi negara Rusia. Konflik dunia
digital menjadi suatu yang mengerikan ketika terjadi dengan cyber force yang
saling mengunggulkan kekuatan teknologi digital dan penguasaan terhadap
teknologi tersebut.
·
Konflik digital lainnya seperti yang terjadi
dalam komputer dan smartphone terhadap hacker yang menyadap informasi dan
kepentingan pribadi pemilik media digital tersebut. Hal ini tentu menjadi
kejahatan digital yang menimbulkan keresahan yang mendalam karena hacker
mendapati informasi pribadi pengguna yang dikhawatirkan akan disalahkan gunakan.
Hal ini perlu adanya penguatan sandi dan keagamaan dalam media yang digunakan
baik komputer atau smartphone agar menghindari hacker yang membajak media
sosial pengguna. Kejahatan semacam ini dikhawatirkan tanpa adanya kesadaran
dari pengguna asli dengan media online yang digunakan, dikhawatirkan
menyebarkan suatu hal yang tidak pantas, atau situs-situs yang berbahaya. Sehingga
seorang beranggapan media ini menyebarkan suatu yang tidak pantas, namun
ternyata bukan asli dari kesadaran penggunaan, sehingga menimbulkan
kesalahpahaman yang dapat memunculkan konflik terjadi.
·
Terdapat kejahatan digital yang menyebabkan
konflik terjadi yang memunculkan konflik dikalangan anak muda, sehingga perlu
diwaspadai dalam kejahatan dunia maya mengenai pelecehan online, hal ini
terjadi dengan beberapa video atau foto yang tidak baik yang beredar sehingga
meresahkan kaum media sosial. Perlunya menjaga terhadap pribadi baik secara
fisik maupun dalam media sosial yang digunakan untuk menghindari pelecehan
secara online. Biasanya hal tersebut memberikan ancaman kepada seorang yang
menjadi sasaran untuk menuruti keinginan dari pelaku kejahatan media online
agar menuruti keinginannya. Dengan begitu perlunya suatu hal dalam memilih
ketika mengupload foto dan video yang tentunya lebih bermanfaat agar tidak
memunculkan suatu kejahatan dunia digital.
3.
Bagaimana resolusi konflik atau cara yang ditempuh untuk meredakan
atau bahkan menyelesaikan konflik tersebut?
Jawab: Adapun cara-cara yang dilakukan dalam
meredakan konflik dapat dilakukan melalui beberapa tahap antara lain; negoisasi,
akomodasi, mediasi.
·
Tahap negoisasi dilakukan antara pihak untuk
mencari sebuah kesepakatan bersama, tentu adanya perbedaan pendapat dan
kesepakatan yang dilontarkan sehingga adanya tawar menawar dalam menentukan
keputusan yang mana yang akan disepakati bersama.
·
Tahapan akomodasi dilakukan untuk menghentikan
sebuah konflik yang terjadi antara pihak-pihak tertentu dengan pemberhentian
yang bersifat sementara atau bertahan lama, sehingga setiap pihak memegang
keputusan masing-masing.
·
Tahapan mediasi melalui langkah dengan adanya
keterlibatan pihak ketiga, hal ini akan dilakukan secara musyawarah untuk dapat
kesepakatan bersama. Sehingga dengan tahapan musyawarah bersama ini antara
semua pihak bisa menerima dengan baik keputusan akhir yang didapatkan.
Komentar
Posting Komentar