Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Nama :
Wakhidatus Zahro’un Nihlah
Hasil Review
“Islamisasi Ilmu Pengetahuan Berdasarkan Al-Qur’an Persepektif Quraish Shihab”
Perbincangan ayat-ayat al-Quran tentang sains telah lama
menjadi pembicaraan dan diskusi hangat. Sehingga seseorang yang ingin
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dipersilahkan mencari pokok-pokok
pemikirannya melalui ayat-ayat sains yang terkandung dalam al-Quran. Keyakinan
bahwa al-Quran memuat segala macam ilmu di jagad ini termasuk sains modern yang
menginspirasi sebagian mufassir untuk menciptakan penafsiran al-Quran bernuansa
ilmu pengetahuan diantaranya adalah Quraish Shihab. Diantara penafsiran Quraish
Shihab adalah tentang surah al-Baqarah: 26. Dapat dilihat asbab nuzul ayat ini adalah tentang komentar
orang-orang Munafik yang menganggap perumpamaan yang Allah buat dalam al-Quran
dengan perumpamaan hewan-hewan kecil adalah suatu aib atau sesuatu yang sepele
dan tidak penting. Kemudian, Quraish Shihab menafsirkannya dengan nuansa-nuansa
sains untuk membahas hal tersebut.
Al-Qur‟an memiliki posisi yang penting, dan juga terdapat
beberapa perbedaan antara tokoh dalam mendefinisikan posisi al-Quran. Pertama,
Manna al-Qaththan mendefinisikan bahwa al-Qur‟an dapat menyelesaikan segala
permasalahan kemanusiaan di berbagai segi kehidupan, baik yang berkaitan dengan
masalah kejiwaan, jasmani, sosial, ekonomi, dan politik dengan penuh bijaksana.
Hariyanto juga menjelaskan bahwa sumber yang menjadi penggerak bagi sarjana
Muslim dalam mengembangkan berbagai ilmu dalam memajukan peradaban bisa di
dapatkan dalam al-Qur‟an tersebut. Muhammad Iqbal juga
mendefinisikan bahwa nilai-nilai al-Quran memiliki karakter yang dinamis dan
nyata dalam mendorong kaum Muslimin melakukan eksperimen dan berfikir. Akan
tetapi, hingga saat ini umat Islam masih berdebat dalam memposisikan al-Quran
dan hadis dalam pengembangan ilmu. Ada yang berpendapat bahwa seluruh kandungan
dalam al-Quran dan hadis adalah ilmiah dan tidak bertentangan dengan
prinsip-prinsip ilmu dan teknologi. Ada juga yang berpendapat bahwa ilmu apapun
yang dikembangkan umat manusia telah ada dalam dua sumber Islam.
Beberapa pendapat juga terdengar dikalangan intelektual.
Masdar Hilmmy menjelaskan bahwa selama ini al-Quran dan hadis diposisikan oleh
umat Islam sebagai sumber ilmu dari pengembangan ilmu dan teknologi. Oleh
karena itu, dalam pengembangan ilmu dan teknologi keduanya dapat menjadi
rujukan. Perbedaan pendapat ini tidak hanya didapati di kalangan
akademisi tapi juga di kalangan Ulama. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Imam
Ghazali dalam kitabnya Jawahir al-Quran menjelaskan bahwa seluruh cabang ilmu
pengetahuan yang terdahulu danakan datang, baik yang telah diketaui maupun
belum diketahui, semuanya bersumber dari al-Quran. Sedangkan menurut Quraish
hihab bahwa posisi al-Quran dalam pengembangan al-Quran sangat penting. Dengan
pengembangan ilmu, Quraish Shihab juga mengemukakan bahwa hubungan al-Quran dan
ilmu bukan dinilai dengan banyaknya cabang-cabang ilmu, tetapi pembahasan
diletakkan pada proporsi yang lebih tepat sesuai dengan kemurnian dan kesucian
al-Quran.
Karakteristik pemikiran keislaman Quraish Shihab bersifat
rasional dan moderat. Sifat rasional pemikirannya tidak untuk memaksakan agama
mengikuti kehendak realitas, tetapi lebih mencoba memberikan penjelasan agama
klasik bagi masyaraka tetapi dengan tetap menjaga kebaikan tradisi lama. Dalam
memandang hubungan antara al-Quran dan ilmu pengetahuan Quraish Shihab
menjelaskan dengan melihat beberapa hal mulai dari tujuan pokok al-Quran,
kebenaran ilmiah al-Quran, hikmah ayat ilmiah al-Quran. Membahas hubungan al-Quran
dengan ilmu untuk melihat jiwa ayat-ayatnya kemajuan ilmu atau sebaliknya serta
adakah yang bertentangan dengan hasil temuan yang telah mapan. Kemajuan ilmu
bukan hanya terbatas dalam bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pada
segumpulan syarat-syarat psikologis dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif
dan positif.
Dengan demikian, keilmuan dan sains membuktikan bahwa
kemajuan ilmu tidak hanya dinilai dengan apa yang dipersembahkan kepada
masyarakat, tetapi juga diukur dengan adanya suatu iklim yang dapat mendorong
kemajuan ilmu pengetahuan. Quraish Shihab dalam tafsirnya memulai penafsiran secara
studi kebahasaan. Dalam al-Qur‟an, menunjukkan banyak pesan yang ingin di
sampaikan Tuhan kepada manusia. Al-Quran memilih jalan sastra untuk menyentuh
kesadaran yang membeku di alam bawah sadar dan mendewasakan manusia dengan
pesan-pesan didalamnya.
Referensi:
Chaeruddin, B. (2016). Ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu
keislaman (suatu upaya integrasi). Jurnal Inspiratif Pendidikan, 5(1), 209-222.
Komentar
Posting Komentar