Masyarakat Abangan dan Dukun

 

Peta Kajian Islam Jawa, mereview buku karangan Clifford Geertz yang berjudul “Religion Of Java

Bab 5 Abangan dan Dukun

Dalam kehidupan masyarakat abangan terdapat beberapa macam dukun antara lain; dukun temanten, dukun bayi, dukun calak, dukun petungan, dukun wiwit, dukun pijet, dukun sihir, dukun jampi, dan sebagainya. Dukun bayi memiliki keahlian dalam bidang merawat bayi setelah lahir sampai dengan 1 bulan atau bahkan lebih, biasanya dalam hal memandikan bayi, memijat bayi. Keahlian yang dimiliki dukun temanten ahli dalam menentukan berlangsungnya upacara pernikahan, kemampuan dukun calak ahli dalam melakukan khitanan, kemampuan dukun pijet ahli dalam pijat memijat, keahlian dukun wiwit ahli dalam masalah pertanian dan sistem panen, keahlian dukun petungan ahli dalam perhitungan Jawa yang ditentukan dengan angka, dan dukun sihir ahli dalam ilmu sihirnya, dan dukun jampi yang memiliki keahlian menggunakan rempah-rempah dalam pengobatan yang dilakukan.

Menjadi seorang dukun dalam kalangan masyarakat sempat dianggap sebagai hal yang berbahaya, hal ini dikhawatirkan kekuatan yang luar biasa yang dimiliki oleh seorang dukun dapat menghancurkannya secara spiritual. Pada umumnya ketika seorang dukun tidak kuat dalam menerima kekuatan itu maka akan menjadi gila. Terdapat keberuntungan apabila terdapat keluarga yang memiliki keturunan yang dapat menguasai kekuatan spiritual tersebut karena dapat mengimbangi ilmu dan kekuatan yang digunakan dalam ilmu dukun. Pewarisan sifat dan kekuatan yang dimiliki dukun tidak dapat disampaikan dengan mudah untuk orang lain, seperti kejadian yang terjadi bahwa terdapat seorang yang ayahnya sebagai dukun, kemudian mengajarkan keahliannya kepada dua orang kakaknya. Namun alhasil orang tersebut tidak kuat menerima kekuatan tersebut, pada akhirnya anak yang ketiga mendapatkan kesempatan untuk mewarisi ilmu dukun dari ayahnya.

Sebenarnya kemampuan yang dimiliki oleh seorang dukun tidak hanya karena sebatas warisan dari keluarga atau leluhurnya terdahulu, namun juga berasal dari belajar dan belajar yang dilakukan. Sebagian dukun-dukun priyayi menerapkan prinsip puasa yang panjang, dan bertapa dengan tidak tidur secara lama. Dalam kalangan santri biasanya menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan secara mistik atau beberapa potongan dari tulisan Arab yang dilukis, kemudian dikunyah ataupun ditelan untuk melakukan pengobatan atau bisa dilakukan dengan memasukkan kedalam segelas air lalu diminum. Cara pengobatan lainnya dikalangan masyarakat abangan terdapat juga dengan menggunakan mantra, jimat, ramuan obat, dan tumbuh-tumbuhan.

Seorang dukun dalam proses awal ketika akan belajar menjadi dukun dengan cara berpuasa 100 hari, tidak memakan nasi, hanya memakan daun-daun atau sayuran. Proses yang seperti ini dilakukan selama satu tahun yang dianggap untuk mendapatkan kekuatannya. Terdapat pertanyaan mengapa seorang dukun memilih berpuasa sebagai langkah mendapatkan kekuatannya? Jawabannya karena ketika dalam berpuasa jiwa seseorang yang berpuasa tersebut secara langsung akan tertuju kepada Tuhan, sedangkan ketika tidak berpuasa jiwa ini akan sering berbelok arah yang tidak menentu. Hal yang dipelajari oleh seorang dukun biasanya juga berasal dari dukun lainnya. Hal yang seperti ini disebut dengan ilmu atau keahlian seorang dukun yang dipercaya sebagai pengetahuan atau keahlian supranatural atau biasa disebut dengan kekuatan magis.

Dalam peranannya dukun yang dianggap sebagai dukun yang ahli adalah yang dapat menangani atau mendapatkan banyak pasien dari luar tempat tinggal atau desanya. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa seorang dukun akan lebih mahir dalam mengobati orang dari jauh dari pada masyarakat dekat. Seperti yang terjadi di daerah Mojukuto dukun-dukun mendapatkan pasiennya dari daerah yang jauh seperti Surabaya dan lainnya. Masyarakat Mojukuto banyak yang mempercayai adanya keahlian dari dukun tersebut. Sebagian anggapan cocog atau kesesuaian dalam pengobatan yang dilakukan oleh seorang dukun memang perlu dipertimbangkan. Terdapat seorang yang sekali berobat dengan dukun merasa cocog dan sembuh, namun terdapat juga yang berobat dan mendatangi beberapa dukun untuk mencari pengobatan yang cocog atau bahkan memerlukan cara pengobatan barat seperti yang dilakukan dokter dirumah sakit.

Keahlian dari seorang dukun dapat dilihat dari sisi kemampuan pengobatan yang dilakukan oleh dukun tersebut. Pada umumnya dukun menggunakan dua tahap pengobatan yang dilakukan yaitu tahap pertama dengan menentukan metode pengobatan yang akan dilakukan, dan tahap kedua penerapan dalam metode yang akan digunakan tersebut. Adapun terdapat tiga teknik pengobatan yang dilakukan oleh seorang dukun sebagai berikut; numerologi (petungan) metode ini menggunakan langkah hitungan atau dilihat dari hari lahir seorang yang bersangkutan dan hari dimana seorang tersebut jatuh sakit. Sehingga dengan menentukan petungan dari hari lahir atau hari jatuh sakit seorang tersebut akan menemukan jawaban yang mana dapat melihat obat apa yang harus disiapkan. Biasanya obat yang digunakan berasal dari beberapa ramuan rempah-rempah serta dari petungan ini juga bisa mendapat jawaban mengapa seorang tersebut bisa jatuh sakit.

Teknik pengobatan numerologi/petungan ini sering digunakan oleh dukun karena mudah dilakukan dan diterapkan dalam pengobatan. Teknik selanjutnya yang digunakan oleh dukun adalah teknik pengetahuan intuitif, seperti yang telah dilakukan oleh dukun kalangan priyayi dengan melakukan semedi yang cukup lama dengan memikirkan gampar (agan-angan) dan membersihkan pikiran agar dapat mengetahui yang ada dipikirannya tertuju pada penyakit apa yang sedang dialami pasien dan obat yang harus diberikan. Teknik ini lebih jarang dilakukan karena membutuhkan waktu yang lama karena proses meditasi yang dilakukan dalam menentukan penyakit dan obat yang harus diberikan.

Teknik pengobatan yang terakhir menggunakan analisis terhadap gejala penyakitnya, analisis yang dilakukan dengan menentukan penyakit dan gejala yang dialaminya. Obat yang digunakan dalam bentuk rempah-rempah yang sering dijumpai seperti; kunir (Curcuma Longa), kencur (Kaempferia galanga), kemiri (Aleurites triloba), Jahe (Zingiber officinale), lombok atau cabe (Capscium annuum) dan laos (Alpinia galanga). Kebanyakan rempah tersebut ditanam disekitar rumah masyarakat maupun dapat membelinya di warung.

Rempah-rempah tersebut biasanya digunakan untuk obat luar maupun obat dalam seperti; Jahe umumnya digunakan sebagai salep untuk encok dan kepala pusing, kunir digunakan untuk obat pencahar, dan kencur yang digunakan untuk obat sakit perut. Cara dukun untuk mengobati pasien yang sedang sakit tidak hanya dengan ramuan rempah-rempah saja, namun juga dengan memberikan mantra-mantra atau do’a arab yang diucapkan sambil memegang ramuan ditangan setelah selesai membaca do’a atau mantra dukun itu meniup kan atau dalam masyarakat Jawa biasa disebut dengan (disuwuk) keramuan yang dipegang lalu meniupkan kepada anak yang berpenyakit misalnya penyakit cacingan.

Pada umumnya jika dukun tersebut dikenal sebagai dukun yang berilmu terkadang tidak perlu memberi rempah-rempah atau ramuan kepada pasien. Cukup dengan memberikan segelas teh atau air putih yang telah dibacakan mantra-mantra atau do’a yang kemudian dukun tersebut meniupkan mantra-mantra tersebut dalam segelas air atau teh tersebut kemudian memberikan kepada pasien untuk meminumnya. Terdapat pula teknik pijat yang dilakukan yang merupakan pengobatan yang paling umum karena teknik pijat mungkin lebih sederhana dan bersifat sekuler tanpa sedikit adanya unsur mistis, namun terdapat sebagian yang menghubungkan iringan mantra atau do’a dalam pijat tersebut.

Terdapat tiga elemen dalam proses pengobatan yaitu obat itu sendiri, mantera yang diucapkan dan kekuatan batin sang dukun serta kemampuannya untuk memusatkan pikirannya terhadap penyakit dan obat yang harus diberikan. Obat yang diberikan oleh dukun bisa digunakan ditempat maupun digunakan di rumah. Namun, pada umumnya digunakan ditempat dengan ucapan mantra-mantra ataupun do’a yang diucapkan oleh dukun sehingga ucapan tersebut sampai kepada Tuhan, sehingga dukun mendapatkan petunjuk untuk mengobatinya.

Masyarakat jawa berpendapat bahwa ada dua jenis penyakit yang pokok. Pertama, penyakit yang bisa ditemukan sebab-sebab fisiknya dan disembuhkan dengan pengobatan dokter yang dididik secara ilmu kedokteran. Kedua, yang tak bisa ditemukan sebabnya secara medis, tetapi si pasien memang sakit. Penyakit yang seperti ini, merupakan jenis penyakit yang mampu diobati oleh para dukun. Misalnya, penyakit yang dialami seorang dikarenakan sering melamun pada akhirnya terdapat makhluk halus yang memasuki tubuhnya, dengan begitu dukun dapat membantu mengobatinya. Contoh lain seperti, orang terkena ruam yang disebabkan oleh darah kotor, ilmu dukun bisa menghilangkannya, tetapi darahnya masih akan tetap kotor ruam itu mungkin bisa kambuh lagi. Dengan demikian, hal ini mendukung bahwa tidak ada dukun yang bisa mengobati semua penyakit pada umumnya. Tentunya tetap disesuaikan dengan kemampuan dari dukun tersebut dalam mengobati penyakit yang dialami pasiennya.

Dalam masyarakat Jawa terdapat juga yang disebut dengan tenung atau sihir. Hal yang seperti ini biasanya dilakukan oleh dukun tertentu yang menguasai ilmu-ilmu mistik. Seorang yang melakukan tenung ini akan pergi ke dukun tertentu untuk meminta kepada dukun itu menuruti apa yang diinginkan untuk musuhnya atau lawannya. Ketika seorang mengalami gejala seperti; muntah darah, nyeri di perut secara lama, demam yang tak reda, gejala yang seperti ini biasanya orang tersebut di tenung oleh orang lain. Dukun akan melakukan ritual untuk membuat sasaran mengalami kesakitan atau kesulitan. Biasanya dilakukan dengan menggunakan sajen yang melingkar terdapat kemenyan. Apabila seorang menginginkan sasarannya sakit berat, maka sang dukun akan meremas kemenyan sampai hancur. Disisi lain yang terlihat lebih kejam seperti terdapat bahan paku, kaca, beling, dan bahan tajam lainnya yang diinginkan untuk dimasukkan dalam tubuh korban yang ditenung.

Sihir atau tenung biasanya dilakukan oleh orang terdekat, kerabatnya, atau tetangga yang tidak menyukai terhadap salah seorang anggota atau temannya. Biasanya dukun yang dikunjungi dalam tenung yang rumahnya jauh dari desa yang ditinggalinya. Sihir atau tenung ini lebih kearah perbuatan yang kurang baik karena orang yang melakukan permintaan tenung biasanya memiliki rasa iri, rasa dendam, atau bahkan rasa tidak suka terhadap orang lain. Tenung dilakukan dengan landasan menginginkan seorang mengalami sakit, kesulitan, kehidupan yang tidak tenteram. Orang-orang biasanya melakukan tenung karena mengalami kekecewaan terhadap sesuatu yang pernah terjadi pada hidupnya dikarenakan orang lain, oleh karena itu, orang tersebut akan menjadi orang yang mengecewakannya sebagai sasaran tenung yang diinginkan.

Dengan demikian, dalam kehidupan masyarakat abangan terdapat beberapa dukun seperti; dukun bayi, dukun pijet, dukun temanten, dukun wiwit, dukun petungan, dukun tenung (sihir), dan dukun jampi. Kesemuanya dari dukun tersebut memiliki keahlian masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kekuatan yang dimilikinya. Seorang dukun dalam mendapatkan ilmu atau kekuatan tersebut dengan melakukan proses seperti puasa dalam waktu yang lama, menyendiri tanpa tidur dengan waktu yang lama, tidak memakan nasi, dan berguru ke berbagai dukun lainnya. Terdapat juga dikalangan masyarakat abangan dukun tenung, dukun ini akan diminta untuk membuat sasaran yang dituju menjadi sakit, kesulitan, bahkan hidupnya tidak nyaman.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendekatan Ma’na Cum Maghza

Pendidikan Generasi Muda

Pemikiran Nurcholish Madjid Terhadap Politik Indonesia