Menjadi Manusia, Menjadi Hamba-prof. Fahruddin Faiz
Hasil Review “Menjadi Manusia, Menjadi Hamba Karya Fahruddin Faiz”
Sekarang ini dapat kita lihat pola hidup kekinian membawa banyak perubahan. Gempuran life-style secara global mengikis sedikit demi sedikit terhadap kearifan lokal. Kecanggihan teknologi dan informasi yang memudahkan interaksi sehingga melahirkan nalar canggih. Namun perlunya wawasan tentang keragaman dan kepekaan diri di era modern ini. Meskipun zaman terus berkembang dengan kemajuannya namun sebagai manusia, perlunya untuk tetap menjadi manusia dengan status hamba yang baik. Bahwa manusia dengan kenikmatan dan kemudahan hidup, perkembangan peradaban manusia juga harus diiringi dengan langkah manusia yang baik. Karena faktanya terdapat keprihatinan manusia kebingungan karena kehilangan jati diri kemanusiaannya.
Kehidupan manusia hari ini diwarnai oleh disorientasi (kehilangan pegangan karena runtuhnya nilai-nilai lama), dan juga perasaan tersingkir dan terasing dalam bidang kehidupan tertentu. Dalam kehidupannya manusia modern merasa terasing baik dalam hubungannya dengan pekerjaannya, juga dengan sesama manusia, dan bahkan dengan dirinya. Hal tersebut karena manusia mengonstruksi satu mesin yang canggih, pada akhirnya ciptaannya melampaui dan menguasai diri mereka. Manusia seakan menjadi budak dari mesin besar diciptakan. Semakin besar dan berkembang ciptaannya, semakin manusia tidak berdaya untuk mengendalikannya lagi. Sehingga perlahan mengikis sisi kemanusiaannya sendiri, karena dirinya lenyap ditelan oleh sistem dan gaya hidup yang mereka bangun.
Dengan akal-budi yang dimilikinya, harusnya manusia hidup dengan cinta dan kebijaksanaan. Namun dalam kenyataannya, manusia lebih banyak menghindari kebijaksanaan dan lebih memenuhi hasrat dan ambisinya untuk memuaskan kesenangan sesaatnya. Sehingga menunjukkan kesadaran akan pentingnya spiritualitas dalam hidup manusia pada kenyataannya untuk memperbaiki sisi-sisi kemanusiaannya. Nabi Muhammad sendiri secara tegas mengkritisi sahabat yang mementingkan kehidupan spiritual saja, dan melupakan sisi kemanusiaan keduniaannya. Dalam sabdanya beliau menyatakan: “Aku shalat malam tapi juga tidur. Aku puasa tapi juga berbuka, dan aku menikahi wanita. Intinya keseimbangan antara duniawi dengan spritualitas hamba kepada agamanya perlu diperhatikan.
Al-Quran menegaskan bahwa kehadiran manusia di muka bumi berhubungan dengan pemenuhan kewajiban spiritual dan pemenuhan kebutuhan keduniaan. Sebagai konsekuensinya, manusia memerlukan dua tipe wawasan, dua jenis pengetahuan atau dua ranah keilmuan agar mampu menjadi manusia yang benar dan memenuhi kebutuhan menjadi hamba. Pemenuhan fitrah kemanusiaan hakikatnya adalah bagian dari tugas kehambaan, sebaliknya pemenuhan tugas kehambaan hakikatnya adalah bagian dari fitrah kemanusiaan. Menjadi manusia sejati antara lain berarti menjadi manusia yang sadar akan hakikat kehambaannya, dan menjadi hamba yang sejati antara lain berarti sadar akan kedudukan dan perannya sebagai manusia.
Ketetapan Allah tentang tugas kehambaan dan kemanusiaan ini hakikatnya adalah demi kebaikan dan kebahagiaan manusia sendiri. Oleh karena itu, penting untuk diketahui bagaimana menjalankan dua amanah tersebut sesuai tuntunan, porsi dan proporsi yang tepat sehingga kebaikan dan kebahagiaan tersebut benar terwujud. Allah pun. Telah menurunkan petunjuk-Nya untuk bisa dipedomani, bahkan mengangkat Para Utusan untuk menuntun manusia agar tak salah langkah, sehingga berlimpahnya anugerah tidak berubah menjadi musibah. Semua fitrah yang dimiliki manusia adalah sumber kebahagiaannya, apabila diwujudkan di jalur yang sesuai dengan tuntunan, porsi dan proporsinya. Fitrah berketurunan akan membuahkan kebahagiaan apabila diwujudkan dengan jalan pernikahan, dan akan membuahkan yang sebaliknya apabila diwujudkan dengan tanpa peduli aturan.
Fitrah berdoa, kesadaran untuk meminta dan bergantung kepada Tuhan, akan membuahkan kebahagiaan apabila dijalankan mengiring ikhtiar, dan akan membuahkan yang sebaliknya apabila diiringi dengan kemalasan dan keengganan berusaha. Fitrah waktu, akan membuahkan kebahagiaan apabila diisi dengan hal-hal yang positif dan produktif, dan akan membuahkan yang sebaliknya apabila diisi dengan hal-hal yang negatif. Fitrah sosial manusia, akan membuahkan kebahagiaan apabila diwujudkan dengan jalan cinta dan saling-peduli, dan akan membuahkan sebaliknya apabila diwujudkan dengan jalan kebencian dan saling menang sendiri. Ketika kita belajar tentang fitrah manusia, berarti kita sedang mempelajari manusia.
Dalam bahasa Al-Quran, manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan kemuliaan nya. Manusia juga mukallaf, punya tugas yang harus dijalankan. Dia juga mukhayyar, punya potensi, punya daya untuk memilih. Dan terakhir, dia majzi, pilihannya benar atau salah, dan semuanya akan dibalas , kalau pilihannya benar, balasannya pahala dan jika pilihannya salah, balasannya dosa dan siksa. Allah memuliakan kita dengan segala fasilitas yang membuat kita berharga, seperti akal, pancaindra, imajinasi, membuat kita indah. Karena itu, kita harus banyak bersyukur.
Kita sebagai manusia punya kewajiban-kewajiban, punya tanggung jawab, secara vertikal dan horizontal. Tanggung jawab vertikal kita adalah sebagai hamba Allah. Sedangkan tanggung jawab horizontal kita sebagai khalifatullah. Kita punya tanggung jawab untuk mengelola alam semesta dan beribadah, mengabdi pada Allah. Itu menunjukkan bahwa kita adalah mukallaf. Manusia diberi tugas tapi juga diberi daya untuk memilih. Manusia mau menjalankan tugas silakan, tidak menjalankan juga silakan. Ini yang disebut mukhayyar, manusia boleh memilih. Tapi, kalau manusia bisa mukhayyar, bisa memilih yang baik ataupun yang jelek.
Manusia makhluk yang mulia dan manusia harus menentukan pilihan. Tapi jangan lupa apa pun pilihan kita, semua akan ada balasannya. Manusia sangat cocok dengan alam semesta karena kita memang diciptakan untuk itu. Untuk bisa memahami manusia ada teorinya, dinamakan teori fatalistik, yang dikenal sebagai Jabariyah dalam Islam. Perspektif fatalisme memandang bahwa kehidupan manusia sudah ditetapkan oleh Allah. Dan menurut pandangan Jabariyah, orang baik atau jahat itu takdir. Terdapat juga perspektif behaviorisme yaitu pandangan manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah atau kosong. Bahwa manusia dilahirkan sebagai kertas putih, dan dia sendiri yang akan menuliskan jalan hidupnya di atas kertas itu. Manusia dalam keadaan kosong, lalu jadi apa nantinya, baik atau burukkah nasibnya, semua tergantung dialektikanya dengan lingkungan sekitar.
Referensi :
Faiz, F. (2020). Menjadi Manusia Menjadi Hamba. Noura Books.
Musthofa, I., Afidah, I., & Sholeh, N. S. M. (2022, August). Nilai-Nilai Spiritual Dalam Buku Menjadi Manusia, Menjadi Hamba Karya Fahruddin Faiz. In Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication (Vol. 2, No. 2, pp. 236-243).
Komentar
Posting Komentar