Mereview Jurnal“Perempuan Aceh Dalam Perspektif Antropologi"
Mata Kuliah : Antropologi
Mereview Jurnal yang berjudul “Perempuan Aceh Dalam
Perspektif Antropologi” oleh Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Judul : Perempuan Aceh Dalam
Perspektif Antropologi
Jurnal :Gender Equality:
Internasional Journal of Child and Gender Studies
Penulis : Kamaruzzaman Bustamam
Ahmad
Volume/Tahun : Volume 01 Nomor 02 / 2015
Reviewer : Wakhidatus Zahro’un
Nihlah
Hasil Review
Dalam artikel tersebut membahas bagaimana kiprah perempuan Aceh di dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah pola lingkungan sosial di Aceh agar
mampu memberikan peluang kepada perempuan untuk tampil di wilayah publik. Dalam
ranah publik semakin terbuka, maka yang mendominasi
saat ini di Aceh adalah perempuan. Hal
ini dilandasi pada penyamaan posisi laki-laki dan perempuan dalam wilayah
publik, ketika perempuan memiliki peluang berpartisipasi dalam ranah publik
artinya memberikan gambaran posisi yang sama rata antara laki-laki dan
perempuan. Disini lain, keadaan ini memunculkan banyak pertimbangan mengenai
apa dan bagaimana perempuan tampil di wilayah publik. Hal tersebut memunculkan
pertanyaan apa saja yang menjadi peran perempuan dalam wilayah publik, dan
bagaimana proses yang dilakukan perempuan dalam berpartisipasi dalam ranah
publik. Namun standar etika dan moral
untuk menilai pantas dan layaknya tentang tampilan perempuan Aceh hari ini. Karena
dari perempuan kita mampu melihat banyak peran yang dilakukan antara lain;
kemampuan mereka menjaga dan mendidik anak-anak, juga kepiawaian mereka di
dalam merawat cucu, ahli dalam urusan dapur, serta dari sinilah tidak meragukan
apabila perempuan berpartisipasi dalam wilayah publik.
Selain itu, tingkat kekuatan perempuan dapat
dilihat dari ketahanan tubuh yang
dilakukan para perempuan yang pergi ke sawah di Aceh. Para perempuan itu
pergi ke sawah, mulai dari masa tanam
hingga masa panen. Para perempuan Aceh bekerja di sawah memang amat luar biasa,
berjongkok beberapa menit untuk menancapkan
benih padi. Posisi yang dilakukan perempuan ini memang sangat berat,
karena jika tidak biasa, cenderung akan membuat kepala pusing karena terik
matahari yang begitu panas. Posisi yang sama juga dilakukan para perempuan saat
panen padi. Sebagian ada yang mengangkut
padi yang hendak dijadikan sebagai tumpok untuk digiling oleh mesin
penggilingan. Pekerjaan di sawah bagi perempuan Aceh sudah menjadi pekerjaan
sehari-hari, dilakukan dengan seksama yang kemudian perempuan Aceh masih
memiliki pekerjaan di rumah.
Sebelum ke sawah, mereka biasanya terlebih
dahulu mempersiapkan aktifitas keluarga disiapkan dari pagi hari sebelum
ditinggal pergi ke sawah. Pulang sore, untuk mempersiapkan harus ke dapur untuk
mempersiapkan makan malam. Belum lagi aktifitas di malam hari. Kehidupan
perempuan Aceh yang sudah menikah, biasanya ditemani orang tua atau mertua
ketika setelah melahirkan, karena perempuan setelah melahirkan membutuhkan
orang terdekat untuk membantu ini itu. Namun setelah pulih dan sehat kembali
maka, orang tua atau mertua akan kembali ke rumahnya, hal ini terkadang
diimbuhi dengan alasan “ rumah tidak ada yang menunggu, hewan ternak tidak ada
yang memberi makan” hal tersebut sudah melekat dengan kehidupan orang di masyarakat
desa Aceh. Kondisi pekerjaan perempuan Aceh di sawah tidak memunculkan rasa
khawatir akan rusak wajah karena sering berada dibawah matahari, tidak ada rasa
khawatir terhadap demam tubuh ketika kehujanan. Hal ini sudah menjadi kegiatan
perempuan di Aceh.
Perbedaan pekerjaan bagi perempuan dan
laki-laki di Aceh , ketika laki-laki memiliki hewan ternak, akan menambatkan ternak mereka di tempat-tempat
yang ada rumputnya. Setelah itu, mereka
ke sawah untuk memeriksa air atau membersihkan alang-alang di sekitar
sawah mereka. Dari sini dapat dilihat hampir beberapa pekerjaan lelaki di sawah
sudah digantikan oleh mesin, jarang ada
pekerjaan lelaki di sawah yang sama berat dengan pekerjaan perempuan. Para
laki-laki siang atau sore hari, mereka akan kembali minum kopi, kadang
dilanjutkan dengan kopi malam hari. Dari segi pekerjaan inilah dapat diketahui
di Aceh, distribusi pekerjaan di desa lebih banyak dilakukan oleh perempuan.
Hal serupa juga terjadi saat pesta atau kenduri,
perempuan akan lebih banyak melakukan pekerjaan memotong hingga masak memasak.
Belakangan ini, sudah ada perempuan yang berprofesi sebagai petugas keamanan, mengingat
profesi perempuan yang sudah meluas ada yang berprofesi sebagai polwan,
tentara. Namun, kemunculan perempuan sebagai petugas keamanan mengindikasikan
bahwa, dominasi lelaki yang bekerja sebagai
satpam akan berkurang.
Selain itu, ditemui pada kantor-kantor atau
perhotelan yang dikenal sebagai resepsionis tugasnya sebagai penerima
tamu. Hampir semua kantor swasta
memperkerjakan perempuan sebagai petugas penerima tamu. Namun dalam tradisi
Aceh, yang menerima tamu adalah lelaki. Perempuan biasanya akan menghidangkan
minuman. Di beberapa perkantoran, yang bertindak sebagai penyedia minuman bagi
tamu, kerap dilakukan oleh lelaki, yang
dikenal dengan istilah OB. Bahkan perempuan akan berada di depan ruangan kepala kantor atau bertugas
sebagai sekretaris. Dalam tradisi tulis menulis di kalangan orang Aceh, dikenal
dengan istilah keurani, yang juga dikerjakan
oleh lelaki, dalam perkembangan ini, lebih banyak dilakukan oleh perempuan.
Untuk mendukung pekerjaan ini, sudah ada sekolah khusus yang membidani bagian
kesekretariatan. Dan terdapat juga perempuan yang bertempat ber-AC, cenderung
tidak lagi bersentuhan dengan api dalam
masak-memasak. Kalangan perempuan Aceh yang ber-AC biasanya membeli makanan di
pinggir jalan, karena praktis, juga tidak perlu usahanya untuk memasak.
Dengan begitu, gejala ini dapat menjauhkan
perempuan karir dari tradisi masak untuk keluarga. Para lelaki di Banda Aceh,
cenderung makan siang di warung, sambil menanti untuk menjemput anak mereka di
sekolah. Semakin tinggi tingkat pergaulan atau jabatan, semakin sering pula
orang Aceh makan di warung pinggir jalan, karena tidak ada waktu yang sempat
untuk memasak dirumah. Generasi baru di Aceh yang tidak lagi berbasiskan pada
aspek-aspek tradisionalisme, karena ruang privat dan ruang publik didominasi
oleh perempuan, maka akan muncul kebaruan dalam kebudayaan di Aceh. Hal ini
ditandai seperti yang dialami oleh negara maju, yakni perempuan akan menentukan
nasib mereka, bukan lagi berdasarkan sistem kebudayaan yang telah dibangun
melalui kesadaran kolektif, tetapi melalui sistem rasionalisasi yang
terstruktur. Seperti di beberapa kota besar, para perempuan tidak lagi
mementingkan untuk membangun keluarga,
lebih mementingkan karir dan berpartisipasi dalam ranah publik.
Kaitannya Dengan Materi Antropologi
Dalam kehidupan sehari-hari memang adanya
kegiatan yang berbeda-beda untuk pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan oleh
perempuan dan laki-laki. Pekerjaan dan kegiatan yang sebelumnya sudah
didominasi oleh para laki-laki dari artikel tersebut dapat diketahui bahwasanya
peran perempuan sudah mampu menyamai dari peran yang dilakukan laki-laki.
Contohnya adalah ketika dalam posisi kepemimpinan dari dahulu sudah diketahui
laki-laki yang mendominasi, maka di artikel tersebut diberikan gambaran bahwa perempuan
sudah mampu terjun dalam ranah publik dengan peran yang dilakukan. Dilihat masa
sekarang ini sudah banyak peluang pemimpin perempuan. Selain itu, pekerjaan
laki-laki seperti dalam bidang keamanan, perempuan juga mampu menyamai dengan
adanya profesi polwan. Serta pekerjaan yang saling menunjukkan kesama rataan
antara perempuan dan laki-laki, seperti yang terdapat dalam artikel tersebut
bahwasanya yang sebelumnya di Aceh penyajian minuman disajikan oleh perempuan
dengan perkembangan zaman ini muncul adanya OB di kantor-kantor yang bisa
dilakukan oleh perempuan atau laki-laki. Penerimaan tamu yang dilakukan oleh
laki-laki di Aceh, sekarang ini disamakan dengan penerima tamu bagi perempuan.
Dari berbagai contoh tersebut mampu dipahami bahwasanya adanya penyamaan
terhadap posisi dan peran terhadap laki-laki dan perempuan hal ini menunjukkan
kesetaraan gender yang bagus dalam masyarakat. Setidaknya tidak menimbulkan
perpecahan dan konflik ketika terdapat perbedaan posisi dan peran antara
laki-laki dan perempuan. Justru dengan adanya contoh dan perkembangan zaman
yang semakin berkembang menunjukkan kesetaraan gender sudah dapat dirasakan dan
dilihat bersama-sama.
Komentar
Posting Komentar