Siklus Slametan (Khitanan dan Perkawinan)
Peta Kajian Islam Jawa, mereview buku karangan Clifford Geertz yang berjudul “Religion Of Java”
Review Siklus Slametan (Khitanan dan Perkawinan)
Pada masyarakat
Jawa tentunya telah berkembang adanya slametan khitanan yang ada sebelum abad ke-16.
Pada umumnya pelaksanaan khitanan hampir sama dengan acara pernikahan, namun
tidak ada unsur adanya mempelai dalam sebuah khitanan. Pada masa Islam Jawa
khususnya slametan khitanan disebut juga sebagai sunantan. Dalam mengadakan
acara slametan untuk khitanan atau pun pernikahan sama-sama menggunakan biaya
yang berlebih dalam artian diperbolehkan merayakan kedua acara slametan tersebut.
Adapun hiburan yang akan disuguhkan dalam merayakan acara slametan khitanan
atau pernikahan dengan mengundang pertujukan wayang kulit, tarian Jawa, dan
orkes beserta biduannya.
Dalam
masyarakat Jawa kedua acara slametan ini sebagai rasa penyambutan masa remaja,
khitanan yang dilakukan oleh seorang laki-laki remaja yang telah siap untuk di
khitan dan perkawinan untuk anak perempuan yang ingin melakukan pernikahan. Umumnya
dalam masyarakat Jawa laki-laki yang dikhitan berumur sekitar 10-15 tahun, namun
ada pula beberapa santri yang ketika berumur 5 tahun sudah di khitan oleh
keluarganya. Terdapat pula di masyarakat mojokuto kebanyakan masyarakat
mengkhitankan anaknya sendiri-sendiri atau bahkan beberapa saudara sekaligus. Biasanya
masyarakat mengkhitankan anaknya kepada seorang calak (sebagai dukun, jagal,
atau tukang cukur) namun terdapat pula yang mengkhitankan anaknya ke rumah
sakit.
Dalam slametan
khitanan juga terdapat petungan sama halnya dengan slametan pernikahan. Setelah
menentukan petungan hari yang tepat dalam melakukan khitanan, malam harinya
akan diadakan slametan yang bisa disebut dengan slametan manggulan seperti pada
malam ketika akan menjalankan pernikahan terdapat slametan widodareni. Dalam
slametan khitanan terdapat hidangan yang disiapkan salah satunya adanya makanan
yang terbuat dari beras ketan yang dilumatkan pada talam besar, hal ini
bertujuan agar slametan yang dilakukan ini terhidang dari orang yang tidak
menyukai, iri dan semacamnya, serta berharap terciptanya ketenangan dan
kedamaian. Terdapat pula bubur yang dibuat dari sekam beras yang ditumbuk
bisanya disebut bubur paru-paru dalam masyarakat Jawa ini berarti bahwa pusat
kehidupan manusia ada dalam paru-parunya.
Terdapat pula
sesajin yang disiapkan dan diletakkan dibeberapa tempat seperti kamar mandi,
lubang-lubang kecil, dan pojok-pojok rumah. Setelah itu, anak yang akan di
khitan diberikan jamu dan siap untuk melakukan khitanan. Setelah siap untuk dikhitan
anak tersebut duduk diatas kain putih dengan mengucapkan kalimat syahadat,
serta calak melakukan khitan
dengan alat yang disebut wesi tawa artinya besi yang tidak terasa. Setelah
acara khitanan selesai, pada malam hari siap untuk melakukan acara hiburan yang
diinginkan. Seperti wayang kulit atau orkes dan biduannya. Dalam masyarakat
Jawa kebanyakan anaknya yang meminta untuk segera dikhitan namun, terdapat
sebagian yang tetap merasa takut dan belum berani dikhitan.
Dalam
masyarakat Jawa selain slametan khitanan yang dirayakan terdapat slametan
perkawinan yang pada umumnya akan diselenggarakan dengan biaya yang besar.
Masyarakat Jawa kebanyakan masih menentukan pilihan perkawinan antara mempelai
wanita atau mempelai pria. Seperti halnya, ketika seorang anak laki-laki
mendapatkan keseriusan terhadap gadis tertentu maka, akan mengajak kedua
orangtuanya dengan maksud mendapatkan pilihan yang tepat. Dalam kalangan
pelajar biasanya menggunakan acara tukar cincin atau pertunangan terlebih
dahulu sebelum menikah dikarenakan masa pembelajaran yang masih lama. Ketika
seorang laki-laki dan wanita telah saling merasa cocok satu dengan lainnya
maka, pihak keluarga akan melakukan acara lamaran.
Dalam
perkawinan terdapat upacara perkawinan yang diselenggarakan yang disebut dengan
kepanggihan artinya pertemuan yang dilangsungkan di rumah mempelai
wanita. Kewajiban dari orang tua adalah memberikan perayaan dalam acara
pernikahan khususnya untuk anak perempuan dan melakukan perayaan untuk khitanan
bagi anak laki-laki. Pada umumnya acara pernikahan akan diselenggarakan setalah
selesai panen karena acara pernikahan membutuhkan biaya yang besar. Namun,
apabila terasa lama dan kurang sabar dalam melakukan acara pernikahan dari
pihak mempelai laki-laki boleh memberi bantuan biaya untuk acara pernikahan
tersebut. Dari pihak mempelai laki-laki harus menyediakan dua hadiah untuk
mempelai perempuan yaitu paningset hadiah yang berupa pakaian atau
perhiasan, sasrahan hadiah yang berupa penyerahan sapi atau kerbau,
namun pada masa sekarang ini lebih diperkecil dengan hadiah berupa perabot
rumah tangga.
Adapun
langkah-langkah dalam perkawinan masyarakat Jawa antara lain dimulai dengan
pengantin perempuan dan laki-laki untuk pergi ke masjid untuk melaksanakan ijab
qobul, kembali pulang ke rumah untuk berjabat tangan dengan keluarga, dan
melakukan acara perayaan pesta pernikahan dengan tamu-tamu yang telah di undang.
Sebelum berlangsungnya acara pernikahan slametan yang dilakukan adalah slametan
midadareni hal ini hampir sama dengan slametan yang dilakukan untuk
khitanan yaitu slametan manggulan. Pada saat slametan midadareni malam
harinya pengantin perempuan didudukkan di dalam rumah selama empat jam sampai
tengah malam, hal ini dipercayai bahwa akan turunnya seorang bidadari sehingga
esoknya dalam menjalankan pernikahan mempelai wanita terlihat lebih cantik.
Ketika
persiapan dalam pernikahan telah siap, maka akan di berlangsungkannya pertemuan
mempelai wanita dan mempelai laki-laki dengan menyiapkan beberapa sajen didepan
rumah mempelai wanita yang terdiri dari terbentang nya kain yang terdapat
mangkuk yang berisi air bunga dan sebutir telur ayam. Setelah siap mempelai
wanita keluar dari rumah diiringi dengan dua perempuan yang membawa kembar
mayang dan mempelai pria masuk dari luar rumah yang diiringi dengan dua laki-laki
yang membawa kembar mayang juga. Kedua mempelai diberikan gulungan daun
sirih untuk dipegang dan saling melemparkan, terdapat teori dalam hal ini yang
mana mengenai sasaran paling tepat akan menjadi pasangan dominan dalam
pernikahan tersebut. Setelah itu mempelai wanita memecahkan sebutir telur di
kaki mempelai laki-laki, lalu menyiram dengan air bunga hal ini dimaksudkan
sebagai wujud pengabdian dari istri kepada suami. Terdapat juga sajen yang
seperti kelapa muda, cermin, kendi, beras, dua pisang biasanya diletakkan
didekat sumur. Hal ini dilakukan bertujuan dengan memberi makna agar harta dan
pendapatan tidak hilang.
Dalam acara
khitanan dan pernikahan terdapat aspek sosial dan ekonomi dalam penyelenggaraan
kedua acara tersebut. Pada umumnya orang Jawa menyebutkan penyelenggaraan
khitanan dan pernikahan sebagai acara duwe gawe artinya “mempunyai
kerja” atau disebut sebagai kerjasama dalam hubungan masyarakat yang saling
rukun satu dengan masyarakat lainnya. Dari sisi konsumsi dalam penyelenggaraan
upacara perkawinan biasanya hanya dilakukan oleh keluarga dan kerabat serta
tetangga dekat. Namun, saat menjalankan acara perayaan pernikahan lebih banyak
tamu yang diundang. Terlebih ketika perayaan pernikahan mengundang pertujukan
wayang kulit tentu akan banyak yang melihatnya di malam hari.
Dalam aspek
ekonomi dapat dilihat dari berapa modal biaya atau sumber pembiayaan yang akan
dikeluarkan untuk menyelenggarakan acara pernikahan atau khitanan yang
dilakukan. Apabila seorang telah cukup dengan hartanya biasanya menjual sapi
atau kekayaan yang dimiliki untuk menyelenggarakan pernikahan atau khitanan.
Jika seorang merasa belum cukup dalam biaya yang akan digunakan, maka akan
meminjam kepada saudaranya untuk melengkapi. Terdapat hubungan timbal balik
dalam acara pernikahan atau khitanan yang mana masyarakat saling memberikan
bantuan dalam bentuk tenaga, biaya, maupun usaha dalam membantu berlangsungnya
acara pernikahan atau khitanan agar terlaksana dengan lancar.
Sumber
pembiayaan selanjutnya adalah meminjam dari pihak bank, namun hal ini bisanya
tidak banyak dilakukan karena seperti yang pernah dilakukan oleh salah satu
masyarakat mojokuto yang bernama mbok Mun, ia lebih memilih menjual barang atau
hartanya untuk mendapatkan biaya sebagai modal acara pernikahan atau khitanan.
Seperti menjual sapi, kambing, perhiasan, dan barang berharga lainnya. Meminjam
bank dalam menyelenggarakan acara pernikahan atau khitanan ketika tidak dalam
keadaan yang mendesak masyarakat enggan melakukannya. Masyarakat memikirkan
takut dalam proses pengembalian biaya ke bank tersebut karena tidak hanya
sedikit biaya yang dibutuhkan untuk pernikahan. Sumber pembiayaan selanjutnya
berasal dari buwuh hal ini dilakukan dalam masyarakat, sumber pembiayaan
buwuh ini yang paling teoritis dalam acara pernikahan karena sumber pembiayaan
buwuh ini berasal dari tamu, kerabat, tetangga yang memberikan amplop uang atas
hidangan yang telah diberikan pada saat acara pernikahan yang telah mereka
terima.
Dengan
demikian, acara pernikahan atau khitanan dalam kehidupan masyarakat khususnya
masyarakat Jawa, memiliki cara penyelenggaraan tertentu serta pembiayaan yang
berasal dari berbagai macam seperti yang telah disebutkan, bisa berasal dari
kekayaan pribadi, meminjam bank, dan buwuh. Kesemuanya telah menjadi
ciri dalam penyelenggaraan acara pernikahan atau khitanan. Terdapat juga
beberapa hubungan timbal balik dalam acara pernikahan atau khitanan yang mana
antara keluarga, kerabat, tetangga yang saling memberikan bantuan baik tenaga,
ataupun sebagainya. Serta adanya aspek ekonomi dalam kedua acara tersebut yang
digunakan dalam sumber pembiayaan acara tersebut.
Komentar
Posting Komentar