Ringkasan Film Our Land is the Sea
Nama: Wakhidatus Zahro’un Nihlah
Meringkas Satu Film (Ringkasan Film Our Land
is the Sea)
Pembukaan
Film Our Land is the Sea dengan sebuah teks yang ditampilka menjelaskan suku Bajau
menjadi bagian masyarakat nomaden dengan kehidupan secara tradisional yang
dilakukan oleh masyarakat Bajau dengan kehidupan di laut. Tempat adanya suku
Bajau ini dijumpai di segitiga terumbu karang wilayah laut yang meliputi
beberapa wilayah di sekitar Indonesia. Sedangkan pada wilayah Indonesia sendiri
suku Bajau dapat ditemukan di Indonesia tepatnya di Sulawesi Tenggara.
Kehidupan masyarakat Bajau meliputi daerah perairan Laut Banda, yang berbatasan
dengan Taman Nasional Wakatobi. Selesai melihat Film Our Land is the Sea
ringkasan yang dapat disampaikan sebagai berikut. Film Our Land is the Sea
merupakan sebuah film dokumenter yang menceritakan keluarga Bajau yang hidup di
Taman Nasional Wakatobi. Kehidupan keluarga suku Bajau mengalami perubahan
dalam lingkungan yang mereka tinggali, perubahan yang dihadapi oleh keluarga
Bajau tidak hanya pada perubahan lingkungan, namun dalam perubahan budaya yang
ada. Komunitas Bajau mengalami sebuah perubahan dalam budaya dan praktik agama Islam.
Perubahan yang terjadi pada komunitas Bajau ini disebabkan dari berkurangnya
jumlah ikan yang menjadi sumber mata pencaharian mereka, hal ini dapat
diketahui bahwasanya ikan menjadi sumber pencaharian mereka, namun mengalami
perubahan yang semakin menurun untuk didapatkan.
Ketentuan Bajau
menurut mereka seseorang muslim sejati bila sudah disunat, sehingga dalam
masyarakat Bajau sunatan tersebut sebagian dari tradisi. Sistem kepercayannya orang
Bajau mengenai gurita. Hal ini menjadi kepercayaan bagi orang Bajau ketika melukai
seekor gurita dan mengalami jatuh sakit, maka ia harus menebus kesalahan yang
dilakukan ritual sesembahan di laut agar bisa sembuh seperti semula. Film Our
Land is the Sea menceritakan perubahan yang terjadi dikarenakan adanya modernisasi,
modernisasi zaman dan perkembangan yang semakin maju. Hal tersebut ditandai
dengan para pemuda yang sekolah di darat kurang tertarik dengan kebudayaan
Bajau yang meneruskan hidup di laut. Kebanyakan pemuda lebih instan menikmati
kehidupan dengan modernisasi yang ada. Hal ini berdampak pada ketrampilan
sandro yang sejak saat ini semakin sedikit yang berminat dan mewariskan tradisi
sendro. Sehingga akhir yang didapatkan dalam Film Our Land is the Sea ini,
menunjukkan bahwa lingkungan sekitar, agama yang dipercaya, dan budaya yang
diwariskan sebagai satu keterikatan yang saling memengaruhi dan berkaitan erat.
Komentar
Posting Komentar