Santri versus Abangan

 

Peta Kajian Islam Jawa, mereview buku karangan Clifford Geertz yang berjudul “Religion Of Java”

THE SANTRI VARIANT (Santri versus Abangan)

Islam: Pengantar Umum

Islam adalah sebuah agama kenabian, yang mana ajaran kenabian membawa beberapa pengajaran seperti ;menganjurkan sikap menahan diri atau asketisisme yang moderat, melarang minuman keras serta perjudian ketika ada pengejaran kesenangan diri yang tak berbatas kearah maksiat, menolak simbolisme yang berlebihan, menyederhanakan upacara Peribadatan, memproklamasikan bahwa ajarannya adalah universal, menganjurkan perang suci terhadap mereka yang tidak beriman. Masa kerasulan Nabi menjadi waktu yang cepat berlalu, karena banyak yang mengikutinya secara langsung hingga wafatnya Nabi. Generasi Selanjutnya membaca dan mengamalkan ajaran Muhammad kebanyakan sesuai yang terdapat dalam inti dari Islam sendiri yang terdapat dalam Al Qur’an dan Hadis. Al Qur’an merupakan himpunan firman Allah yang diucapkan kepada nabi Muhammad antara tahun 610-622 Masehi, sedangkan Hadis adalah kumpulan kisah-kisah pendek (disebut sebuah Hadis) yang diceritakan oleh orang-orang yang mengenal Nabi secara pribadi semasa hidupnya dan menggambarkan beberapa perbuatan serta ucapan Nabi yang kemudian diturunkan dari abad ke abad untuk digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan umat Islam.

Dengan terpaku pada Al Qur’an dan Hadis, para ulama menyusun Syari’at di atas dua dasar itu. Syari’at adalah hukum Islam, sebuah kodifikasi perundang-undangan yang rumit, meliputi hampir setiap bidang kehidupan sosial, tetapi dengan titik berat khususnya pada urusan-urusan domestik. Dalam umat Islam, hal itu berlaku sebagai hukum, penafsiran hukum atas Al Q ur’an dan Hadis mengalami kristalisasi menjadi empat mazhab ortodoks, yang kesemuanya dianggap sama-sama sah dan suci. Sesudah abad Islam yang kedua dan ketiga, hukum itu tidak boleh diperluas lagi. Islam sendiri bberarti “pasrah”. Ucapan dan kesaksian iman umat Islam yang terkenal dilantunkan dan diyakini adalah“Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya”, menyatakan Isi kepasrahan dan kesaksian itu merupakan unsur paling dasar dari Islam, karena setiap orang yang mengucapkan serta meyakininya adalah seorang muslim.

Tuhan dari umat Islam adalah Allah, Tuhan Yang Esa ini, Maha Kuasa, Berdiri Sendiri dan Maha Agung. Allah memutuskan segala sesuatu menurut kehendak-Nya, yang tak bisa dijangkau, kecuali Kehendak-Nya sendiri agar diketahui manusia melalui rangkaian para nabi yang diutus kepada berbagai ras dan bangsa. Sebagai umat Islam akan menyakini para nabi yang diutus Allah dalam menyampaikan ajaran Islam. Selain itu, lima jenis ibadah yang disebut Rukun Islam adalah wajib bagi mereka yang beriman untuk menjalankannya. Pertama adalah kalimat Syahadat, kedua sembahyang yang dilakukan lima kali sehari, pada saat fajar menyingsing, tengah hari, sore hari, sesudah matahari terbenam, dan malam hari. Puasa, yang merupakan rukun ketiga, diwajibkan pada bulan Ramadhan. Puasa dilakukan dengan menahan diri tidak makan atau minum pada siang hari dari saat fajar subuh sampai dengan sore hari. Naik haji ke Mekkah diwajibkan sedikitnya sekali seumur hidup bagi mereka yang mampu dan berkecukupan memikul biayanya (terlarang bagi mereka yang tak mampu) yang dilakukan pada bulan Zulhijjah. Rukun yang kelima adalah zakat, yang diberikan kepada fakir miskin, orang yang tak mampu membayar utang, musafir yang kehabisan bekal, orang yan baru saja memeluk Islam, orang yang menuntut ilmu agama tetapi tidak punya biaya dan untuk melaksanakan perang suci.

Perkembangan Islam di Indonesia

Snouck Hurgronje, peneliti Islam yang berasal dari Belanda, menulis tentang Islam Indonesia seperti yang ditemukannya pada 1892, bahwa menjadi seorang Islam adalah sesuatu yang terpuji, Hurgronje menemukan di kalangan penduduk Indonesia yang beriklim tropis ini sedikit sekali monoteisme Timur dekat gurun yang telah dikenalnya di Mekkah. Namun, Hurgronje menulis ini pada akhir sebuah era dan permulaan era baru. Setelah 20 tahun setelah ia menulis, Muhammadiyah yang menjadi perkumpulan Islam modernis yang bersemangat tinggi yang didirikan di Yogyakarta. Mereka menyebutkan seperti yang dikenal orang Jawa disebut “masa Pergerakan” serta mengumumkan munculnya kaum muslim yang sadar diri dalam cakrawala sosial Indonesia.

Islam datang ke Indonesia dari India, dibawa oleh para pedagang dengan ciri Timur Tengahnya berupa orientasi terhadap kondisi kehidupan di luar telah ditumpulkan ke dalam Mistisisme India. Menjelang pertengahan abad ke-19, isolasi Islam Indonesia dari pusat pemancarnya di Timur Tengah mulai terpisah. Dari Hadramaut, padang tandus abad pertengahan Islam di ujung selatan Semenanjung Arab, datang para pedagang Arab dengan jumlah yang selalu bertambah, untuk menetap di Indonesia serta menyiarkan pengertian ortodoks dengan perkembangan pelayaran, orang-orang ndonesia mulai naik haji ke Mekkah dalam jumlah yang meningkat sampai pada masa Hurgronje tinggal di sana. Kemudian didirikan Muhammadiyah oleh seorang jama’ah haji setelah kembali pada 1912 dan bersama dengan lahimya Sarekat Islam, pada tahun yang sama sehingga kebangkitan ortodoksi menyebar dari kota-kota ke desa-desa.

Hampir setiap desa serta kota di Jawa, terdapat satu kelompok yang tinggal di tempat yang terpisah yang terdiri atas pedagang kecil dan petani yang agak kaya. Bagi mereka Islam bukan lagi ilmu mistik lain, tetapi sebuah agama yang unik, eksklusif dan Universalis yang kepasrahan terhadap kepada Tuhan. Di daerah  Mojokuto didirikan pada akhir abad ke-19, hampir seluruhnya jama’ah muslim yang sadar diri, terkristalisasi dari latar belakang abangan yang secara umum. Mayoritas kelas pedagang sebelum perang dan banyak penduduk petani yang menjadi jama’ah muslim Mojokuto, bermigrasi dari wilayah Islam yang kuat di bagian utara Jawa yaitu Demak, Kudus. Di Mojokuto juga mengalami setiap fase reformasi dan kontra-reformasi dalam komunitas Islam di Indonesia sepanjang abad ini sampai sekarang sekitar sepertiga penduduknya sebagai perkiraan besar adalah seorang santri.

Santri versus Abangan Perbedaan Umum

Ketika membandingkan varian abangan dan santri dari sistem keagamaan di Mojokuto, segera terlihat dua perbedaan umum yang mencolok, Pertama, kalangan abangan benar-benar tidak acuh terhadap doktrin, tetapi terpesona oleh detail keupacaraan. Sementara di kalangan santri, perhatian terhadap doktrin hampir seluruhnya mengalahkan aspek ritual Islam. Seorang abangan tahu kapan harus menyelenggarakan slametan dan apa yang harus jadi hidangan pokoknya dalam slametan misalnya menyediakan bubur untuk kelahiran, apem untuk kematian, yang mungkin memiliki beberapa gagasan tentang apa yang dilambangkan oleh berbagai unsur dalam hidangan dalam slametan yang dilakukan. Untuk kalangan santri, peribadatan pokok menjadi hal yang penting khususnya sembahyang, pelaksanaannya secara sadar dianggap oleh kalangan santri maupun non -santri sebagai tanda istimewa dari seorang yang benar-benar santri. Dalam Keadaan apa pun, peribadatan itu sederhana saja yang menjadi perhatian kalangan santri adalah doktrin Islam, terutama sekali penafsiran moral dan sosialnya.

Perbedaan kedua yang jelas antara varian keagamaan abangan dan santri terletak pada organisasi sosial mereka. Untuk kalangan abangan, yang paling dasar tempat hampir semua upacara berlangsung dalam rumah seorang pria, isterinya dan anak-anaknya. Rumah tangga ini yang mengadakan slametan dan para kepala rumah tangga juga yang datang mengikuti slametan itu, kemudian membawa pulang sebagian makanan bagi anggota keluarga Yang lain. Terdapat juga upacara bersih desa dalam kalangan masyarakat abangan. Untuk kalangan santri, rasa sebagai satu komunitas (umat adalah sisi keislaman yang dilihat sebagai serangkaian lingkaran sosial yang konsentris) sebagai komunitas yang semakin lama semakin lebar Mojokuto, Jawa, Indonesia, seluruh dunia Islam yang terbentang dari tempat berdiri seorang individu santri menjadi komunitas besar sebagai kumpulan orang-orang yang beriman serta mengamalkan dan mengikuti pengucapan nama Nabi, melakukan sembahyang dan membaca Al Qur’an.

Perbedaan umum antara santri modern pada abad ke-20 dengan antusiasme dan memandang kompleksitasnya semata-mata sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi, dengan mereka yang paling tepat menarik diri darinya serta memandangnya sebagai perangkap bagi mereka yang saleh, masih merupakan pembeda yang sangat penting di kalangan umat di Mojokuto. Dari sisi organisasi, Islam di Mojokuto berpusat pada empat lembaga sosial yang utama. Pertama, partai politik Islam berikut organisasi sosial dan amal yang berasosiasi dengannya. Kedua, sekolah agama. Lembaga ketiga yang merupakan bagian dari birokrasi pemerintah Pusat umumnya berada di bawah Menteri Agama yang mengurusi Pelaksanaan hukum Islam, pemeliharaan masjid. Lembaga yang keempat, adalah jenis organisasi Jema’ah yang lebih informal dan berpusat di sekeliling masjid desa serta Langgar.

Perkembangan Islam di Mojokuto

Wilayah Mojokuto sebagai pemukiman sekitar pertengahan abad ke-19. Awal mulanya ia memperoleh penduduk, terutama dari empat daerah di Jawa, yaitu yang disebut wilayah Mataram di Jawa Tengah (termasuk di dalamnya keraton Yogyakarta dan Surakarta), daerah lembah Kali Brantas yang mengalir dari utara Mojokuto ke Surabaya (Kartosono, Mojoagung, Mojokerto dan Krian), dataran Kediri yang membentang (ke arah Blitar, Tulungagung), dan pesisir utara Jawa (Gresik, Rembang, Kudus, Demak dan pulau-pulau Bawean serta Madura di Laut Jawa). Proses migrasi pertama dari daerah pantai utara terdiri atas para petani karena adanya disorganisasi sosial, tekanan ekonomi dan penindasan pemerintah sesudah perang Jawa antara tahun 1825-1830, serta karena pelaksanaan tanam paksa (Cultuurstelsel) oleh pemerintah kolonial di tahun 1830. Satu rombongan dengan sekitar 20 keluarga dari desa-desa Demak dan Kudus menetap di sebuah desa di kecamatan itu, persis di sebelah utara Mojokuto pada sekitar tahun 1860.

Sekitar tahun 1900, di antara penduduk tani yang tinggal di sekitar Mojokuto (yang kotanya sendiri hanya terdiri atas pos pemerintahan dan beberapa toko Cina serta pasar kecil yang diselenggarakan swasta) Sekitar tahun 1910, mulai berdatangan ke kota Mojokuto sekelompok pedagang keliling dari pantai Utara. Mereka berdagang rokok, kain murah, ikan asin, barang-barang dari kulit dan alat-alat kecil. Mereka tidak datang dari pedesaan, tetapi dari kota-kota yang merupakan pusat perdagangan, seperti Kudus, Gresik dan Lamongan. Mereka merupakan wakil tradisi pedagang kecil yang ada sejak abad ke-16. Ketika para pedagang Melayu dan India dalam pelayarannya ke Timur dari Malaka, menyebarkan Islam di kota-kota utara ini terdapat keterkaitan pedagang keliling dengan Mojokuto hanya sedikit, karena rumah mereka masih berada di utara. Di perjalanan mereka meniru metode perdagangan, gaya hidup serta adat keagamaan orang-orang Arab yang menjadi model dari perdagangan yang dilakukan tersebut.

Tiga kelompok yang terdiri dari petani, santri yang tinggal di desa, pedagang kecil yang bermukim di kota dan keluarga penghulu, menjadi sebuah aristokrasi kalau itu bukan kontradiksi dalam istilah di sekitar mana umat Mojokuto  yang mengalami kristalisasi. Untuk sebagian besar, mereka merupakan umat borjuis, karena para petani santri cenderung lebih kaya daripada petani abangan, meskipun jumlah yang pertama jauh lebih kecil dari jumlah golongan kedua. Kemudian, karena keluarga penghulu perlu dimuliakan, tidak pernah mendapatkan status sebagai priyayi, karena walau bagaimanapun mereka adalah seorang santri. Sebagian besar berada di bawah kepemimpinan kelompok penghulu, yang telah memberi isi kepada gerakan pembaruan dan kontra-pembaruan Islam di Mojokuto. Kesemuanya menjadi perbedaan-perbedaan sosial antar-kelompok ini yang menyebabkan munculnya konflik-konflik terhadap perbedaan atau kesamaan-kesamaan keagamaannya yang membuat konflik-konflik itu teratasi.

Lahirnya Modernisme: 1910-1940

Berdirinya sejumlah pesantren pada umumnya masih bersangkut-paut dengan pengajian Al Qur’an secara sederhana yang maknanya sebagian dapat dimengerti sebagian tidak dapat dimengerti. Masing-masing pesantren terpisah dan berdiri sendiri, menjadi sejenis agama sendiri di bawah naungan gurunya sendiri dan terkadang, bersaing dengan semua pesantren lain itu, kiai yang juga seorang haji dan karenanya dipanggil orang Kiai Haji Nazir yang ditakdirkan memainkan peran memimpin pada tiap tahap perkembangan berikutnya, menjadi penganjur terkemuka dan pembela modernisme Islam, serta diidentifikasi dengan modernisme Itu, sesuatu yang tidak pernah dialami orang lain di Mojokuto.  Nazir lahir di Mojokuto pada 1886, keturunan langsung gelombang pendatang pertama dari Kudus dan anak seorang kiai lama yang memimpin sebuah pondok di dekat kota dengan murid lebih dari 100 orang santri serta Ikhtisar riwayat hidupnya, ditulis untuk kepentingan dinas keagamaan.

Semasa pendudukan Jepang, menyatakan bahwa ia mulai belajar mengaji secara teratur di rumah pada waktu berusia tujuh tahun dan ketika usianya sudah mencapai 11 tahun, ia tinggal, belajar serta bekerja di sebuah pondok yang jauhnya sekitar 80 kilometer dari sana. Setelah empat tahun di Mekkah, ia kembali ke Jawa, di mana ia bepergian untuk belajar di berbagai pondok di Madura, Kediri, Sidoarjo dan Surakarta, hingga 11 tahun kemudian ia mengikuti “gerakan rakyat” Sarekat Islam (SI). Dengan adanya Nazir dalam Sarekat Islam yang asli adalah seorang priyayi tuan tanah terkaya di Mojokuto (ia juga seorang pegawai pengawas dalam pemerintah. Pada masa ini, SI yang merupakan satu-satunya partai politik massa di Jawa, menarik anggota-anggota dari kalangan yang paling sadar terhadap situasi sosial dan memiliki kecenderungan nasionalistis dalam semua kelompok.

Kepopuleran Nazir di kalangan kelompok konservatif meningkat ketika tidak lama sesudah mendirikan sekolah, ia membangun gerakan kepanduan Islam yang pertama di wilayah tersebut, menyelenggarakan kursus-kursus malam tentang Islam untuk perempuan di masjid Mojokuto dan mulai menuntut agar khotbah Jum’at di masjid yang waktu itu hanya merupakan tambahan bacaan berbahasa Arab dari imam, diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Namun, tindakan yang menyebabkan ia dianggap buruk di mata golongan kolot adalah usahanya untuk melembagakan dakwah agama keliling di desa-desa sekitar Mojokuto, dimana ia serta para pengikutnya mengajarkan urusan batin kepada kalangan tani yang merupakan umat Islam sebagai pedomannya. Salah seorang pengarang yang paling kontroversial dalam sejarah Islam modern, yaitu Muhammad Abduh, tokoh pembaharu Mesir.  Ia mencoba memperbaiki struktur yang racuh agar pengaruh dan praktik yang merusak seperti pemujaan para wali serta orang suci dibersihkan dari Islam. Agar pendidikan Islam diperbarui untuk memungkinkan pengajaran ilmu pengetahuan modern, Ilmu bumi, sejarah dan agama Eropa. Agar perhatian yang lebih besar difokuskan kepada kitab suci Islam, Al Qur’an dan Hadis, daripada kepada elaborasi sekunder yang didasarkan pada keduanya.

Periode Jepang: 1942-1945

Jepang melakukannya dengan praktik politik favoritisme yang sistematik terhadap unsur santri dari penduduk dalam sebuah percobaan untuk membujuk mereka ke dalam Ideologi Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Beberapa pimpinan Islam Mojokuto, baik dari Muhammadiyah maupun Nahdatul Ulama, dibawa ke Jakarta untuk dilatih dengan pandangan Jepang. Pemimpin-pemimpin Islam dari kedua golongan ini menduduki banyak pos penting dalam organisasi-organisasi yang disponsori Jepang di Mojokuto. Baik di Mojokuto maupun di desa-desa sekitarnya, mereka mengepalai organisasi dana bantuan untuk menolong para orang tua yang anaknya dikirim kerja paksa. Terdapat aspek lain politik Jepang, yakni fusi dari berbagai kelompok sosial dan politik saritri yang saling bertentangan dalam satu “partai”, Masyumi, yang mempunyai efek jangka panjang yang paling besar di kalangan umat. Masyumi di tingkat nasional dipimpin oleh Wahid Hasyim, anak kiai yang mendirikan Nahdatul Ulama serta pengganti ayahnya sebagai ketua organisasi itu dan Haji Mansur, pemimpin Muhammadiyah sebelum perang.

Untuk pertama kalinya, semua pendukung lama Sarekat Islam (sekarang disebut PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia), kalangan konservatif Nahdatul Ulama dan kaum modernis Muhammadiyah berada dalm satu partai. Partai itu berada dalam pengawasan penguasa Jepang hingga hanya memiliki sedikit kebebasan saja, tetapi seperti dalam banyak lapangan kehidupan nasional, orang-orang Indonesia sanggup mempelajari berbagai teknik yang digunakan dalam organisasi politik, mempelajari teknik permesinan politik serta melupakan ajaran-ajaran fasis segera setelah orang Jepang menghilang. Setelah solidaritas yang memuncak pada masa revolusi berlalu, masa dimana Masyumi memainkan peran penting, kesatuan yang baru dibentuk ini untuk sebagian menghilang. Akan tetapi, efek dari kerja sama yang diharuskan itu telah menyebabkan berbagai kelompok Ini kurang antagonists satu sama lain serta lebih terampil dalam organisasi serta intrik politik.

Periode Republik: 1945 Hingga Kini

Ketika Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, dua organisasi militer dimasukkan ke dalam struktur partai itu. pertama, Hizbullah, sebuah batalyon gerilya yang terdiri atas para pemuda yang tumbuh dari organisasi dengan nama yang sama, dibentuk oleh Jepang untuk memberikan latihan militer kepada para pemuda santri. Kelompok militer kedua adalah Sabilillah, Semacam pengawal garis belakang yang terdiri atas orang-orang yang lebih tua. Karena Nazir sudah meninggal, kelompok ini dipimpin oleh Haji Zakir, orang kawakan SI yang dalam kenyataannya tidak pernah melakukan apa apa. Mojokuto berada dalam wilayah Republik sampai “agresi” Belanda kedua, dimana ia jatuh ke tangan pasukan kolonial dan banyak bangunan kota dihancurkan oleh taktik bumi hangus pasukan Indonesia yang mundur. Kebanyakan pemimpin Masyumi mundur ke markas militer di dua desa tempat para migran pertama dari Kudus menetap yang merupakan desa yang paling kuat santri-nya di wilayah itu.

Pendapat umum dunia, keterampilan diplomatik para Pemimpin Indonesia dan keberanian orang Indonesia sendiri yang Mengesankan, menghasilkan kemerdekaan Indonesia. Masyumi berubah Dari perkumpulam revolusioner semimiliter menjadi partai politik sejati Yang meliputi seluruh Indonesia dalam sebuah konteks parlementer. Masyumi pada masa Jepang dan peran Terdepannya dalam revolusi. Banyak orang yang sebelumnya tidak pernah Berpartisipasi dalam organisasi Islam apa pun, masuk ke dalam Masyumi Pada periode ini; dan orang-orang baru ini tetap setia kepada partai baru Itu ketika mereka yang pada masa sebelum perang menjadi anggota Nahdatul Ulama atau Sarekat Islam mengundurkan diri. Ada partai Nahdatul Ulama, sekarang berfungsi Sebagai organisasi sosial maupun partai politik yang digabungkan Dalam satu kesatuan organisasi yang agak lemah. Ada Masyumi, partai Politik massa, sedikit lebih baik dalam organisasi, yang dipimpin oleh Orang-orang yang juga memimpin Muhammadiyah. Dan masih ada Juga Muhammadiyah sendiri, yang masih menyelenggarakan sekolah-Sekolah (sekarang memiliki setengah lusin sekolah), panti asuhan serta Kepanduan. Begitu pula, sekalipun ada kritik dari Nahdatul Ulama, Mereka masih menyelenggarakan sembahyang pada hari lahir Nabi Di alun-alun kota.

Konservatif Versus Modern: Latar Belakang Ideologi

Kaum konservatif sudah mengambil beberapa hiasan dari kaum modernis; kaum modernis sudah kurang intens dalam mengkritik praktik-praktik konservatif yang mereka anggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Namun, perbedaan doktrin di antara kedua kelompok itu tetap berlangsung dan antagonisme sampai tingkat tertentu terus saja tampak di antara mereka. Dengan munculnya partai-partai sejak revolusi, maka secara kasar umat dibuat stabil dalam bentuk yang telah dicapainya ketika Jepang datang. La (Sekretaris Muhammadiyah) mengatakan bahwa Muhammadiyah adalah satu-satunya organisasi di Indonesia yang memiliki bangunan paling banyak, melakukan pekerjaan paling banyak dan sebagainya. Ia mengatakan bahwa mereka memiliki banyak Poliklinik di banyak kota besar serta banyak panti asuhan, sekolahan, seperti halnya di sini, di Mojokuto

Perbedaan pokok antara NU dan Muhammadiyah adalah bahwa yang terakhir ini modern, sedangkan yang pertama kolot; Muhammadiyah ingin mempersatukan Timur dan Barat, NU hanya menginginkan Timur saja. Namun disisi lain Dr. A.R. Hanifah (semua pemimpin nasional Masyumi) dan Membandingkannya dengan NU yang hanya memiliki kiai dan sejenisnya, yang benar-benar tidak memiliki orang berpendidikan. Ia mengatakan bahwa NU lebih memperhatikan soal agama dibandingkan dengan Masyumi dan Masyumi lebih banyak mengurusi politik. Katanya, pemimpin-pemimpin NU tak diragukan cukup mendalam ilmu agamanya, tetapi mereka tak tahu urusan memimpin negara. Terdapat juga perbedaan antara kelompok yang dianggap kolot dengan kelompok yang modern antara lain sebagai berikut;

Kelompok kolot cenderung menitik beratkan hubungan dengan Tuhan dan sebagai ganjaran untuk keteguhan moral, kelompok modern cenderung menitik beratkan hubungan dengan Tuhan, dimana kerja keras dan penentuan nasib sendiri menjadi titik beratnya. Kelompok kolot cenderung memegang sebuah konsep yang “totalistik” terhadap peran agama dalam kehidupan, dimana semua aspek manusia cenderung memiliki makna keagamaan  Kelompok modern cenderung memegang pengertian yang sempit tentang agama dimana hanya aspek-aspek tertentu yang jelas batasnya yang dianggap suci dan dimana batas antara apa yang agama serta apa yang sekuler cenderung cukup tajam. Kelompok kolot cenderung kurang menaruh perhatian namun memperhatikan kemurnian Islam Kelompok Modern cenderung bersikeras untuk Islam yang sudah dimurnikan dari elemen keagamaan lain. Kelompok kolot cenderung memberi tekanan pada aspek pemenuhan agama secara langsung, menekankan pengalaman keagamaan. Kelompok modern cenderung memberi tekanan aspek instrumental dari agama, memperhatikan perilaku keagamaan. Kelompok kolot cenderung membenarkan praktik dengan kebiasaan dan berdasarkan pembelajaran skolastik yang terperinci terhadap ulasan keagamaan yang tradisional. Kelompok modern cenderung membenarkan hal itu atas dasar nilai pragmatisnya dalam kehidupan masa kini dan dengan rujukan umum kepada Al Qur’an dan Hadis.

Takdir Versus Ikhtiar

Kaum modernis seringkali mencemooh kepercayaan konservatif sebagai agama “kuburan dan ganjaran”, Maksudnya bahwa agama itu terutama sekali berhubungan dengan kehidupan sesudah kematian dan usaha memperoleh ganjaran dari Tuhan.  Baik Dullah dari Masyumi maupun Aziz dari PSII mengeluh setelah rapat NU di masjid. Tentang perhatian NU yang eksklusif terhadap agama dan hidup sesudah mati. Dullah mengatakan, “Ini tidak cocok. anda harus mengatasi situasi sekarang,” dan Aziz mengatakan, “Apa yang menarik perhatian mereka adalah kuburan dan ganjara. Beberapa orang, terutama yang lebih lanjut usianya dan lebih kolot, menitikberatkan bagian takdir dari soal itu dan menganggap semua hal sebagai soal takdir. Sementara yang lain, terutama orang-orang yang lebih muda seperti dia, meski masih beriman kepada takdir.

Agama Totalistik versus Agama Terbatas

Dalam pengertian ini, semua santri bersifat totalistik berlawanan dengan orang abangan dan priyayi yang menganggap agama hanya sebagian dari kehidupan dengan pola serta tujuan khususnya sendiri dan kurang lebih sama kedudukannya Dengan bagian-bagian kehidupan lainnya, sehingga tidak perlu diberi pembenaran agama secara eksplisit. Akan tetapi, bagi kaum santri, yang terakhir inilah yang justru jadi persoalan: bagaimana kehidupan sekuler Ini diberi pembenaran agama? Sementara kaum konservatif mempunyai kecenderungan menganggap Islam memberi arah yang memadai dan jelas dalam semua lapangan usaha manusia, dari urusan rumahtangga Sampai politik, kaum modemis menunjukkan kesediaan yang lebih besar untuk membolehkan lembaga-lembaga sekuler bergerak cukup bebas dari detail-detail ajaran agama yang menghalanginya, asal saja dalam hubungan pokoknya dengan ajaran agama, tidak ada ketentuan yang Jelas-jelas melarang

Islam Sinkretik versus Islam Murni

Meskipun tampaknya mereka lebih saleh, kaum konservatif bersikap agak lebih fleksibel terhadap upacara-upacara kaum abangan di satu pihak dan kaum mistik priyayi di pihak lain. Namun, paradoksnya, Fleksibilitas itu tidak menunjukkan adanya toleransi yang lebih besar; kaum konservatif akan lebih mungkin langsung menyerang praktik “kufur” kalangan bukan santri dibandingkan kalangan modernis yang lebih khawatir terhadap heterodoksi di kalangan umat sendiri daripada di luar. Fleksibilitas itu hanya merupakan sebuah pandangan tentang apa yang dapat dianggap bersifat Islam, atau kalaupun tidak bersifat Islam, tidak cukup berbahaya untuk dilaksanakan secara sah oleh seorang muslim. Misalnya, makhluk halus yang dipanggil dalam slametan disebut jin dan kalau pembacaan Al Qur’an dilakukan di dalamnya, maka slametan ini paling-paling hanyalah merupakan pertemuan para tetangga yang menyenangkan, sebuah adat yang kecil artinya secara keagamaan dan karenanya, akan memalukan jika tidak diikuti.

Pengalaman Religius versus Perilaku Keagamaan

Pandangan pihak kolot terhadap pertentangan yang keempat dan kecenderungan untuk menekankan aspek pemenuhan agama secara langsung, cukup tampak dalam perhatian terhadap “berkah”, dengan “ketenangan batin’’ serta sikap yang relatif toleran terhadap upacara Abangan dan mistik sebagaimana diuraikan di atas. Demikian juga, pihak modern dalam perbandingan itu tampak dalam penekanan terhadap kerja keras dan kemurnian agama serta perhatian terhadap kemajuan sosial yang sudah ada. Di pihak lain, kaum konservatif yang juga kurang mempunyai ninat pada wayang dan tari-tarian keraton, kebanyakan di sekitar Sistem pondok, menciptakan kesenian yang cukup hidup yang diambil dari orang-orang Arab. Hal ini berlawanan dengan seni kaum priyayi yang dikekang oleh formalitas dan estetika puritan kaum modernis

Adat dan Skolastikisme versus Pragmatisme dan Rasionalisme

Ada pertentangan antara sikap kaum kolot pada ajaran skolastik yang terperinci, dengan kcenderungan kaum modem untuk mengambil saja perintah-perintah umum dalam Al Qur’an dan membenarkannya secara pragmati kaum modernis, di pihak lain, cenderung menolak adat tradisional orang Islam yang mereka anggap tidak sesuai dengan semangat Islam sejati. Dengan mengutip sebagian saja, orang bisa mengambil hukum untuk pendapat yang mana pun. Karena harus mengambil jiwa dari Hadis itu secara keseluruhan, semua kutipan mengenai masalah itu, katanya. Mengenai argumen dari fatwa-fatwa keagamaan sekunder, kaum  modernis cenderung hanya mengatakan bahwa lebih baik berpegang teguh pada A1 Qur’an serta Hadis  Untuk kebiasaan yang mereka anggap “sesuai” dengan Al Qur’an dan Hadis, kaum modernis cenderung menambahnya dengan rasionalisasi Pragmatis. Demikianlah, sembahyang dianggap benar karena merupakan latihan jasmani yang baik dan sehat

Islam Konservatif dan Modern dan Pandangan Tradisional Jawa

Kaum modern yang usaha-usahanya didukung oleh neberapa perabahan yang berarti dalam bentuk-bentuk organisasi sosial, hanya kadang-kadang saja berhasil mengatur tingkah laku menurut waktu yang lama, kebanyakan orang kristen merupakan penyembah berhala. Kaum modemis menekankan jalan atau perceraian radikal dari konteks itu dan pemurnian doktrin dalam sebuah kelompok kecil pemimpin-pemimpin agama. Kaum konservatif mencoba mengambil jalan tengah yang selaras dengan tradisi yang berlaku. Demikian, membuat transisinya lebih mudah serta meredakan ketegangan antara dirinya dengan tetangganya yang tidak sepakat dengannya. Begitu juga ketika seseorang melihat bagaimana variasi dalam doktrin keagamaan Islam ini dilembagakan di Mojokuto, bentuk sosial yang diambilnya serta konteks sosial dimana semua itu berada, potret itu tidak menjadi lebih jelas, melainkan justru semakin kabur.

Pola Organisasi Internal Komunitas Santri bab

Ada dua partai politik besar kaum santri di Mojokuto, Masyumi dan Nahdatul Ulama (NU) satu partai kecil, Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII); serta satu organisasi sosial yang berkenaan dengan pendidikan Dan berbagai kegiatan amal yang mengklaim tidak politis, tetapi yang pada kenyataannya teijalin rapat dengan Masyumi, yaitu Muhammadiyah. Pada umumnya Masyumi-Muhammadiyah dianggap oleh setiap orang sebagai “progresif” atau “modernis” dan NU dianggap sebagai “konservatif” dan “kuno”. (Di Mojokuto, PSII biasanya dikelompokkan Ke dalam sektor modernis). Kehidupan santri Mojokuto daripada yang dimainkan oleh partai Republik dan demokrat untuk kebanyakan kelas menengah perkotaan Amerika. Sebagaimana keadaan di daerah-daerah pedesaan barat-tengah dan selatan Amerika, serta bagi beberapa kelompok etnis tertentu yang tertindas di kota-kota kita, partai politik bagi santri Jawa bukan hanya sebuah kumpulan rakyat yang longgar dan memiliki kebiasaan memilih partai yang sama. Partai-partai itu dianggap sebagai organisasi sosial, persaudaraan, rekreasi dan keagamaan, dimana ikatan Kekeluargaan, ekonomi dan ideologi bergabung. Pada umumnya, dalam kedua Partai itu, kalangan muda, yang terpelajar, penghuni kota dan yang Kurang religius lebih cenderung menjadi modern. Perpaduan ikatan kekeluargaan, ekonomi dan ideologi dalam kedua partai itu tidak pasti benar, mengalami distorsi, sehingga anak seorang kiai kolot yang berpikiran modern bisa saja menjadi pemimpin NU karena kesempatan, bukan karena keyakinan dan karena direncanakan sama seperti seorang modernis bisa masuk NU hanya karena berpikir bahwa ia akan memperoleh posisi lebih kuat di sana akibat kurangnya pemimpin yang terpelajar.

Kepemimpinan Politik-Keagamaan

Di Mojokuto, konflik kepemimpinan muncul dalam ukuran berbeda untuk masing-masing partai. Pada NU, konflik itu berlangsung antara pemimpin-pemimpin yang lebih muda, lebih terpelajar dan telah terpengaruh kota, dengan kiai-kiai pedesaan yang lebih tua, yang agaknya lebih menghendaki NU tetap dalam garis perjuangan konservatif. Kaum muda ini modernismenya seringkali hampir sekuat pemimpin-pemimpin Masyumi   Ada tiga atau empat orang kolot yang berusia 6o-an tahun yang tugas utamanya adalah berkomunikasi dengan rakyat jelata dan para kiai di desa yang menjadi pemimpin spiritual mereka serta untuk meyakinkan kedua kelompok itu bahwa partai tidak jatuh ke tangan-tangan yang berdosa. Kemudian ada lagi tiga atau empat orang muda yang membuat bagan garis partai dalam peijuangan politik lokal, memberinya semacam kemiripan dengan organisasi yang efektif dan menyampaikan perintah-perintah dari pimpinan pusat, sementara pemimpin-pemimpin partai setempat dapat mengatakan bahwa NU adalah partai yang benar-benar sangat konservatif.

Sementara itu di kalangan pimpinan Masyumi Muhammadiyah, konfliknya adalah antara keinginan untuk Islam dan kebutuhan untuk menjamin bahwa hal ini tidak akan menuju ke sekulerisme perbedaannya terletak dalam kenyataanya bahaya pada kelompok yang pertama adalah kecukupan sosial akan dikorbankan untuk kepuasan keagamaan dan partai itu akan kehilangan efektivitas politiknya, sementara pada kelompok yang  kedua, yang menjadi bahaya adalah validitas keagamaan mungkin akan dikorbankan untuk efisiensi sosial, mencabut dasar dukungan massa dari partai itu. Dalam pengertian inilah NU bisa disebut “konservatir dan Masyumi-Muhammadiyah “modern”.

Kegiatan Politik-Keagamaan

Dewan pimpinan kedua partai, bertempat di kota Mojokuto (salahsatu pengecualian yang menonjol adalah anak Nazir, yang menjadi anggota dewan pimpinan, tetapi tinggal di desa di pinggir kota itu), senantiasa menjaga hubungan dengan massa pengikutnya, yakni penduduk 17 desa di sekitarnya, dengan berbagai cara. Anggota dewan pimpinan biasanya berkeliling ke desa-desa untuk berpidato dalam rapat cabang setempat mengenai masalah-masalah politik nasional. Pengajian mingguan yang teratur (terpisah untuk masing-masing jenis kelamin) diadakan, dimana ahli-ahli agama dari masing-masing partai, tetapi tidak selalu anggota dewan pimpinan, berpidato tentang Islam. Metode penting lain yang digunakan oleh dewan pimpinan di kota untuk berkomunikasi dengan pengikut di desa adalah rapat massa, dimana pembicara dari hirarki partai yang lebih tinggi bersama-sama dengan pemimpin setempat di Mojokuto berpidato mengenai masalah-masalah sosial dan politik. Contoh jenis pertemuan pertama dimana dewan pimpinan partai memutuskan politik partai di depan semua pemimpin setempat yang ada di wilayah itu adalah pertemuan yang diselenggarakan oleh Masyumi di sebuah desa di wilayah Mojokuto di bawah pimpinan Usman, anak H. Nazir. Hampir semua anggota dewan pimpinan dan Semua pimpinan desa hadir.

Organisasi Politik-Keagamaan

Organisasi para perempuan muda demikian kerasnya ditentang oleh pemimpin-pemimpin agama di desa, sehingga organisasi Itu hanya muncul di lingkungan yang benar-benar modernis di dalam Kota. Organisasi kepanduan, yang memiliki kepopuleran tertentu debelum perang, kabarnya semakin melemah sekarang ini. Di desa-desa, para kiai paling banter masih bersikap mendua terhadapnya; di kota-koya, semua orang, kecuali anak-anak kecil, menganggap kepanduan agak berada di bawah derajat mereka. Akibatnya, walaupun pandu NU dan Muhammadiyah, Ansor dan Hizbul Wathon (pandu PSII disebut SIAP), masih cukup aktif menyelenggarakan pperkemahan Organisasi itu berurusan dengan pengadaan gudang simpanan (lumbung) padi petani agar mereka bisa menghindari fluktuasi harga dan pemberian pinjaman kepada petani untuk usaha pertanian kecil. Organisasi buruh merupakan masalah yang lebih sulit lagi. Buruh-buruh perkebunan dan kota dimana organisasi seperti itu diharapkan akan mempunyai pengaruh, ternyata sebagian besar adalah abangan beraliran kiri. Karena kaum santri sebagian besar merupakan “kelas menengah” dan secara politis beraliran kanan, maka sebuah organisasi buruh Islam akan memiliki masalah yang sama dengan serikat buruh yang didukung Partai Republik di Amerika Serikat. 

Contoh terbaik dari kecenderungan sentralisasi dalam kepemimpinan Masyumi adalah Muhammadiyah, sebuah perkumpulan kedermawanan sosial yang anggota-anggotanya mendominasi kepemimpinan Masyumi. Muhammadiyah mungkin adalah organisasi privat paling efektif. Ada dua jenis kegiatan utama Muhammadiyah: amal kemasyarakatan dan pendidikan, masing-masing berada di bawah komisi tetap khusus. Kegiatan jenis pertama di Mojokuto adalah panti asuhan, pembagian daging untuk fakir miskin pada hari Idul Adha dan penyelenggaraan sedekah wajib kepada fakir miskin, zakat fitrah di penghabisan bulan puasa, pada hari raya Idul Fitri. Namun, zakat fitrah dikumpulkan di banyak desa oleh berbagai organisasi. Muhammadiyah, NU dan PSII mengumpulkannya di kota-kota. NU dan Masyumi mengumpulkannya di tiap desa yang kelompok santri-nya kuat dan banyak.

Konservatif versus Modern: Oposisi yang Berimbang

Organisasi sosial masyarakat santri Mojokuto umumnya seperti Masyumi-Muhammadiyah di satu pihak dan Nahdlatul ulama di pihak lain merupakan penentu poros utama yang membagi umat di Mojokuto menjadi dua bagian karena hubungan di antara kedua kelompok itu hanya sedikit berlawanan, perasaan berbeda jarang sekali mencapai intensitas yang cukup tinggi untuk menghapuskan rasa kebersamaan dalam kepercayaan agama di antara keseluruhan umat, sebuah rasa yang diperkuat oleh permusuhan yang hampir universal dari kalangan nonsantri kepada santri. Tampaknya apa yang ada di sini adalah semacam organisasi yang secara implisit merupakan belahan dan lebih didasarkan pada komitmen keagamaan daripada hubungan kekeluargaan, Dengan berjalannya waktu, partai-partai politik  rupanya semakin lama semakin bertambah penting sebagai dasar organisasi sosial kaum santri di desa maupun kota, menggantikan ikatan  geografis yang lama dengan ikatan ideologi NU berusaha mewadahi  bentuk-bentuk ikatan sosial keagamaan tradisional yang berpusat di sekitar pondok dengan struktur partai politik modern yang hanya sedikit saja mengubah bentuk ikatan tradisional itu. Sedangkan  Masyumi-Muhammadiyah mencoba mengganti bentuk lama itu dengan  mengajukan beberapa model buatan  organisasi tersebut.

Pola Ritual Santri

Kehidupan ritual santri diatur dalam waktu sembahyang sebanyak lima kali yaitu shubuh, zhuliur, ashar, maghrib dan isya yang diulangi setiap hari dalam bentuk sederhana yang sama. Sembahyang shubuh, zhuhur dan isya biasanya dilakukan di rumah, sembahyang maghrib sering dilakukan (oleh para laki-laki, sementara para perempuan selalu bersembahyang di rumah) dengan beberapa teman di langgar yang berdekatan, sembahyang Jum’at selalu dilakukan di masjid bersama seluruh umat desa. Pola sembahyang sesuai benar dengan siklus kehidupan sehari-hari petani. Sembahyang pukul 5:00 pagi menyebabkan ia bangun pagi dan bekerja lebih awal. Tengah hari atau pukul dua, pekerjaan selesai dan sembahyang yang kedua bisa dikerjakan untuk diikuti dengan makan besar pada hari itu serta tidur siang pada puncak panasnya udara. Pada Pukul tiga atau empat, ia bangun untuk sembahyang ashar, kemudian kembali lagi ke sawah kalau pekerjaannya, bertandang ke tetangga pada sore hari yang sejuk dan berakhir di langgar untuk melaksanakan sembahyang maghrib. Lalu, Ia pulang ke rumah untuk makan malam, sembahyang isya dan tidur. Sembahyang Jum’at berjama’ah mencerminkan kebersamaan simbolik umat seluruh desa dan perasaan memiliki “masjid sendiri”

 

Demikian kuatnya, sehingga orang yang berpindah dari desa ke kota yang berdekatan sering kembali ke masjid di desanya untuk sembahyang Jum’at. (Bagi mereka yang tinggal di sekeliling masjid, bangunan itu bertindak sebagai langgar pula, dimana sembahyang maghrib dilakukan setiap hari persoalan apakah khotbah hams diterjemahkan atau tidak masih masalah yang hangat. Kebanyakan masjid konservatif enggan melakukannya dan selalu menggunakan khotbah berbahasa arab yang ditulis bertahun-tahun yang lalu oleh seorang kiai Jawa yang termasyhur dari Semarang. Khotbah berbahasa Jawa yang distensil oleh Jawatan penerangan agama disebarkan ke semua masjid yang pengurusnya mau menggunakannya, tetapi hanya sedikit yang melakukannya. Mereka yang mau menyampaikan khotbah yang diterjemahkan ingin menyampaikan pokok-pokok pikiran yang lebih politis karena sekarang mated khotbah itu cenderung berkisar di seputar masalah-masalah sosial dan politik yang sama banyaknya dengan soal-soal keagamaan. Dengungan Itu menghimpun lingkungan ketetanggaan santri tiap malam serta desa santri tiap Jum’at, mencapai tingkat kesolidan yang paling tinggi pada bulan puasa,  Setelah matahari terbenam, setiap hari di bulan puasa, setiap orang makan sekenyang-kenyangnya, lalu berkumpul di langgar untuk melakukan sembahyang malam

Dan sesudah itu, taraweh (tidak lama sebelum ini, orang Mendengar anak-anak di sekeliling tiap langgar berteriak dengan riang, Traweh. Traweh, Traweh”, dengan cara yang agak menyerupai teriakan dalam sepakbola). Taraweh terdiri atas shalat tambahan (shalat, bukan do’a yang bebas) sebagai tugas tambahan walaupun sebenarnya shalat bersifat sukarela selama bulan puasa. Darus adalah pembacaan Al Qur’an ayat demi ayat; ini juga sukarela dan dirasakan kurang resmi dibandingkan dengan taraweh. Ada dua hadis yang sah mengenai ini, yang pertama mengatakan bahwa orang harus mengerjakan 23 raka’at dan yang lain mengatakan orang harus mengerjakan 11 raka’at. Sampai dengan datangnya modernisme, 23 adalah jumlah yang diterima di Jawa sebagai ortodoks dan orang NU masih melakukan 23 raka’at ini. Namun, orang Muhammadiyah-Masyumi kebanyakan mengerjakan 11 Raka’at. Sembahyang di bulan puasa mencapai puncaknya dengan sembahyang pagi hari di akhir liburan puasa, Idul Fitri.

Penetapan hari akhir puasa dari pendapat antara kelompok modern dan konservatif. Beberapa minggu sebelum puasa, orang Muhammadiyah menerima pengumuman kapan tanggal mulai dan akhirnya dari kantor pusat di Yogyakarta, dimana jatuhnya hari-hari itu dihitung oleh pemimpin-pemimpin mereka menurut sistem hitungan perjalanan bulan yang terdapat dalam kitab-kitab Islam. NU dan juga Departemen Agama yang didominasi oleh NU karena tidak percaya kepada sistem ini, seperti juga banyak kaum empirisis yang gelisah menunggu ketetapan bulan akhir dari puasa. Adapun tujuan puasa yang dilakukan kaum santri, dilakukan untuk menunjukkan Keta’atan kepada perintah Tuhan, untuk merasakan bagaimana rasanya lapar, sehingga orang bisa memahami bagaimana rasanya menjadi orang miskin dan tidak cukup makan, untuk memperkuat diri agar orang anggup menanggung penderitaan apa pun yang menimpanya, serta puasa juga sebagai latihan rohani.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendekatan Ma’na Cum Maghza

Pendidikan Generasi Muda

Pemikiran Nurcholish Madjid Terhadap Politik Indonesia