SEJARAH SASTRA
SEJARAH SASTRA SEBAGAI BAGIAN BUDAYA JAWA
Oleh
Wakhidatus Zahro’un Nihlah
PENDAHULUAN
Sastra Jawa tentunya
menjadi sebagian kecil dari hasil budaya Jawa yang bermacam luasnya. Jika
disesuaikan dengan teori sejarah bahwa karya sastra merupakan cermin keadaan
sosial budaya tertentu karena karya sastra dipakai sebagai elemen yang penting
untuk mengungkap suatu budaya masa lampau yang telah kehilangan jejaknya.[1]
Perjalanan sejarah sastra Jawa juga mencatat sebagian budaya Jawa secara luas.
Budaya Jawa yang pada sejarahnya telah melalui perjalanan dengan pengaruh
budaya-budaya besar dari luar. Pada akhirnya budaya jawa tersebut juga
dilakukannya sebuah upaya untuk mengkombinasikan serta mengkomunikasikan antar
manusia melalui bahasa. Sejarah sastra Jawa ini berkaitan dengan kehidupan
masyarakat Jawa tentunya perlu diketahui dan ditelusuri bahwa sejarah sastra
Jawa tersebut yang mencakup beberapa komponen penting di dalamnya
Melalui adanya sejarah
sastra Jawa tersebut tentunya juga menunjukkan dalam kehidupan masyarakat
betapa pentingnya untuk mengetahui terhadap sejarah sastra Jawa tersebut serta
mengetahui perkembangan sastra Jawa sebagai bekal pengetahuan yang baik.[2]
Hal ini menunjukan suatu hal baik karena sebaik-baiknya seorang yang cerdas
adalah tidak melupakan sejarah masa terdahulu. Sehingga tujuan dari adanya
penulisan artikel ini diharapkan mampu mengarahkan dan memberikan pemahaman
kepada pembaca dan juga untuk meningkatkan minat dari pembaca untuk mencintai
cerita sejarah-sejarah baik sejarah sastra maupun sejarah budaya yang ada.
Dengan demikian, dalam penulisan artikel ini akan menunjukkan beberapa rumusan
masalah yang akan di bahas dalam pembahasan yang mencakup rumusan berikut ini;
bagaimana sejarah sastra Jawa agar bisa dipahami alurnya?, serta bagaimana
konsep penting yang tercantum dalam sastra Jawa?, dan apa saja fungsi dari
sastra Jawa tersebut?.
ISI DAN PEMBAHASAN
Sastra Jawa Bagian Dari Budaya Jawa
Perjalanan sejarah sastra
Jawa juga mencakup sebagian budaya Jawa secara luas. Budaya Jawa yang sejatinya
didasarkan sejarahnya telah melalui perjalanan yang panjang dengan pengaruh
budaya-budaya besar dari luar. Sehingga hasil dari budaya dikomunikasikan antar
manusia melalui bahasa dan sastra. Perkembangan bahasa Jawa dari periode ke
periode berikutnya itu selalu meninggalkan warisan-warisan sastra dengan
ciri-cirinya masing-masing yang menjadi ciri khas masing-masing tersebut yang
menjadi pembeda antara perkembangan bahasa yang ada.[3]
Awal mulanya suatu kebudayaan Jawa dihasilkan dengan corak dari budaya animisme
dan dinamisme. Dari budaya tersebut setidaknya menunjukkan penampakan jejaknya
pada berbagai bentuk sastra lisan, seperti halnya sastra Jawa. Bentuk doa-doa
yang disampaikan dalam rangka penyampaian sesaji kepada sing mbaureksa,
yakni makhluk supernatural penguasa pada tempat-tempat tertentu, kayu besar,
batu keramat, goa-goa, sehingga doa-doa yang dilantunkan tersebut bisa dianggap
bernilai estetis sebagai karya sastra.[4]
Selain itu,
mantera-mantera yang hingga saat ini masih sering diajarkan oleh guru atau
dukun-dukun yang mengajarkan ilmu. Sebagian dari mantera tersebut mengandung
nilai keindahan yang juga dapat dikategorikan sebagai hasil sastra. Selain itu,
yang mencakup contoh sastra jawa seperti cerita wayang purwa yang bersumber
pada kitab suci Hindu, Mahabharata dan Ramayana yang telah disalin,
diterjemahkan, atau bahkan disesuaikan dengan berbagai mitos dan situasi di
Jawa, sehingga menjadi cerita kepahlawanan yang dianggap sebagai cerita leluhur
Jawa.[5]
Dalam sastra wayang, aspek-aspek budaya yang berasal dari India dan tidak
berlaku di Jawa, sehingga perlunya diubah dan disesuaikan dengan nilai-nilai
budaya yang ada di Jawa. Sebagai contoh konsep budaya Poliandri yang terjadi
pada perkawinan Drupadi dengan kelima para Pandawa, yang ada dalam Mahabharata
India, dimodifikasi menjadi konsep monogami, yakni perkawinan Drupadi dengan
Puntadewa dalam cerita di Jawa.
Ditandai pada abad ke-14
pengaruh agama Islam di Jawa nampak karena didukung oleh kekuasaan
kerajaan-kerajaan sepanjang pantai utara Jawa, yaitu kerajaan Demak. Dari
pengaruh tersebut mendorong agama dan kebudayaan Islam sangat kuat di berbagai
hasil karya sastra Jawa, terutama karya-karya sastra pesisiran dan karya sastra
yang dianggap sebagai sastra mistik Islam-kejawen. Sastra mistik Islam-kejawen
ini contohnya dalam bentuk sastra mistik yang disebut sastra suluk atau wirid.[6]
Sesungguhnya yang disebut Islam-kejawen ini tidak lain adalah budaya Jawa yang
telah diwarnai oleh akumulasi pengaruh dari budaya Jawa sebelum Islam maupun
setelah Islam masuk. Karya-karya sastra seperti sastra wayang (purwa)
yang semula berasal dari budaya Hindu, sekarang ini telah dipengaruhi oleh
budaya Islam. Bahkan dalam sejarah perkembangan sastra lisan, masyarakat jawa
mempercayai bahwa para Wali penyebar agama Islam melalui budaya wayang purwa
sebagai salah satu sarana dakwah.
Karya-karya sastra juga
mendapat pengaruh Islam sebagiannya telah menggunakan bahasa Jawa baru dengan
diwarnai berbagai kosa kara bahasa Arab. Namun, jejak-jejak bahasa Jawa Kuna
tidak semata musnah.[7]
Pada kegiatan tertentu, masih sering terdengar berbagai kosa kata yang berasal
dari bahasa Jawa Kuna. Dari sejarah sastra yang telah diruntutkan
perkembangannya juga terdapat periodisasi sejarah
sastra Jawa pada penekankan periodisasi, yakni pembagian waktu berdasarkan
periode-periode atau tahapan-tahapan waktu-waktu tertentu. Pada umumnya
tiap-tiap periode mencerminkan ciri-ciri tertentu secara khusus yang melekat
pada hasil-hasil karya sastra di dalamnya, yang tidak ditemukan pada periode
yang lainnya.[8]
Ciri-ciri khusus tersebut pada karya sastra antara lain pada segi isinya,
bahasanya, dan bentuknya.
Konsep Sastra Jawa dan Fungsi Sastra Jawa
Dalam sebuah ilmu sastra
terdapat komponen yaitu teori sastra dan kritik sastra. Teori sastra disusun
secara langsung dalam studi sejarah sastra, kritik sastra ini juga tidak akan
lepas dari pemikiran, pertanyaan-pertanyaan, generalisasi yang diungkapkan
untuk menselaraskan. F.W. Bateson berupaya memisahkan sejarah sastra dari teori
sastra dan kritik sastra. Alasan pemisahan tersebut karena menurutnya sejarah
sastra menunjukkan A berasal dari B. Sedangkan kritik sastra menunjukkan A
lebih baik dari B.[9]
Pengandaiannya bahwa hubungan A dan B pada sejarah sastra dapat dibuktikan
sedangkan pada kritik sastra tergantung pada pendapat dan keyakinan yang
diungkapkan. Namun pendapat tersebut disanggah oleh Wellek dan Warren (1993:
39) dengan menyatakan bahwa tidak ada satu pun data dalam sejarah sastra yang
sepenuhnya netral karena penilaiannya selalu tersirat pada setiap pilihan bahan
sastra, antara lain menentukan mana yang sastra dan mana yang bukan.[10]
Latar belakang penciptaan
sastra sesungguhnya mencakup adanya dua aspek yang berhubungan dengan erat,
yakni aspek pencipta (pengarang) dan aspek dunia nyata yang menjadi referensi
yang melingkupi hidup dan kehidupan pengarang. Pada aspek sastra tersebut berdasarkan
pada referensi yang menyangkut dua hal. Pertama, aspek mimetik mengarah
terhadap lingkungan alam dan lingkungan sosial pengarang. Kedua, aspek reseptif
yang mensinkronkan pada karya sastra lain yang telah ada sebelumnya.[11]
Oleh karena itu sejarah sastra dalam fungsi-fungsinya dapat ditelusuri dengan
pendekatan mimetik dan reseptif tersebut.
Sejarah sastra juga
berfungsi untuk menempatkan suatu karya sastra pada eksistensinya sebagai karya
yang berpengaruh pada berbagai segi kehidupan manusia. Pengaruh sastra pada
pembaca dapat terjadi pada pembaca masa lalu dan pada pembaca masa kini, sehingga
mampu memunculkan keterkaitan atau kesinambungan karya tersebut. Wellek dan
Warren menuliskan (1993: 43) bahwa sejarawan sastra tidak akan merasa dirinya
puas apabila menilai karya sastra dengan sudut pandang masa kini saja. Dengan
begitu para sastrawan perlunya mengidentifikasi dari sudutpandang masa lalu
sesuai dengan kebutuhan gaya dan gerakan sastra pada masa kini.[12]
KESIMPULAN
Dengan demikian, sejarah
sastra yang merupakan sebuah bagian dari budaya Jawa ini juga sebagai suatu
modifikasi yang telah diterima dan menjadi suatu karya sastra yang berawal mula
dari adopsi adopsi budaya budaya sebelumnya. Sejarah sastra Jawa juga bisa
diketahui bahwasanya di dalamnya mencakup adanya konsep-konsep penting yang
tentunya tidak dapat terpisahkan dari sastra Jawa itu sendiri. Kepentingan
konsep didalam sastra Jawa yang mana konsep-konsep penting tersebut berisikan
tentang ilmu sastra itu sendiri, teori sastra, dan juga konsep dari sastra Jawa
tersebut. Sehingga dengan melalui artikel ini kita juga bisa mengetahui dua
konsep penting dalam menelusuri sastra Jawa yaitu bisa dengan menggunakan
konsep numetik dan juga menggunakan konsep reseptif yang mana konsep numetik
didasarkan kepada pengarang dari sastra tersebut dan konsep reseptif didasarkan
dari suatu karya sastra yang sudah ada sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ajisman,
A., Efrianto, E., Marbun, F., Maryadi, S., Rismadona, R., Refisrul, R., ...
& Yulisman, Y. (2017). Jurnal penelitian sejarah dan budaya, vol. 3
no. 1, Juni 2017. Jurnal Penelitian Sejarah dan budaya BPNB Sumatera Barat,
3(1),
Endraswara,
S. (2022). Teori Sastra Terbaru Perspektif Transdisipliner. ENGGANG: Jurnal
Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, 2(2).
Kusuma,
A. R. (2023). Simbol dan Icon Kebudayaan Baru Masyarakat Konsumerisme sebagai
Metafor dalam Karya Seni Lukis. IKONIK: Jurnal Seni dan Desain, 5(1).
Mustopa,
H. (2021). Serat Wulangreh: Akulturasi Agama dan Budaya Lokal (Vol. 1). Zakimu.
Com.
Pradopo,
R. D. (2021). Teori Kritik Dan Penerapannya Dalam Sastra Indonesia Modern. UGM
PRESS.
Santosa,
D. H. (2018). Pendampingan pengembangan potensi bidang bahasa, seni sastra, dan
seni pertunjukan Jawa di Desa Beji Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul
menuju desa berbudaya Jawa. Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian Kepada
Masyarakat, 1(1).
Siswanto,
W. (2008). Pengantar Teori Sastra. Grasindo.
Suarta
M, Adhi. K.D (2014). Teori Sastra. PT Raja Grafindo Persada.
Sudira,
P., & Astuti, K. S. (2021). Transformasi Digital Dalam Penelitian Seni. ISoLEC
Proceedings, 5(1).
W.
Affendy, Suwardi. Diktat Sejarah Sastra Jawa. (Fakultas Bahasa dan Seni,
Universitas Negeri Yogyakarta).
Wicaksono,
A. (2017). Pengkajian Prosa Fiksi (Edisi Revisi). Garudhawaca.
Zustiyantoro,
D., Widodo, W., Safitri, R. N., & Wahyuni, M. (2020). Pengembangan Novelet
Berbahasa Jawa Bertema Sejarah Semarang untuk Pembelajaran Sastra Jawa
SMA/Sederajat. Piwulang: Jurnal Pendidikan Bahasa Jawa, 8(2),
[1] Endraswara, S. (2022). Teori Sastra Terbaru Perspektif
Transdisipliner. ENGGANG: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan
Budaya, 2(2), 122-145.
[2] Santosa, D. H. (2018). Pendampingan pengembangan potensi
bidang bahasa, seni sastra, dan seni pertunjukan Jawa di Desa Beji Kecamatan
Ngawen Kabupaten Gunungkidul menuju desa berbudaya Jawa. Bakti Budaya:
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(1), 18-29.
[3] W.
Affendy, Suwardi. Diktat Sejarah Sastra Jawa. (Fakultas Bahasa dan Seni,
Universitas Negeri Yogyakarta). Hlm 4
[4] Zustiyantoro, D., Widodo, W., Safitri, R. N., & Wahyuni,
M. (2020). Pengembangan Novelet Berbahasa Jawa Bertema Sejarah Semarang untuk
Pembelajaran Sastra Jawa SMA/Sederajat. Piwulang: Jurnal Pendidikan
Bahasa Jawa, 8(2), 134-147.
[5] Ajisman, A., Efrianto, E., Marbun, F., Maryadi, S.,
Rismadona, R., Refisrul, R., ... & Yulisman, Y. (2017). Jurnal penelitian
sejarah dan budaya, vol. 3 no. 1, Juni 2017. Jurnal Penelitian Sejarah
dan budaya BPNB Sumatera Barat, 3(1), 601-748.
[6] Mustopa, H. (2021). Serat Wulangreh: Akulturasi Agama
dan Budaya Lokal (Vol. 1). zakimu. com.
[8] Siswanto, W. (2008). Pengantar teori sastra.
Grasindo. Hlm 19
[9] W. Affendy, Suwardi.
Diktat Sejarah Sastra Jawa,... hlm 5
[10] Pradopo, R. D. (2021). Teori kritik dan penerapannya
dalam sastra Indonesia modern. UGM PRESS. Hlm 21
[11] Suarta M, Adhi. K.D
(2014). Teori Sastra. PT Raja Grafindo Persada. Hlm 29
[12] Wicaksono, A. (2017). Pengkajian prosa fiksi (Edisi
revisi). Garudhawaca. Hlm 24
Komentar
Posting Komentar