Siklus Slametan Kematian

 

Peta Kajian Islam Jawa, mereview buku karangan Clifford Geertz yang berjudul “Religion Of Java”

Siklus Slametan Kematian

Dalam kehidupan masyarakat Jawa ketika terjadi kematian dalam keluarga, hal yang harus yang harus dilakukan pertama adalah memanggil seorang modin. Pihak keluarga memanggil modin untuk membantu mengurus dan menuntun jenazah mulai dari memandikan, mengkafani, dan proses dalam pemakaman. Setelah itu, perwakilan keluarga memberikan berita kematian pada daerah sekitar apabila keluarga tersebut mengalami kematian. Biasanya masyarakat Jawa memberitakan kematian tersebut di mimbar masjid atau musola terdekat. Jika kematian yang terjadi diwaktu sore atau malam hari, maka proses pemakaman yang dilakukan akan dilakukan besok paginya, dan ketika kematian di pagi hari maka pada waktu siang nya harus sudah dimakamkam.

Pada umumnya masyarakat Jawa melakukan pemakaman kematian dengan proses yang cepat. Seperti, ketika seorang meninggal pada waktu pagi sekitar pukul jam 10, maka pada tengah hari pemakaman akan dilakukan. Jika seorang meninggal di jam yang sore keesokan paginya akan segera dimakamkan. Terdapat sebuah pertanyaan mengapa ketika ada seorang yang meninggal dimakamkan dengan cepat atau terburu-buru? sebagian masyarakat menjawab ketika seorang yang telah meninggal tidak segera dimakamkan dikhawatirkan ruhnya tidak tenang karena masih berada disekitar rumah dan masih dapat melihat kondisi keluarga yang masih berduka, ada yang menjawab untuk menghindari roh dari orang yang meninggal agar tidak berkeliaran sehingga roh nya mendapatkan tempat yang layak dalam liang lahat.

Ketika masyarakat mendengar terdapat berita kematian, kesemuanya akan segera meninggalkan aktifitas yang dilakukan untuk segera datang ke keluarga yang mengalami kematian. Begitupun yang terjadi dalam kantor kerja, ketika ada berita kematian, maka kesemuanya akan segera meninggalkan pekerjaan dan mengunjungi pihak yang mengalami kematian. Biasanya para wanita ketika datang ke keluarga yang mengalami kematian dengan membawa beras dan berdatangan untuk mengucapkan rasa belasungkawa terhadap keluarga yang ditinggalkan serta memberikan nasihat ketenangan dan kesabaran agar keluarga mengiklankannyaSebagian lelaki membawa alat pembuat nisan, papan untuk liang lahat, dan usungan untuk mengangkat jenazah ke pemakaman, selebihnya lelaki yang ada untuk datang berbela sungkawa dengan keluarga yang terjadi kematian tersebut.

Saat modin sudah sampai ia langsung membuka pakaian yang dikenakan mayat tersebut, memberi kain yang longgar pada bagian kemaluan mayat, dan mengikat rahang mayat ke atas sehingga mulutnya tidak terbuka, serta mengikat kedua kaki mayat tersebut. Kemudian mayat tersebut akan dimandikan dengan arahan modin oleh keluarga dan kerabat dekat mayat tersebut. Posisi yang dilakukan dalam pemandian mayat ini dengan keluarga atau kerabat memangku mayat dalam pangkuannya sampai air yang digunakan membasahi pakaian mereka. Pemandian mayat dilakukan didepan rumah dengan ditutup kain melingkar yang dikaitkan dengan bambu. Pemandian dimulai dari modin yang menyiramkan pertama setelah itu, diikuti oleh pihak keluarga secara bergantian.

Setelah selesai memandikan maka setiap lubang yang terdapat dalam tubuh mayat ditutup dengan kapas. Tubuhnya di ikat dalam tiga bagian yaitu pinggang, kepala, dan kaki. Kemudian mayat akan diletakkan di usung an bambu yang ditutup dengan kain dengan memberikan bunga yang melingkar diatasnya. Setelah siap maka pihak dari keluarga akan disuruh untuk membungkuk bolak-balik di bawahnya selama tiga kali, hal ini dilakukan sebagai gambaran bahwa mereka telah ikhlas akan kepergian mayat tersebut. Ketika mayat siap untuk dimakamkan sebelumnya terdapat kendi yang dipecahkan didepan jalan sebagai wujud iklas bagi keluarga yang ditinggalkan. Setelah itu mayat siap untuk diberangkatkan ke pemakaman yang di usung oleh kaum laki-laki dan kaum wanita berada dirumah.

Setelah proses pemakaman selesai, orang-orang kembali kerumah untuk melanjutkan pekerjaan rumah, namun sebagian ada yang tetap berada di rumah keluarga yang mengalami kematian, terutama tetangga dekat dan kerabat. Kemudian dilakukan slametan kematian yang terdapat makanan kue kecil yang disebut dengan apem, dengan beberapa makanan dari beras dengan bentuk bulat dua tumpeng. Makna dari makanan yang disiapkan adalah makanan dari beras yang bundar sebagai gambaran ikhlas dari keluarga yang ditinggal, dan tumpeng menggambarkan bahwa setiap kehidupan ada dua sisi yaitu hidup dan kematian.

Slametan kematian seperti ini terus di lakukan hingga hari ketiga, ketujuh, dan hari ke 40 setelah almarhum meninggal, serta sampai dengan hari ke 100, peringatan tahun pertama, peringatan tahun kedua kematian, dan hari ke 1000 setelah almarhum meninggal. Pada slametan yang ke 1000 hari sebagai slametan kematian yang terakhir bisanya dilakukan dengan slametan yang mewah dengan menyembelih angsa, bebek, kambing, ataupun sapi. Ketika anak dari keluarga sudah punya rumah sendiri, maka setiap slametan anak tersebut akan melakukan acara slametan yang sama secara bergantian dengan keluarga lainnya.

Terdapat beberapa alasan ketiga terjadi kematian dalam keluarga diharapkan tidak ada tangisan yang menjadi-jadi. Memang sudah menjadi hal yang terasa berat ketika seorang ditinggalkan oleh salah satu dari keluarga mereka, namun yang diharapkan tidaklah berlarut-larut dalam kesedihan. Semua orang menyadari bahwa ditinggalkan untuk selamanya memang berat, namun alasan ini sebagai gambaran bahwa ketika keluarga yang ditinggal terus meneteskan air mata, maka jenazah akan merasa bingung sehingga tidak kuasa untuk meninggalkan rumah tersebut. Terdapat pula alasan lain yang mengatakan bahwa ketika keluarga yang ditinggalkan terus menangis meneteskan air mata, maka sang mayat akan merasa gelap untuk mendapatkan jalannya.

Di masyarakat mojokuto terdapat tiga pengertian yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat mengenai kehidupan sesudah mati. Konsep yang pertama diyakini sebagai adanya balasan dari perbuatan, jasa, dan perilaku semasa hidupnya dahulu di balaskan diakhirat. Konsep kepercayaan yang seperti ini sangat melekat dikalangan santri. Khususnya mereka mempercayai adanya neraka, surga, dan hari kiamat nantinya. Konsep yang kedua terdapat dikalangan abangan adalah mereka mempercayai bahwa ketika seorang telah meninggal, maka dari kepribadian dan sifat orang tersebut akan hilang dan yang tersisa hanyalah debu. Konsep yang ketiga sebagauan mempercayai konsep ini, namun tidak dipercayai oleh kalangan santri yaitu setelah kematian adanya proses reinkarnasi yang dipercayai ketika seorang telah meninggal, lalu jiwanya masuk dalam embrio untuk dilahirkan kembali. Konsep yang ketiga ini sebagian masyarakat menyebutnya dengan hal yang bid’ah karena seperti kurang dapat dipercaya atau kurang masuk akal.

Dengan demikian, siklus slametan kematian yang ada dalam masyarakat Jawa dimulai dari pemanggilan Modin untuk membantu jenazah untuk dimandikan, dikafani, dan di berangkatkan ke pemakaman. Setelah itu terdapat slametan yang rutin dilakukan dimulai sejak hari pertama kematian, hari ketiga, ketujuh, ke 40 hari, hari ke 100, peringatan dalam satu tahun pertama atau orang Jawa biasa menyebutnya mendak pisan, peringatan tahun kedua atau mendak pindu. dan slametan yang terakhir hari ke 1000. Kesemuanya dilakukan dengan harapan kirim do’a dah tahlil untuk seorang yang telah meninggal. Dalam penyelenggaraan slametan kematian yang dilakukan terdapat hidangan makanan khusunya terdapat roti putih bundar yang berasal dari beras ketan yaitu apem dan berkat yang nantinya akan dibawa pulang oleh tamu yang diundang dalam slametan tersebut.

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendekatan Ma’na Cum Maghza

Pendidikan Generasi Muda

Pemikiran Nurcholish Madjid Terhadap Politik Indonesia