Slametan Penanggalan, Slametan Desa, dan Slametan Selingan
Peta Kajian Islam Jawa, mereview buku karangan Clifford Geertz yang berjudul “Religion Of Java”
Wakhidatus Zahro’un Nihlah
Siklus Slametan Tahunan (Slametan Penanggalan, Slametan Desa,
dan Slametan Selingan)
Orang Jawa
merasa memiliki kewajiban memperingati waktu suci atau peristiwa yang berharga dengan
cara yang baik dengan mengadakan slametan. Masyarakat Jawa mempercayai
perantara slametan yang dilakukan akan menyampaikan doa dan harapan yang
di inginkan. Terdapat slametan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa
sesuai dengan penanggalan yang telah ditentukan. Slametan yang dilakukan
masyarakat Jawa antara lain; pada tanggal satu suro, slametan ini lebih
menonjol kepada agama budha dari pada masyarakat yang beragama Islam, slametan
ini banyak dilakukan oleh orang yang anti-Islam. Slametan pada tanggal
10 Suro, hal ini dilakukan dalam rangka untuk memperingati hari dimana
Hasan dan Husain keduanya merupakan cucu dari nabi Muhammad Saw.
Kejadian Hasan
dan Husain diceritakan pada masa nabi Muhammad akan berperang dengan kaum
kafir, keduanya datang dari Arab dengan membawa beras, namun diperjalanan kuda
dari musuh menendang beras yang dibawa hingga terpental ke daerah sungai
sekitar pasir, pada akhirnya berasnya bercampur dengan pasir. Melihat kejadian
tersebut ketika slametan 10 suro ini menyiapkan dua bubur dan terdapat
pasir juga. Beberapa anggapan mengatakan hal ini berawal dari kebiasaan kaum Syi’ah,
namum seiring bergantinya waktu terdapat masyarakat yang melakukan slametan
seperti ini walaupun memang jarang dilakukan.
Slametan tanggal 12 Mulud, Slametan ini dilakukan dalam rangka
memperingati hari lahir dari nabi Muhammad Saw. slametan ini biasanya
disebut sebagai slametan muludan dalam masyarakat. Dalam mengadakan slametan
mauludan ini termasuk dalam slametan yang rutin dilakukan setiap
tahunnya. Slametan 27 Rajab, slametan ini dilakukan dalam rangka
memperingati perjalanan yang dilakukan oleh nabi Muhammad dalam waktu semalam
untuk bertemu dengan Allah. Slametan ini dalam masyarakat disebut dengan
slametan rejeban. Sama halnya dengan slametan mauludan, slametan rejeban
ini rutin dilakukan setiap tahunnya. Namun, tidak semua masyarakat memahami
slametan keduanya ini, kalangan yang bukan santri biasanya tidak paham dengan
slametan mauludan dan slametan rejeban. Slametan tanggal 29 Ruwah, slametan
ini dilakukan masyarakat dalam rangka mengirimkan doa khususnya bagi yang
salah satu dari keluarga telah meninggal, terdapat hidangan yang disediakan
dari beras, ketan, dan apem, dalam masyarakat slametan ini
disebabkan dengan megengan.
Slametan pada tanggal 21, 23, 27, dan 29 di bulan Pasa atau puasa
ramadhan, slametan ini dilakukan masyarakat pada salah satu tanggal tersebut. Slametan
ini disebut sebagai slametan maleman. Slametan tanggal 1 Syawal, slametan
ini dilakukan untuk mengakhiri hari berpuasa, terdapat hidangan spesial yang
disiapkan yaitu nasi kuning dan telur. Slametan tanggal 7 Syawal, dalam
masyarakat slametan ini disebabkan dengan kupatan, kupatan
dilakukan pada waktu pagi pukul 6 sampai pukul tujuh, hal ini dilakukan dengan
menyiapkan ketupat dan sayur atau lauk untuk memakannya bersama dengan tetangga
dan keluarga lainnya. Slametan pada tanggal 10 besar, slametan
ini dilakukan untuk memperingati hari nabi Ibrahim mengorbankan anaknya Ismail
pada masa itu, kemudian dalam kalangan masyarakat Islam disebut dengan slametan
dino besar yang dilakukan dengan menyembelih kambing, sapi, atau kerbau.
Selain slametan
penanggalan yang dilakukan terdapat slametan di daerah Mojukuto
terdapat slametan yang dilakukan pada musim padi, slametan ini
dilakukan ketika seorang petani ingin menanam padi, kemudian petani mendatangi
orang yang pintar dalam hitungan numerolugi atau petungan untuk
menentukan hari yang baik dalam melakukan pertanian. Sebelum petani menaman
padi, ia menyiapkan slametan untuk pertanian yang akan dilakukan dengan
mengadakan di sawah dengan hidangan tahun telah disiapkan, ketika seorang
melewati jalan tersebut secara langsung diajak ikut serta dalam slametan
tersebut. Setelah itu, di malam hari yang dilakukan slametan dirumah
sang petani dengan mengundang tetangga sekitarnya. Slametan ini
dilakukan dengan harapan dari petani untuk memohon kedap Tuhan agar tanaman
padi khususnya yang ditanam akan menghasilkan panen yang memuaskan dengan hasil
yang besar dan tidak mengalami kerugian. Namun, seiring bergantinya waktu slametan
ini sudah jarang dilakukan.
Selanjutnya Slametan
bersih desa, slametan bersih desa dilakukan dengan tujuan untuk
membersihkan desa tersebut dari gangguan makhluk halus, slametan ini
dikhususkan untuk danyang desa ( penjaga desa tersebut ). Terdapat
beberapa hidangan yang disediakan seperti ayam utuh, dan makanan lainnya. Slametan
ini dilakukan di tempat terakhir atau makam dari danyang desa, atau jika
makan danyang desa tidak ditemukan, maka slametan bersih desa
bisa dilakukan di balai desa, di mushola atau dirumah kepala desa. Ketika dalam
desa tersebut memiliki kalangan santri yang banyak slametan ini
dilakukan dengan berdoa bersama agar desa tersebut menjadi aman dan terhindar
dari suatu hal yang tidak diinginkan. Hidangan yang disiapkan untuk slametan
ini berasal dari setiap keluarga dalam desa tersebut harus menyiapkan hidangan
dan setiap anggota keluarga yang telah dewasa harus mengikuti slametan
tersebut.
Setiap desa
memiliki cara slametan bersih desa yang berbeda, hal ini diselaraskan
dengan danyang desa. Setiap desa memiliki danyang desa yang tidak
sama m terdapat danyang desa yang lembut, terdapat danyang
desa yang agak keras, dan terdapat danyang desa yang saleh.
Seperti yang dilakukan di daerah Mojukuto slametan bersih desa ini
dilakukan dengan menampilkan beberapa hiburan seperti jaranan atau tayuban. Hal
ini dilakukan karena pada masyarakat Mojukuto danyang desanya seorang
yang agak bajingan, oleh karena itu, bersih desa di Mojukuto diiringi dengan
hiburan jaranan atau tayuban sebagai upaya untuk menyenangkan danyang desa tersebut
yang disebut mbah jenggot oleh masyarakat Mojukuto.
Berbeda dengan
daerah lain yang mana daerah kota bagian pinggir slametan bersih desa
yang dilakukan dengan acara yang lebih lembut. Hal ini dilakukan karena
masyarakat mempercayai bahwa danyang desanya seorang santri yang saleh.
Sehingga slametan bersih desa yang dilakukan dengan membaca doa-doa
bersama, dan melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Slametan bersih desa yang
dilakukan memiliki beberapa tujuan, menurut modin, slametan bersih desa
dilakukan untuk mengharapkan bahwa desa tersebut manjadi desa yang aman dan
tentram, disisi lain mengharapkan dari kesejahteraan masyarakat desa tersebut,
dan dikalangan abangan bersih desa ini ditujukan untuk danyang desa
(penjaga desa tersebut).
Terakhir slametan
selingan, slametan ini jarang dilakukan tidak seperti slametan
menurut penanggalan dan slametan bersih desa yang biasanya dilakukan di
bulan Selo. Slametan Selingan ini dilakukan untuk memperingati suatu
kejadian atau peristiwa yang dipercaya jarang terjadi dan diharapkan tidak akan
terjadi lagi. Adapun beberapa kejadian atau peristiwa yang dilakukan dengan
slametan selingan antara lain; pindah rumah, ganti nama, pengobatan penyakit
tertentu, mimpi buruk, menolak atau meminta hujan. Slametan Selingan ini
terkadang juga dilakukan bagi seorang yang merasa dirinya salah berguru kepada
orang lain, serta ada yang melakukan slametan selingan ini dalam rangka
memperkuat hubungan pernikahan agar menghindari terjadinya perceraian.
Dengan
demikian, dalam kehidupan masyarakat Jawa terdapat beberapa slametan
yang rutin dilakukan setiap tahunnya menurut penanggalan yang telah ditetapkan.
Slametan tersebut antara lain; Slametan satu suro, Slametan
sepuluh suro, slametan mauludan, slametan rejeban,
slametan maleman, slametan satu Syawal, slametan kupatan,
dan slametan hari besar. Terdapat pula masyarakat yang melakukan slametan
untuk bersih desa yang disesuaikan dengan danyang desanya, dan yang terakhir slametan
selingan yang jarang dilakukan karena slametan selingan hanya untuk
peristiwa atau kejadian tertentu saja.
Komentar
Posting Komentar